Museum Marsinah Dibangun Tanpa Dana APBN dan APBD
Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk dibangun dengan dana gotong royong KSPSI, tanpa APBN/APBD.

Pembangunan Museum Marsinah dan rumah singgah di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, menelan biaya hampir Rp3,8 miliar dan disebut tidak memakai dana APBN maupun APBD. Biaya pembangunan tersebut diklaim sepenuhnya berasal dari gotong royong keluarga besar KSPSI AGN.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menegaskan bahwa proyek ini dibiayai dari dana internal organisasi dan dukungan jaringan koperasi buruh. Menurut dia, kekuatan ekonomi koperasi menjadi fondasi utama yang memungkinkan pembangunan museum dan rumah singgah itu berjalan tanpa campur tangan anggaran pemerintah.
Andi Gani menyampaikan bahwa total aset koperasi buruh di lingkungan KSPSI AGN saat ini terus berkembang dan telah mencapai Rp2,1 triliun. Ia juga menyebut ada koperasi buruh dengan aset ratusan miliar rupiah, yang menunjukkan basis ekonomi organisasi tersebut cukup kuat untuk menopang berbagai kegiatan sosial dan simbolik.
Pembangunan Museum Marsinah disebut sebagai bentuk penghormatan kepada Marsinah, sosok yang dikenal sebagai pejuang buruh Indonesia. Karena itu, museum tersebut dibangun secara gotong royong oleh keluarga besar KSPSI di berbagai daerah sebagai bagian dari penghargaan atas perjuangan almarhumah.
Setelah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada hari yang sama, Museum Marsinah akan dibuka untuk umum secara gratis setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Pengelolaan museum akan dilakukan oleh yayasan yang dibentuk KSPSI Jawa Timur dengan melibatkan keluarga Marsinah. Dalam rangka peresmian itu, Presiden juga berziarah ke makam Marsinah sebagai bentuk penghormatan negara terhadap perjuangan buruh.
Sudut pandang lain
Pernyataan bahwa museum dibangun tanpa APBN dan APBD menempatkan proyek ini sebagai contoh pembiayaan berbasis organisasi pekerja, bukan proyek negara. Hal ini memperlihatkan peran serikat buruh yang tidak hanya bergerak dalam advokasi, tetapi juga mampu membangun fasilitas memorial dan edukatif dari sumber daya internal.
Dari sisi sosial, pembukaan museum secara gratis berpotensi memperluas akses publik untuk mengenal sejarah perjuangan buruh, terutama generasi muda. Di sisi lain, pengelolaan oleh yayasan dan pelibatan keluarga Marsinah menjadi penting agar narasi sejarah tetap terjaga dan tidak semata menjadi simbol seremonial.
Lihat versi asli dari sumber
Pembangunan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, senilai Rp3,8 miliar disebut tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, anggaran untuk membangun Museum Marsinah itu sepenuhnya berasal dari dana gotong royong keluarga besar KSPSI AGN.
Andi Gani mengatakan kekuatan ekonomi koperasi buruh menjadi fondasi utama pembangunan Museum Marsinah dan Rumah Singgah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Total anggaran museum ini mencapai hampir Rp3,8 miliar. Saya pastikan tidak ada dana pemerintah, tidak ada APBN maupun APBD. Semua berasal dari gotong royong keluarga besar KSPSI AGN," kata Andi Gani saat peresmian Museum Marsinah dikutip dari detik, Sabtu (16/5)
Andi Gani menjelaskan kekuatan ekonomi koperasi buruh KSPSI AGN saat ini terus berkembang. Ia mengatakan total aset koperasi yang dimiliki jaringan pimpinan unit kerja KSPSI bahkan telah mencapai Rp2,1 triliun.
"KSPSI AGN memiliki basis koperasi yang sangat kuat. Total aset koperasi buruh kami sudah mencapai Rp2,1 triliun. Ada koperasi buruh yang asetnya Rp750 miliar, ada yang Rp300 miliar," ujarnya
Lebih lanjut, Andi Gani menjelaskan pembangunan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan Marsinah sebagai simbol perjuangan kaum buruh Indonesia.
"Ini bentuk penghormatan kami kepada Ibu Marsinah sebagai pejuang buruh. Karena itu museum ini dibangun secara gotong royong oleh keluarga besar KSPSI di seluruh Indonesia," ujarnya.
Andi Gani menambahkan setelah diresmikan Presiden Prabowo pada hari ini, Museum Ibu Marsinah akan dibuka untuk umum secara gratis setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.
Pengelolaannya akan dilakukan yayasan yang dibentuk KSPSI Jawa Timur, serta melibatkan keluarga Marsinah.
"Tadi sudah diresmikan Bapak Presiden Prabowo Subianto, sekaligus berziarah ke makam Marsinah. Ini bentuk penghormatan negara yang luar biasa kepada perjuangan buruh dan kepada Ibu Marsinah," katanya.
Lengkapnya baca di sini .
Berita terkait

Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, menghormati perjuangan buruh. Museum ini akan dikelola keluarga Marsinah.

Museum Marsinah Dibangun Rp 3,8 Miliar Tanpa APBN
Andi Gani Nena Wea menegaskan bahwa pembangunan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur tidak menggunakan dan APBN.

Prabowo Resmikan Koperasi Merah Putih dan Serukan Mental Bangsa Kuat
Prabowo menegaskan Indonesia bukan bangsa yang lemah. Ia meresmikan 1.601 Koperasi Merah Putih dan menargetkan 30 ribu koperasi tahun ini.

Prabowo Candai Verrell Bramasta Saat Peresmian Koperasi di Nganjuk
Momen lucu terjadi ketika Presiden Prabowo Subianto memberi sambutan di acara peresmian operasionalisasi 1.061 koperasi desa/kelurahan Merah Putih.

Pemerintah Siapkan Inpres Operasional Kopdes Merah Putih
Aturan operasional koperasi desa kelurahan Kopdes merah putih akan terbit. Pemerintah menyiapkan penerbitan instruksi presiden inpres .

Polda Sumsel Gelar Bakti Religi Jelang Hari Bhayangkara
Polda Sumsel terus memperkuat komitmen menjaga keberagaman, toleransi, dan stabilitas sosial melalui pelaksanaan bakti religi untuk menyambut Hari Bhayangkara.