Live|
VIVAVersi JafmoNewsPositif13 Mei 2026 pukul 22.47

Sampah Anorganik Bisa Ditukar Voucher Belanja di Waste Station

Salah satu tren yang mulai berkembang adalah konsep pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan aktivitas harian masyarakat, termasuk saat belanja kebutuhan rumah tangga.

Sampah Anorganik Bisa Ditukar Voucher Belanja di Waste Station

Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah mulai diarahkan menjadi kebiasaan yang lebih praktis dan dekat dengan aktivitas harian. Kini, sampah anorganik dari rumah tidak hanya bisa disetorkan untuk didaur ulang, tetapi juga dapat menghasilkan poin yang kemudian ditukar menjadi voucher belanja. Konsep ini dihadirkan melalui fasilitas Waste Station yang ditempatkan di sejumlah gerai ritel di Jakarta, Bandung, dan Bali.

Fasilitas tersebut memungkinkan warga membawa sampah anorganik yang sudah dipilah, seperti plastik, kertas, dan kemasan bekas, tanpa harus datang ke pusat daur ulang khusus. Dengan begitu, proses pengumpulan sampah menjadi lebih mudah dijangkau karena bisa dilakukan bersamaan dengan kegiatan berbelanja kebutuhan rumah tangga. Sistem yang digunakan juga terhubung secara digital, sehingga pengguna cukup memindai QR code saat melakukan penyetoran sampah.

Poin yang terkumpul dari aktivitas itu dapat digunakan untuk memperoleh voucher belanja. Skema ini dinilai menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat lebih konsisten memilah sampah dari rumah, karena ada manfaat langsung yang dirasakan dari kebiasaan tersebut. Pendekatan semacam ini juga dianggap lebih efektif untuk membiasakan partisipasi publik dalam pengelolaan sampah sehari-hari.

Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen, Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Ujang Solihin Sidik, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi Nestlé Indonesia dan Alfamart dalam menghadirkan Waste Station. Menurut dia, kerja sama lintas sektor seperti itu penting untuk memperkuat pengelolaan sampah secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat agar memilah sampah sejak dari sumbernya.

Ujang juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah nasional tidak lagi bisa hanya bertumpu pada tempat pembuangan akhir. Karena itu, kehadiran fasilitas pengumpulan sampah yang mudah diakses publik dipandang sejalan dengan upaya mendorong perubahan perilaku dan memperluas partisipasi masyarakat dalam pengurangan sampah.

Sudut pandang lain

Inisiatif yang menggabungkan pengelolaan sampah dengan insentif belanja menunjukkan pendekatan ekonomi sirkular yang lebih dekat dengan perilaku konsumen. Model seperti ini berpotensi meningkatkan partisipasi publik karena manfaatnya terasa langsung, tidak hanya berupa kesadaran lingkungan tetapi juga keuntungan praktis.

Dari sisi kebijakan, kolaborasi antara produsen, ritel, dan pemerintah mengindikasikan bahwa pengurangan sampah makin diposisikan sebagai tanggung jawab bersama. Jika diperluas, pola ini dapat membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus memperkuat ekosistem daur ulang di perkotaan.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta, VIVA – Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup ramah lingkungan perlahan mulai berubah menjadi kebiasaan sehari-hari. Jika dulu memilah sampah masih dianggap merepotkan, kini semakin banyak orang mulai mencari cara praktis agar tetap bisa berkontribusi menjaga lingkungan tanpa harus mengubah rutinitas secara drastis.

Salah satu tren yang mulai berkembang adalah konsep pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan aktivitas harian masyarakat, termasuk saat berbelanja kebutuhan rumah tangga. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena membuat kebiasaan memilah sampah terasa lebih mudah dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena tersebut terlihat dari hadirnya berbagai titik pengumpulan sampah anorganik di area publik dan pusat perbelanjaan. Dengan akses yang semakin mudah, masyarakat kini bisa menyetorkan sampah plastik, kertas, maupun kemasan bekas tanpa harus datang ke fasilitas daur ulang khusus.

Ya, fasilitas Waste Station kini hadir di sejumlah gerai ritel di Jakarta, Bandung, dan Bali. Kehadiran fasilitas ini memungkinkan masyarakat membawa sampah anorganik yang sudah dipilah saat menjalankan aktivitas belanja sehari-hari.

Menariknya, sistem yang digunakan juga sudah terintegrasi secara digital. Pengguna cukup memindai QR code saat menyetorkan sampah, lalu poin yang terkumpul dapat ditukarkan menjadi voucher belanja. Konsep ini dinilai menjadi salah satu cara untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih konsisten memilah sampah dari rumah.

Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen, Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Ujang Solihin Sidik, menilai kolaborasi lintas sektor seperti ini penting untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah di Indonesia.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami mengapresiasi upaya Nestlé Indonesia bersama dengan Alfamart dalam menghadirkan fasilitas Waste Station yang semakin menjangkau masyarakat. Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi kunci dalam mendorong pengelolaan sampah secara holistik dari hulu ke hilir, sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya,” kata Ujang dalam keterangannya, dikutip Rabu 13 Mei 2026.

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan sampah nasional tidak lagi bisa hanya bergantung pada tempat pembuangan akhir.

Dirangkum dari VIVA · oleh Sumiyati

Berita terkait