Live|
VIVAVersi JafmoNewsNegatif11 Mei 2026 pukul 05.00

Militer Iran Janjikan Kesiapan Hadapi AS dan Israel

Mojtaba Khamenei melakukan pertemuan dengan pemimpin tertinggi militer Iran. Dalam pertemuan itu, Komandan Markas Pusat Khatam al Anbiya janjikan hal ini ke pemimpin Iran

Militer Iran Janjikan Kesiapan Hadapi AS dan Israel

Komando militer Iran menyatakan pasukannya siap merespons setiap agresi dari Amerika Serikat dan Israel setelah pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, pada Minggu, 10 Mei waktu setempat. Dalam pertemuan itu, Komandan Markas Pusat Khatam al Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menegaskan angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga tinggi dari sisi moral, pertahanan, kemampuan ofensif, perencanaan strategis, hingga perlengkapan tempur.

Abdollahi menyampaikan bahwa jika musuh melakukan apa yang ia sebut sebagai “kesalahan strategis”, agresi, atau invasi, maka pasukan Iran akan bereaksi cepat, keras, dan penuh kekuatan. Ia juga menyatakan militer Iran akan tetap mematuhi sepenuhnya perintah pemimpin tertinggi dan terus membela Revolusi Islam, tanah air, kedaulatan negara, kepentingan nasional, serta rakyat Iran sampai akhir hayat.

Dalam kesempatan yang sama, Khamenei disebut memuji kesiapan militer Iran dan memberikan arahan baru agar langkah-langkah menghadapi lawan dijalankan secara tegas. Sikap itu disampaikan di tengah ketegangan yang meningkat setelah perang selama 40 hari antara Iran dan AS-Israel, yang menurut Teheran merupakan agresi tanpa provokasi pada 28 Februari lalu.

Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut memicu pemboman terhadap infrastruktur militer dan sipil di wilayahnya. Teheran juga menilai rangkaian serangan itu bertujuan mengguncang Republik Islam Iran setelah kerusuhan yang melibatkan kelompok bersenjata yang diklaim memiliki kaitan asing dan menyerang aparat keamanan serta petugas layanan publik.

Konflik yang semula diperkirakan hanya berlangsung singkat justru berlanjut selama 41 hari. Selama periode itu, Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah target milik Amerika Serikat dan Israel, sebelum kedua pihak akhirnya mengumumkan gencatan senjata sepihak yang masih berlaku hingga kini.

Sudut pandang lain

Pernyataan militer Iran ini dapat dibaca sebagai sinyal penegasan deterrence atau daya gentar di tengah konflik regional yang belum sepenuhnya reda. Dengan menonjolkan kesiapan moral, ofensif, dan persenjataan, Teheran tampak ingin menunjukkan bahwa kemampuan balasan mereka masih utuh sekaligus mengirim pesan politik kepada lawan-lawan strategisnya.

Dari sisi kawasan, eskalasi retorika seperti ini berpotensi menjaga ketegangan tetap tinggi meski gencatan senjata masih berlangsung. Situasi semacam ini kerap memengaruhi kalkulasi keamanan di Timur Tengah, termasuk risiko salah perhitungan yang dapat memicu benturan baru bila komunikasi diplomatik tidak berjalan efektif.

Lihat versi asli dari sumber

VIVA –Menyusul dengan kondisinya yang membaik, Pemimpin Tertinggi Iran , Mojtaba Khamenei melakukan pertemuan dengan pemimpin tertinggi militer Iran , Minggu 10 Mei waktu setempat. Dalam pertemuan tersebut, Komandan Markas Pusat Khatam al Anbiya , Mayor Jenderal Ali Abdollahi berjanji bahwa angkatan bersenjata Iran akan siap menghadapi segala bentuk ‘kesalahan strategis’ maupun agresi dari Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataan yang dirilis Minggu waktu setempat, Abdollah mengatakan seluruh militer Iran memiliki kesiapan yang tinggi baik dari sisi moral, pertahanan, kemampuan ofensif, rencana strategis, maupun perlengkapan dan persenjataan untuk menghadapi tindakan AS-Israel.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jika musuh melakukan ‘kesalahan strategis’, agresi atau invasi maka pasukan Iran akan merespon dengan cepat, keras dan penuh kekuatan,” demikian bunyi pertanyaan resmi Mayjen Ali Abdollahi dikutip dari laman presstv.ir, Senin 11 Mei 2026.

Abdollahi juga mengaskan kepada Khamenei bahwa bersenjata Iran akan, dengan kepatuhan penuh terhadap perintah pemimpin tertinggi, terus membela cita-cita Revolusi Islam, tanah air Iran, kedaulatan negara, kepentingan nasional, serta rakyat Iran hingga napas terakhir.

Dalam pertemuan itu, Ayatollah Khamenei memuji kesiapan angkatan bersenjata Iran dan mengeluarkan arahan baru untuk melanjutkan langkah-langkah menghadapi musuh secara tegas setelah perang selama 40 hari melawan AS dan Israel.

Perang yang disebut Iran sebagai agresi tanpa provokasi dari AS dan Israel pada 28 Februari lalu memicu serangkaian pemboman terhadap infrastruktur militer dan sipil Iran. Menurut Teheran, serangan itu bertujuan menjatuhkan Republik Islam Iran setelah terjadinya kerusuhan yang melibatkan kelompok bersenjata yang disebut memiliki kaitan asing dan menyerang aparat keamanan serta petugas layanan publik.

Konflik yang awalnya diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari hingga runtuhnya Republik Islam Iran justru berlanjut selama 41 hari. Selama periode tersebut, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target Amerika Serikat dan Israel, hingga akhirnya kedua pihak mengumumkan gencatan senjata sepihak yang masih berlaku sampai sekarang.

Dirangkum dari VIVA · oleh Isra Berlian

Berita terkait