Live|
CNN IndonesiaVersi JafmoNewsPositif13 Mei 2026 pukul 21.40

Pemkot Makassar Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Sampah dan Pemberdayaan Perempuan

Pemkot Makassar kolaborasi dengan komunitas dan swasta untuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat, memberdayakan perempuan, dan menciptakan ekonomi sirkular.

Pemkot Makassar Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Sampah dan Pemberdayaan Perempuan

Pemerintah Kota Makassar memperkuat kolaborasi dengan komunitas dan sektor swasta untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus pemberdayaan perempuan. Sinergi ini dijalankan bersama Komunitas Berdaya Nusantara dan RAPPO Indonesia melalui program pengolahan sampah plastik yang memiliki nilai ekonomi.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menilai kerja sama tersebut merupakan langkah nyata menuju visi Makassar sebagai kota yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan yang digelar Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Panampu, Kecamatan Tallo, pada Rabu (13/5). Menurut Munafri, program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya konkret untuk menghadirkan perubahan di tingkat warga.

Munafri, yang akrab disapa Appi, menegaskan bahwa perempuan harus menjadi aktor utama dalam pembangunan, bukan hanya penonton. Melalui program pemberdayaan ini, perempuan diberi akses keterampilan dan ruang kreatif agar lebih mandiri secara ekonomi. Ia juga menyoroti pentingnya inovasi dalam menjawab persoalan sampah plastik, yang menurutnya merupakan tantangan global. Dengan keterlibatan ibu-ibu dan RAPPO Indonesia, limbah plastik yang sebelumnya tidak bernilai dapat diolah menjadi produk fesyen ramah lingkungan dengan nilai jual tinggi.

Dalam kesempatan itu, Munafri menyampaikan bahwa Kota Makassar menghasilkan sekitar 800 ton sampah per hari, sementara kapasitas pengangkutan baru mencapai sekitar 67 persen. Artinya, masih ada sekitar 30 persen sampah yang belum tertangani secara maksimal. Ia juga menyoroti kondisi tempat pembuangan akhir yang masih menggunakan sistem open dumping dan ditargetkan dihentikan tahun ini sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah kota kini berproses mengubahnya menjadi sanitary landfill, sehingga sampah yang masuk ke TPA nantinya berupa residu hasil pengolahan.

Pemkot Makassar juga mendorong pembangunan TPS 3R di Panampu untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Di sisi lain, pemerintah menyiapkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau waste to energy dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Proyek ini ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 20-25 megawatt. Munafri menekankan, tanpa kesiapan pemerintah kota dan dukungan semua pihak, investasi tersebut tidak akan berjalan optimal.

Selain pengelolaan sampah, program Nusantara Infrastructure juga disebut berkontribusi dalam penurunan angka stunting di Makassar. Di lapangan, pola kerja program ini dimulai dari pemilahan sampah rumah tangga, lalu disetorkan ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara. Sampah plastik tertentu kemudian diproses oleh RAPPO Indonesia, sementara perempuan pesisir di Desa Nelayan Untia ikut terlibat dalam pembersihan dan pencacahan plastik. Hasil olahan itu kini telah dipasarkan ke Makassar, Jakarta, hingga Bali, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.

Sudut pandang lain

Kolaborasi seperti ini menunjukkan pendekatan pengelolaan sampah yang tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga pada penciptaan rantai nilai ekonomi baru. Ketika sampah diposisikan sebagai bahan baku, keterlibatan warga, khususnya perempuan, dapat memperluas manfaat program hingga ke aspek pendapatan rumah tangga dan kemandirian komunitas.

Dari sisi kebijakan perkotaan, tantangan Makassar mencerminkan kebutuhan sistem persampahan yang lebih terintegrasi, mulai dari pemilahan di sumber, pengolahan di tingkat kelurahan, hingga pengembangan teknologi seperti waste to energy. Keberhasilan program semacam ini sangat bergantung pada konsistensi koordinasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Lihat versi asli dari sumber

Pemerintah Kota Makassar memperkuat kolaborasi dengan komunitas dan sektor swasta untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus pemberdayaan perempuan. Upaya ini diwujudkan melalui sinergi bersama Komunitas Berdaya Nusantara dan RAPPO Indonesia dalam program pengolahan sampah plastik bernilai ekonomi.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menilai kerja sama tersebut menjadi langkah konkret untuk mewujudkan visi Makassar sebagai kota yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Munafri-akrab disapa Appi-saat menghadiri Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan yang digelar Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Panampu, Kecamatan Tallo, Rabu (13/5).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini saya merasa bangga dan optimis. Kehadiran Komunitas Berdaya Nusantara yang menggandeng RAPPO Indonesia bukan sekadar acara seremonial biasa," ujarnya.

"Ini adalah langkah nyata dari apa yang selalu kita cita-citakan bersama: Makassar yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan," tambah Appi.

Munafri menegaskan, Pemerintah Kota Makassar ingin memastikan perempuan tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi berperan sebagai aktor utama.

Melalui program pemberdayaan ini, perempuan diberikan akses keterampilan serta ruang kreatif untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Ia juga menegaskan pentingnya inovasi dalam menangani persoalan sampah plastik yang menjadi tantangan global.

Menurutnya, melalui kreativitas para ibu-ibu bersama RAPPO Indonesia, limbah plastik yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat diolah menjadi produk fesyen ramah lingkungan dengan nilai ekonomi tinggi.

"Masalah sampah plastik adalah tantangan global. Namun di tangan ibu-ibu kita, limbah yang tadinya tidak bernilai diubah menjadi produk fesyen kelas dunia yang ramah lingkungan," jelasnya.

Ia menilai keterlibatan pihak swasta menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota, termasuk pengelolaan sampah.

Lanjut dia, persoalan di Kota Makassar tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi dengan pihak swasta agar solusi yang dihasilkan lebih optimal.

Dalam kesempatan itu, Munafri mengungkapkan bahwa Kota Makassar memproduksi sekitar 800 ton sampah setiap hari.

Namun, kapasitas pengangkutan saat ini baru mencapai sekitar 67 persen, sehingga masih terdapat sekitar 30 persen sampah yang belum tertangani secara maksimal.

Diajuga menekankan kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem open dumping, yang tahun ini ditargetkan untuk dihentikan sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup.

Pemerintah Kota Makassar saat ini tengah berproses mengubah sistem tersebut menjadi sanitary landfill.

"Ke depan, sampah yang masuk ke TPA bukan lagi sampah rumah tangga secara langsung, melainkan residu dari hasil pengolahan," tutur politisi Golkar tersebut.

Appi juga berharap adanya dukungan pembangunan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di wilayah Panampu guna memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Pemkot Makassar juga menyiapkan proyek strategis berupa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) atau waste to energy dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Proyek tersebut ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 20-25 megawatt.

"Ini menjadi sesuatu yang harus kita respons bersama. Tanpa kesiapan pemerintah kota, investasi ini tidak akan maksimal. Karena itu, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan," terangnya.

Ketua IKA FH Unhas ini mendorong agar sinergi dengan pabrik-pabrik tersebut terus diperkuat. Produk hasil olahan tersebut kemudian didistribusikan kembali kepada kelompok masyarakat dalam bentuk reseller, seperti yang dilakukan RAPPO Indonesia, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.

Selain fokus pada pengelolaan sampah, Munafri menyebut Nusantara Infrastructure juga berkontribusi dalam program penurunan angka stunting di Kota Makassar.

Appi menyampaikan bahwa angka stunting di Makassar terus mengalami penurunan berkat kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta.

Lebih lanjut, Pemkot Makassar juga terus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah organik dan anorganik.

Untuk sampah organik, pemerintah mengembangkan konsep pertanian lahan sempit berbasis kompos di tingkat kelurahan hingga rukun warga (RW).

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah teba modern, yakni metode pengolahan sampah organik dengan sistem lubang kompos yang dapat dipanen dalam waktu 5-6 bulan.

"Pupuk kompos ini kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk bertani di lahan-lahan sempit, sehingga setiap sudut kota yang tidak terpakai bisa menjadi produktif," ungkapnya.

Selain itu, program budidaya maggot juga terus dikembangkan sebagai solusi pengolahan sampah organik. Munafri menyebut, satu kilogram maggot mampu mengolah hingga lima kilogram sampah, sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak bernilai ekonomis.

"Kami berharap kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dapat terus diperluas demi menciptakan Kota Makassar yang lebih bersih," tukasnya.

Diketahui bahwa program Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Pannampu. Program ini dimulai dari langkah sederhana namun berdampak besar, masyarakat memilah sampah langsung dari rumah.

Sampah terpilah tersebut kemudian disetorkan ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara sebagai pusat pengumpulan dan pengelolaan awal. Dari sini, sampah plastik bernilai seperti HDPE, PP, dan LDPE diambil oleh tim Rappo Indonesia untuk diproses lebih lanjut.

Tidak berhenti di sana, proses ini juga menghadirkan dampak sosial yang nyata. Perempuan pesisir di Desa Nelayan Untia terlibat aktif dalam tahap pembersihan dan pencacahan plastik.

Juga membuka peluang ekonomi sekaligus memberdayakan komunitas lokal. Hasilnya, limbah yang sebelumnya tak bernilai diubah menjadi produk daur ulang yang fungsional dan bernilai jual.

Kini, produk-produk tersebut telah menembus pasar di Makassar, Jakarta, hingga Bali, membuktikan bahwa dari tangan masyarakat, sampah bisa bertransformasi menjadi solusi. Inilah wajah ekonomi sirkular mengurangi limbah, menciptakan nilai, dan menggerakkan perubahan dari bawah.

Dirangkum dari CNN Indonesia · oleh https://www.facebook.com/CNNIndonesia

Berita terkait