Live|
VIVAVersi JafmoNewsNegatif16 Mei 2026 pukul 18.19

Banyak Keluarga Pasien Anak Masih Kekurangan Tempat Istirahat

Sebagian bahkan terpaksa tidur di selasar rumah sakit, masjid, hingga pom bensin demi tetap berada dekat dengan anak mereka yang tengah berjuang melawan penyakit kronis.

Banyak Keluarga Pasien Anak Masih Kekurangan Tempat Istirahat

Banyak keluarga pasien anak di Indonesia masih kesulitan mendapatkan tempat istirahat yang layak saat mendampingi anak menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan. Dalam sejumlah kasus, mereka terpaksa bermalam di selasar rumah sakit, masjid, hingga pom bensin agar tetap dekat dengan anak yang sedang menjalani perawatan penyakit kronis.

Kondisi ini disebut masih terjadi di berbagai daerah, terutama bagi keluarga pasien dari luar kota yang datang untuk pengobatan jangka panjang seperti kanker, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Data internal RS Kemenkes Surabaya mencatat sekitar 70 persen pasien anak berasal dari luar daerah, antara lain Banyuwangi, Jember, Madiun, hingga Madura. Sebagian keluarga bahkan harus menempuh perjalanan hingga 10 jam untuk mengakses layanan kesehatan bagi anak mereka.

Selain tekanan emosional karena kondisi anak, keluarga pasien juga menghadapi beban biaya hidup selama proses pengobatan. Dalam sebulan, kebutuhan akomodasi dan konsumsi disebut bisa mencapai Rp8,5 juta. Situasi itu pernah dialami Elfridus, orang tua pasien anak yang sempat tinggal di Rumah Singgah Denpasar saat mendampingi anaknya menjalani pengobatan leukemia.

Elfridus mengatakan, tantangan terberat bukan hanya biaya, tetapi juga rasa lelah dan kebingungan saat menjalani perawatan di kota yang jauh dari rumah. Ia menilai keberadaan rumah singgah sangat membantu karena menyediakan tempat beristirahat yang aman, nyaman, gratis, dan dekat dengan rumah sakit, sehingga keluarga dapat tetap memantau kondisi anak dengan lebih tenang.

Ketua Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC), Caroline Djajadiningrat, menegaskan bahwa rumah singgah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga sebagai ruang pemulihan emosional bagi anak dan keluarga. Menurutnya, suasana yang hangat seperti di rumah penting agar anak tetap bisa bermain, belajar, dan merasakan kehadiran keluarga selama masa pengobatan.

Sudut pandang lain

Persoalan tempat singgah bagi keluarga pasien anak menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan tidak berhenti pada tindakan medis, tetapi juga mencakup dukungan sosial selama perawatan jangka panjang. Bagi keluarga dari daerah jauh, biaya non-medis dapat menjadi beban besar yang berpotensi menghambat kepatuhan menjalani pengobatan.

Keberadaan rumah singgah dapat menjadi solusi transisional yang penting, terutama di sekitar rumah sakit rujukan. Namun, kebutuhan ini juga menandakan perlunya dukungan lebih luas dari pemerintah, rumah sakit, dan lembaga filantropi agar keluarga pasien tidak harus memilih antara bertahan dekat anak atau memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta, VIVA – Tidak semua keluarga pasien anak memiliki tempat layak untuk beristirahat saat mendampingi buah hati menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan. Sebagian bahkan terpaksa tidur di selasar rumah sakit, masjid, hingga pom bensin demi tetap berada dekat dengan anak mereka yang tengah berjuang melawan penyakit kronis.

Kondisi tersebut masih banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, terutama bagi keluarga pasien yang datang dari luar kota untuk menjalani pengobatan jangka panjang seperti kanker, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data internal RS Kemenkes Surabaya mencatat sekitar 70 persen pasien anak berasal dari luar daerah seperti Banyuwangi, Jember, Madiun, hingga Madura. Sebagian keluarga harus menempuh perjalanan hingga 10 jam demi mendapatkan layanan kesehatan bagi anak mereka.

Tak hanya menghadapi tekanan emosional akibat kondisi anak, keluarga pasien juga dibebani biaya hidup selama mendampingi pengobatan. Dalam sebulan, kebutuhan akomodasi dan konsumsi disebut bisa mencapai Rp8,5 juta.

Situasi tersebut pernah dialami Elfridus, salah satu orang tua pasien anak yang sempat tinggal di Rumah Singgah Denpasar saat mendampingi anaknya menjalani pengobatan leukemia.

“Yang paling berat bukan hanya soal biaya, tetapi juga rasa lelah dan kebingungan saat harus menjalani semuanya di kota yang jauh dari rumah,” ujar Elfridus, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 16 Mei 2026.

Ia mengaku keberadaan rumah singgah membantu keluarganya memiliki tempat beristirahat yang aman dan nyaman selama masa pengobatan anak.

“Dengan adanya Rumah Singgah yang nyaman, gratis, dan dekat dengan rumah sakit, kami bisa beristirahat dan tetap memantau kondisi anak setiap waktu, sehingga merasa lebih tenang selama proses pengobatan,” lanjutnya.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketua Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC), Caroline Djajadiningrat, mengatakan rumah singgah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga menjadi ruang pemulihan emosional bagi anak dan keluarga.

“Rumah Singgah bukan sekadar tempat tinggal sementara, tetapi ruang pemulihan yang menghadirkan rasa nyaman dan suasana hangat seperti di rumah. Kami ingin anak-anak tetap dapat bermain, belajar, dan merasakan kehadiran keluarga di sisi mereka karena hal tersebut sangat penting untuk menjaga kondisi emosional anak selama pengobatan,” kata Caroline.

Dirangkum dari VIVA · oleh Sumiyati

Berita terkait