Pelaku usaha minta pemerintah atasi biaya logistik yang mahal
Ketum Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran, Fera Umbara, keluhkan biaya logistik mahal ke Mendag Budi Santoso. Mencari solusi di tengah tantangan negara kepulauan.
/data/photo/2025/03/03/67c56db4f11bb.jpg)
Pelaku usaha meminta pemerintah segera menghadirkan solusi untuk menekan biaya logistik yang dinilai masih terlalu tinggi di Indonesia. Keluhan itu disampaikan Ketua Umum Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran Indonesia, Fera Umbara, dalam forum Ngobrol Produk Indonesia (Ngopi) UMKM yang turut dihadiri Menteri Perdagangan Budi Santoso di Kemayoran, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Fera mengatakan persoalan ongkos logistik menjadi salah satu penyebab harga pokok produksi produk lokal sulit bersaing. Ia menilai kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan membuat biaya distribusi barang antarpulau kerap membengkak. Karena itu, ia meminta penjelasan pemerintah mengenai langkah konkret agar harga produk domestik bisa lebih kompetitif di pasar.
Menanggapi hal tersebut, Budi Santoso mengakui biaya logistik di Indonesia memang mahal dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari karakter geografis kepulauan, ketergantungan pada impor bahan baku, hingga dampak krisis global dan kenaikan harga minyak. Ia menyebut persoalan ini sebagai pekerjaan rumah bersama, namun belum memaparkan solusi rinci dalam forum tersebut karena keterbatasan waktu. Budi kemudian mengajak para pelaku usaha untuk berdiskusi lebih lanjut di Kementerian Perdagangan.
Mahalnya logistik bukan persoalan baru. Tim Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) pada era Presiden Joko Widodo juga pernah menyoroti isu ini melalui upaya perbaikan tata kelola pelabuhan dan penguatan penerimaan negara bukan pajak. Salah satu langkah yang didorong adalah penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2024 tentang Perdagangan Antarpulau.
Aturan tersebut mewajibkan pelaku usaha melaporkan data perdagangan antarpulau atau manifest domestik. Menurut Pahala Nainggolan, salah satu penyebab biaya logistik antarpulau tinggi adalah ketimpangan muatan kapal, karena kapal kerap kembali ke daerah asal dalam kondisi kosong atau minim muatan. Dengan data perdagangan antarpulau yang terintegrasi, pemerintah diharapkan bisa memperkuat perencanaan, mengatur suplai antarwilayah, menekan kesenjangan harga, serta mencegah masuknya barang selundupan di dalam negeri.
Sudut pandang lain
Dari sisi kebijakan, isu biaya logistik menunjukkan bahwa daya saing produk dalam negeri tidak hanya ditentukan oleh kualitas barang, tetapi juga efisiensi rantai pasok dan distribusi. Pada negara kepulauan, biaya transportasi yang tinggi dapat memperlebar selisih harga antardaerah dan menekan pelaku UMKM yang marginnya terbatas.
Di sisi lain, dorongan untuk memperbaiki tata kelola perdagangan antarpulau menandakan perlunya data yang lebih akurat agar pemerintah bisa merancang intervensi yang tepat. Jika pelaporan muatan dan arus barang berjalan baik, kebijakan logistik berpotensi lebih terarah, sekaligus mengurangi pemborosan ongkos distribusi yang selama ini membebani pelaku usaha dan konsumen.
Lihat versi asli dari sumber
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran Indonesia Fera Umbara, meminta pemerintah menghadirkan solusi atas mahalnya biaya logistik di tanah air.
Fera mengeluhkan persoalan tingginya biaya logistik dalam Ngobrol Produk Indonesia (Ngopi) Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dihadiri Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan.
Fera mengatakan, pihaknya datang ke acara tersebut bersama Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) hingga Indonesian African Business Council.
“Saya mau tanya Pak, kita punya HPP (Harga Pokok Produksi) kan selalu kalah gitu ya. Karena kita kan negara kepulauan . Kalau biaya logistik kita mahal,” kata Fera di Kemayoran, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Pengusaha itu lalu menagih solusi dari pemerintah yang bisa menekan biaya logistik tanah air.
Menurutnya, biaya logistik menjadi salah satu kunci produk lokal bisa dijual dengan harga yang bersaing di pasaran.
“Ada solusi apa ya supaya maksudnya mungkin kita punya harga bisa lebih bersaing?” ujar Fera.
Menanggapi keluhan Fera, Busan mengakui biaya logistik tanah air mahal karena Indonesia merupakan negara kepulauan.
Menurut Busan, tidak mudah mencari solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Sekarang biaya logistik semakin mahal. Kita impor bahan baku, selain bahan bakunya sendiri juga naik. Karena faktor krisis global, faktor minyak, logistiknya juga naik,” kata Busan.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengakui masalah logistik menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.
Namun, Busan mengaku belum bisa menjelaskan jalan keluar atas persoalan tersebut di dalam forum karena keterbatasan waktu.
Ia lalu mengajak para pelaku usaha terkait untuk kembali datang ke Kementerian Perdagangan guna mendiskusikan masalah mahalnya biaya logistik.
“Tapi saya justru minta masukan dari ibu dan teman-teman semua. Karena kita bareng ya, permasalahan kita bareng. Ya nanti kita ketemu di kantor,” ucap Busan.
Masalah Lama
Mahalnya biaya logistik di Indonesia merupakan masalah lama yang pernah menjadi perhatian Tim Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK).
Tim itu dibentuk pada era kepemimpinan Presiden RI Ke-7, Joko Widodo (Jokowi).
Catatan Kompas.com, eks Koordinator Pelaksana Stranas PK Pahala Nainggolan, mengungkapkan pihaknya berupaya memperbaiki tata kelola pelabuhan dan penguatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Salah satunya dengan mendorong terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2024 tentang Perdagangan Antarpulau .
Permendag itu mewajibkan pengusaha melaporkan data perdagangan antarpulau barang (PAB) atau “manifest domestik”.
“Salah satunya adalah dengan mendorong kebijakan Manifest Domestik yang mewajibkan pelaku usaha untuk menyatakan daftar muatannya,” kata Pahala, Rabu (27/11/2024).
Mantan Government Financial Management Expert-Education Sector di World Bank itu menyebut, salah satu penyebab tingginya biaya logistik antarpulau karena ketimpangan muatan kapal.
Ia mencontohkan, sebagai pusat perdagangan di tanah air, Jakarta mendapatkan pasokan berbagai komoditas dari 16 daerah seperti Sumatera Utara, Sulawesi Utara, dan lainnya.
Komoditas itu dikirim menggunakan kapal dari pulau-pulau yang jauh dari Jakarta.
Namun, setelah muatan dibongkar di pelabuhan Jakarta, kapal-kapal itu kembali dalam kondisi kosong.
“Akibatnya, biaya logistik melambung karena saat kembali ke daerah asal, seringkali dalam kondisi kosong atau minim muatan,” ujar Pahala.
Menurutnya, dengan antar laporan data perdagangan antarpulau pemerintah bisa menyusun perencanaan, melakukan intervensi pasar, hingga mengawasi barang dan jasa.
Adapun data itu mencakup komoditas yang dijual, muatan kargo, pengangkutan barang penerima muatan, dan lainnya.
Jika data itu bisa menjadi satu, pemerintah bisa menekan kesenjangan harga, mengatur suplai antardaerah, hingga menghapus hambatan perdagangan antarpulau.
“Mencegah masuk dan beredarnya barang selundupan di dalam negeri,” kata eks Deputi Pencegahan dan Monitoring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.
Berita terkait

Pemerintah Siapkan Tol Menuju Pelabuhan Tanjung Carat
Pemerintah menggarap pembangunan jalan tol penghubung menuju Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang direncanakan dimulai proyeknya pada sisa 2026.
Puan Soroti Tekanan Rupiah di Tengah Konflik Timur Tengah
Puan menjelaskan bahwa RI kini berada dalam tekanan, yaitu melemahnya nilai tukar rupiah imbas konflik geopolitik. Salah satu penyebab utamanya penutupan Selat Hormuz.
/data/photo/2026/04/13/69dc5343cd811.jpeg)
HIMKI Soroti Kesenjangan Industri Indonesia dan China
Indonesia dan China: Studi banding HIMKI menyoroti mengapa industri China melaju pesat. Inilah seruan untuk memadukan kreativitas Indonesia dengan industrialisasi.

CFD Rasuna Said dihentikan sementara, kembali Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meniadakan sementara pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jalan HR Rasuna ...
Kenaikan Harga Energi Global Dorong BBM dan LPG Naik
Komaidi mengatakan, konflik geopolitik, gangguan supply chain & distribusi energi serta naiknya kebutuhan energi di Asia, telah menciptakan tekanan besar ke pasar global.

Menteri UMKM Larang Kenaikan Biaya Layanan Marketplace
Menteri UMKM Maman Abdurrahman melarang marketplace atau platform penjualan online menaikkan biaya layanan sementara ini.