Pakar Nilai Perang AS-Iran Bisa Berlanjut Tanpa Intensitas Tinggi
AS dan Iran terjebak dalam ketegangan tanpa kesepakatan damai. Jika kesepakatan gagal, pakar menilai perang berlanjut meski tidak intens

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menemukan titik temu. Saling ancam justru terus mewarnai hubungan kedua negara setelah proposal balasan Iran ditolak Presiden AS Donald Trump, sementara Teheran menegaskan tidak ada pilihan lain selain menerima syarat yang diajukan untuk perdamaian di Timur Tengah.
Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai peluang kegagalan kesepakatan antara AS dan Iran cukup besar. Menurutnya, bila pembicaraan benar-benar buntu, perang tidak akan berakhir sepenuhnya, tetapi bisa tetap berlangsung dalam bentuk yang lebih rendah intensitasnya. Ia menyebut kondisi itu mirip situasi konflik yang berkepanjangan namun tidak meletus besar, seperti perang Rusia dan Ukraina.
Hikmahanto menjelaskan ada empat alasan perang tidak akan kembali berlangsung intensif. Pertama, operasi Epic Fury Operations disebut telah dinyatakan berakhir oleh pemerintah AS. Kedua, Trump belum memperoleh persetujuan Kongres untuk melancarkan serangan baru ke Iran. Ketiga, anggaran perang juga belum disetujui. Keempat, Iran dinilai tidak akan menyerang selama tidak ada serangan lebih dulu dari pihak AS. Dengan demikian, ia menilai kedua pihak berpotensi membiarkan konflik dalam keadaan menggantung.
Situasi itu, kata Hikmahanto, akan berdampak besar pada Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia. Ia mempertanyakan apakah jalur strategis tersebut akan tetap terbuka atau justru tertutup akibat konflik yang dibiarkan mengambang. Menurutnya, dunia sudah berupaya mengamankan jalur itu tanpa melibatkan AS, termasuk langkah yang dilakukan Prancis dan Inggris untuk mengawal kapal tanker serta menggunakan senjata jika diserang.
Sebelumnya, Trump menyebut proposal balasan Iran sebagai usulan yang bodoh dan sampah, sekaligus mengatakan gencatan senjata AS-Iran sejak awal April berada dalam kondisi kritis. Di sisi lain, Iran pada Selasa (12/5) menolak mengubah proposalnya. Perunding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan memberi ultimatum bahwa AS hanya punya satu pilihan, yakni menerima syarat Iran atau menghadapi kegagalan perundingan.
Iran menyatakan tidak akan melanjutkan putaran kedua perundingan damai dengan AS sebelum lima syarat terpenuhi. Syarat itu meliputi penghentian perang di semua front, terutama Lebanon, pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, kompensasi atas kerusakan perang, serta pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Sudut pandang lain
Dari sudut pandang geopolitik, kebuntuan ini menunjukkan bahwa negosiasi AS-Iran tidak hanya soal perdamaian, tetapi juga soal pengaruh regional, sanksi ekonomi, dan kendali atas jalur energi strategis. Selat Hormuz menjadi titik paling rawan karena setiap eskalasi di kawasan dapat langsung memengaruhi pasokan minyak global dan stabilitas harga energi.
Di sisi lain, penilaian bahwa perang bisa tetap “mengambang” mencerminkan perubahan bentuk konflik modern, ketika tekanan militer, diplomasi, dan pembatasan politik berjalan bersamaan tanpa penyelesaian final. Situasi seperti ini cenderung membuat ketidakpastian berkepanjangan bagi kawasan Timur Tengah dan pasar internasional.
Lihat versi asli dari sumber
Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menemukan kesepakatan damai mengakhiri perang dan justru diwarnai saling ancam. Bagaimana nasib Timur Tengah bila kesepakatan antara AS dan Iran gagal?
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyebut proposal yang diajukan Iran sebagai 'sampah'. Iran langsung bereaksi dengan mengeluarkan ultimatum kepada AS bahwa "tidak ada alternatif lainnya" selain menerima proposal tersebut.
Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, melihat kemungkinan besar AS dan Iran gagal menemukan kesepakatan. Bila betul pada akhirnya gagal, ia memprediksi perang akan berlanjut meski tidak intens.
"Bila gagal maka perang seolah masih berlangsung tapi intensitas tidak seperti sebelumnya karena sudah ada gencatan senjata. Jadi seperti antara Rusia dan Ukraina," ujar Hikmahanto kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).
Hikmahanto mengungkap 4 alasan perang tidak bakal berlangsung intens. Pertama, Epic Fury Operations sudah dinyatakan berakhir oleh pemerintah AS.
Kedua, Trump belum memperoleh persetujuan dari Kongres AS untuk menyerang Iran kembali. Ketiga, anggaran untuk perang belum mendapat persetujuan.
"(Alasan keempat) Sementara bagi Iran kalau tidak ada serangan AS ke Iran maka Iran tidak akan menyerang," tutur Hikmahanto.
"Jadi perang akan diambangkan oleh AS dan Iran," sebutnya.
Jika sudah begitu, masalah terbesarnya yakni Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terbesar di dunia. Masa depan Selat Hormuz akan menjadi tanda tanya.
"Apakah pengambangan perang akan membuat Selat Hormuz tertutup atau bisa dibuka kembali? Ini yang sudah diupayakan oleh dunia tanpa melibatkan AS," jelas Hikmahanto.
"Seperti yang dilakukan oleh Prancis dan Inggris yang akan mengawal kapal-kapal tanker dan akan gunakan senjata kalau diserang," lanjutnya.
Perundingan AS dan Iran Masih Buntu
Sebelumnya, Donald Trump menolak proposal balasan Iran, yang disebutnya sebagai proposal "bodoh" dan "sampah". Trump juga menyebut gencatan senjata AS-Iran yang diberlakukan sejak awal April dalam "kondisi kritis".
Pemerintah Iran, pada Selasa (12/5), menolak gagasan untuk mengubah proposalnya. Perunding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru mengeluarkan ultimatum kepada AS bahwa "tidak ada alternatif lainnya" selain menerima syarat yang diajukan Iran untuk perdamaian Timur Tengah, atau menghadapi "kegagalan".
Iran menegaskan tidak akan memasuki putaran kedua perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) kecuali lima syarat, yang ditetapkan Teheran untuk membangun kepercayaan dengan Washington, terpenuhi.
Menurut laporan Fars News Agency, lima syarat yang ditetapkan Teheran itu mencakup "mengakhiri perang di semua front, terutama Lebanon", mencabut sanksi-sanksi, melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan mengakui hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Berita terkait
Trump Sebut Gencatan Senjata dengan Iran Masih Kritis
Presiden AS, Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi ‘kritis’. Dia juga sebut proposal terbaru Iran sebagai sesuatu yang bodoh
Harga minyak dunia naik setelah Trump tolak proposal damai Iran
Harga minyak dunia melonjak usai Donald Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri perang. Pasokan global terganggu akibat Selat Hormuz ditutup. Baca di sini
AS Lepas 53,3 Juta Barel Cadangan Minyak Strategis
Amerika Serikat dilaporkan mulai melepas 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis Nasionalnya ke perusahaan-perusahaan energi pasca perang AS-Iran

Harga emas berpeluang tembus Rp2,9 juta pekan depan
Harga logam mulia emas Antam memiliki peluang besar untuk mencetak rekor tertinggi baru di level Rp2.900.000 per gram jika tensi geopolitik global terus memanas.
/data/photo/2022/02/14/620a874aaf89b.jpg)
Harga Minyak Global Melemah Jelang Pertemuan Trump dan Xi
Harga minyak dunia melemah akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga AS, pertemuan Trump-Xi, inflasi, dan ketegangan geopolitik Iran.
Iran andalkan armada kecil untuk kendalikan Selat Hormuz
Otoritas Iran menggunakan apa yang disebut sebagai “armada nyamuk” yang dapat secara efektif melawan Angkatan Laut AS di Selat Hormuz dan Teluk Persia.