Aset perbankan syariah tembus Rp 1.061 triliun
OJK umumkan industri perbankan syariah Indonesia tumbuh solid dengan aset dua digit, didukung implementasi Roadmap RP3SI dan kepercayaan masyarakat.
/data/photo/2026/02/10/698b0b2d4ecd2.jpg)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan kinerja yang solid, tangguh, dan berkelanjutan. Hingga Maret 2026, aset perbankan syariah tercatat tumbuh 10,49 persen secara tahunan menjadi Rp 1.061,61 triliun, didorong oleh meningkatnya fungsi intermediasi dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa pembiayaan perbankan syariah juga naik 9,82 persen year-on-year menjadi Rp 716,40 triliun. Pertumbuhan ini disebut lebih tinggi dibandingkan laju pembiayaan nasional, seiring dengan kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11,14 persen menjadi Rp 811,76 triliun. Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) pun terus membaik dan mencapai 87,65 persen, yang menunjukkan kontribusi perbankan syariah terhadap sektor riil semakin kuat.
Dari sisi kualitas aset, kinerja industri dinilai tetap terjaga. Rasio Non Performing Financing (NPF) gross berada di level 2,28 persen, sedangkan NPF net sebesar 0,87 persen. Menurut Dian, capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam transformasi dan penguatan industri perbankan syariah nasional yang mengacu pada Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023–2027. OJK juga menyebut implementasi roadmap yang dimulai sejak 2023 telah memberi dampak positif bagi pengembangan sektor ini.
Pada sisi struktur industri, saat ini sudah ada tiga bank syariah berskala besar yang masuk kelompok KBMI 2 dan 3. Tahun ini, OJK juga berharap lahir satu bank umum syariah baru hasil spin-off yang akan memperkuat struktur industri pada kelompok KBMI 2. Di sektor BPR Syariah, proses konsolidasi juga terus berjalan melalui penggabungan 21 BPR/BPR Syariah yang ditargetkan menjadi 9 entitas yang lebih kuat, efisien, dan berdaya saing.
OJK turut mendorong pengembangan produk dan model bisnis syariah melalui penerbitan sembilan pedoman produk serta POJK Nomor 4 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Produk Investasi Perbankan Syariah. Lembaga ini juga membentuk Komite Pengembangan Keuangan Syariah pada 2025 untuk mempercepat pengembangan keuangan syariah, termasuk melalui rekomendasi penyesuaian rasio utang berbasis bunga, fatwa kegiatan usaha bulion, dan dorongan penempatan dana pemerintah pada lembaga keuangan syariah. Di sisi lain, pembiayaan UMKM oleh industri perbankan syariah telah mencapai Rp 217,86 triliun, sementara inovasi seperti Cash Waqf Linked Deposit dan Shariah Restricted Investment Account mulai diimplementasikan di sejumlah bank syariah.
Sudut pandang lain
Pertumbuhan aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga menunjukkan perbankan syariah makin diterima sebagai alternatif pembiayaan dan simpanan yang kompetitif. Jika tren ini berlanjut, sektor ini berpotensi memperbesar kontribusi terhadap ekonomi riil, terutama lewat pembiayaan UMKM dan instrumen berbasis sosial-keuangan seperti wakaf produktif.
Namun, penguatan industri tetap bergantung pada konsolidasi kelembagaan, perluasan inovasi produk, dan konsistensi tata kelola. Tantangan ke depan adalah memastikan ekspansi aset diiringi efisiensi, kualitas pembiayaan yang terjaga, serta kemampuan bank syariah menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan karakteristik syariahnya.
Lihat versi asli dari sumber
JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan industri perbankan syariah tumbuh solid, resilien , dan berkelanjutan, didukung peningkatan fungsi intermediasi serta kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan bahwa hingga Maret 2026, industri perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan aset dua digit sebesar 10,49 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) atau sebesar Rp 1.061,61 triliun.
Sejalan dengan hal tersebut, pembiayaan perbankan syariah tumbuh sebesar 9,82 persen yoy menjadi Rp 716,40 triliun, atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional, didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11,14 persen yoy menjadi Rp 811,76 triliun.
Di sisi lain, rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai 87,65 persen, sejalan dengan semakin kuatnya kontribusi perbankan syariah terhadap sektor riil.
Kinerja industri juga tetap terjaga dengan kualitas pembiayaan yang baik, tecermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) Gross dan NPF Net yang masing-masing berada pada level 2,28 persen dan 0,87 persen. “Momentum pertumbuhan tersebut menjadi milestone penting dari upaya transformasi dan penguatan industri perbankan syariah nasional yang mengacu pada Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia ( RP3SI ) 2023–2027,” kata Dian dalam keterangan resmi, Sabtu (16/5/2026). Ia menambahkan, setelah diterbitkan pada 2023, RP3SI 2023-2027 telah memberikan dampak positif dalam pengembangan perbankan syariah nasional.
OJK secara konsisten mengawal implementasi RP3SI ini melalui berbagai langkah strategis bersama para pemangku kepentingan guna memperkuat transformasi dan daya saing perbankan syariah nasional.
Penguatan struktur perbankan syariah
Dian menjabarkan, dalam kaitan upaya memperkuat struktur dan ketahanan industri perbankan syariah, saat ini telah terdapat tiga bank syariah berskala besar yang mengisi posisi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 dan 3.
Pada tahun ini juga diharapkan terbentuk satu Bank Umum Syariah (BUS) baru hasil proses spin-off yang akan memperkuat struktur industri perbankan syariah nasional pada kelompok KBMI 2.
Sejalan dengan upaya tersebut, konsolidasi industri juga terus berlangsung pada sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Syariah melalui proses penggabungan terhadap 21 BPR/BPR Syariah yang ditargetkan menghasilkan 9 BPR Syariah yang lebih kuat, efisien, dan berdaya saing. "Berbagai langkah tersebut semakin memperkuat struktur industri perbankan syariah yang merupakan bentuk implementasi dari pilar pertama dalam RP3SI, yaitu Penguatan Struktur dan Ketahanan Industri Perbankan Syariah," imbuh dia.
Pengembangan produk perbankan syariah
Dian mengungkapkan, OJK terus mendorong pengembangan keunikan produk dan model bisnis syariah sebagai bentuk implementasi dari pilar tiga RP3SI, Penguatan Karakteristik Perbankan Syariah.
Hal tersebut direalisasikan melalui penerbitan sembilan pedoman produk perbankan syariah sebagai acuan standardisasi dan implementasi produk berbasis akad syariah dan POJK Nomor 4 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Produk Investasi Perbankan Syariah untuk mendukung pengembangan inovasi produk investasi berbasis syariah.
Lebih lanjut, OJK juga telah membentuk Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS) pada tahun 2025 untuk mengakselerasi pengembangan keuangan syariah dan antara lain melalui pengembangan keunikan produk syariah.
Dian menyebut, saat ini KPKS telah menerbitkan beberapa rekomendasi antara lain penyesuaian rasio utang berbasis bunga pada Daftar Efek Syariah, penerbitan Fatwa No. 166/DSN-MUI/II/2026 tentang Kegiatan Usaha Bulion, serta mendorong penempatan dana pemerintah pada lembaga keuangan syariah, Dian mengatakan pengembangan keunikan produk syariah ini menunjukkan progress yang positif, antara lain melalui realisasi Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) pada 9 BUS, 3 UUS, dan 9 BPR Syariah dengan total nilai proyek mencapai Rp 907,73 juta serta total penghimpunan dana sebesar Rp 22,76 miliar.
Selain itu, Shariah Restricted Investment Account (SRIA) telah diimplementasikan oleh 1 BUS dan 1 UUS dengan total nominal piloting mencapai Rp 1,35 triliun.
Pengembangan perbankan syariah juga dilakukan melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.
OJK bersama Bank Pembangunan Daerah dan pemerintah daerah telah menyelenggarakan berbagai workshop strategis untuk mendorong penguatan peran perbankan syariah terhadap perekonomian daerah serta perluasan akses layanan perbankan syariah.
Beberapa kegiatan digelar antara lain Workshop Peran Perbankan Syariah terhadap Perekonomian Daerah pada Oktober 2024 di Banda Aceh, dan Workshop Sinergi Perbankan Syariah dalam rangka Perluasan Akses Layanan Perbankan Syariah pada November 2025 di Surabaya.
Dian menegaskan bahwa dukungan perbankan syariah pada penguatan sektor riil dan pemberdayaan ekonomi masyarakat juga terus ditingkatkan melalui peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM, yang tecermin dari total penyaluran pembiayaan UMKM oleh industri perbankan syariah sebesar Rp 217,86 triliun.
Berbagai upaya tersebut telah dilakukan dalam rangka mendukung Peningkatan Kontribusi Perbankan Syariah dalam Perekonomian Nasional, sesuai dengan pilar keempat pada RP3SI.
Keterlibatan stakeholders sangat diperlukan dalam menyukseskan implementasi RP3SI.
Oleh karena itu, sejak 2023 OJK secara rutin menyelenggarakan Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah untuk memperkuat sinergi dan menyelaraskan arah pengembangan industri bersama para stakeholders .
"Di samping itu, OJK juga secara berkala menerbitkan Buku Laporan Pemantauan Implementasi RP3SI sebagai bentuk akuntabilitas, transparansi, dan tata kelola pengembangan perbankan syariah," tutup Dian.
Berita terkait

Aset perbankan syariah tembus Rp1.061 triliun
Pencapaian ini ditopang oleh kuatnya fungsi intermediasi dan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat.

MNC Finance Perluas Jaringan Pemasaran Lewat Gathering Agen
Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kemitraan sekaligus memperkuat sinergi

CFD Rasuna Said dihentikan sementara, kembali Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meniadakan sementara pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jalan HR Rasuna ...
/data/photo/2025/03/03/67c56db4f11bb.jpg)
Pelaku usaha minta pemerintah atasi biaya logistik yang mahal
Ketum Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran, Fera Umbara, keluhkan biaya logistik mahal ke Mendag Budi Santoso. Mencari solusi di tengah tantangan negara kepulauan.

Menteri UMKM Larang Kenaikan Biaya Layanan Marketplace
Menteri UMKM Maman Abdurrahman melarang marketplace atau platform penjualan online menaikkan biaya layanan sementara ini.

BRI Bukukan Kenaikan ROE dan ROA pada Triwulan I 2026
Ciptakan Nilai Tambah bagi Shareholder, BRI Catatkan Profitabilitas Solid dengan ROE dan ROA yang Meningkat per Triwulan I 2026