Live|
Kompas.comVersi JafmoNewsNetral16 Mei 2026 pukul 19.05

Tujuh Cara Ayah Mengelola Emosi Saat Mengasuh Anak

Menjadi ayah sabar bisa dilatih. Simak 7 cara mengelola emosi agar tidak mudah marah pada anak menurut para ahli.

Tujuh Cara Ayah Mengelola Emosi Saat Mengasuh Anak

Banyak ayah tanpa sadar meluapkan emosi kepada anak ketika sedang lelah, tertekan pekerjaan, atau kurang tidur. Kondisi itu bisa membuat mereka membentak atau bersikap keras, padahal kemarahan yang berulang berpotensi berdampak pada emosi anak dan hubungan ayah-anak dalam jangka panjang.

Terapis Bonnie Scott menyebut pemicu amarah pada ayah sering kali muncul saat merasa tidak dihargai, diabaikan, atau disepelekan. Karena itu, langkah awal yang penting adalah mengenali situasi yang paling sering memancing emosi, misalnya ketika anak tantrum saat ayah baru pulang kerja atau saat rumah sedang berantakan di tengah pikiran yang sedang penuh. Kesadaran terhadap pola ini membantu ayah mencegah ledakan emosi sebelum terjadi.

Scott juga menekankan bahwa kemarahan tidak selalu berasal dari perilaku anak semata, melainkan dari akumulasi stres dan kelelahan yang belum terkelola. Dalam situasi seperti itu, jeda singkat sangat membantu agar respons tidak muncul secara impulsif. Pekerja sosial Justin Gurland mengatakan, berhenti sejenak memberi ruang untuk merespons, bukan sekadar bereaksi. Ia menyarankan menarik napas dalam lima kali sebelum berbicara agar pikiran lebih jernih.

Jika emosi sudah terlalu tinggi, menjauh sementara dari situasi dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Scott menyarankan jeda 10 hingga 30 menit untuk menenangkan diri sebelum kembali berbicara secara konstruktif, bukan agresif. Selain itu, menjaga kesehatan fisik dan mental juga berpengaruh besar terhadap kesabaran orangtua. Tidur cukup, makan teratur, dan berolahraga ringan dapat membantu menjaga kestabilan emosi.

Dalam pengasuhan, disiplin perlu dibedakan dari kemarahan. Scott menilai disiplin yang dilakukan saat marah cenderung reaktif dan berlebihan, sehingga aturan sebaiknya ditetapkan ketika suasana sudah tenang. Jenny Bradley, ahli hukum keluarga bersertifikasi, menambahkan bahwa anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna, melainkan orangtua yang jujur. Karena itu, meminta maaf setelah membentak dapat memulihkan kepercayaan anak sekaligus memberi teladan tentang tanggung jawab atas kesalahan.

Pada akhirnya, menjadi ayah yang sabar bukan berarti tidak pernah marah. Yang lebih penting adalah kemampuan mengenali pemicu, mengambil jeda, menjaga diri, dan memperbaiki hubungan dengan anak ketika emosi sempat lepas kendali.

Sudut pandang lain

Fenomena ayah yang mudah marah terhadap anak berkaitan erat dengan beban kerja, kelelahan, dan minimnya ruang pemulihan emosional dalam kehidupan keluarga modern. Karena itu, pengelolaan emosi bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga bagian dari kesehatan keluarga secara keseluruhan.

Dari sudut pandang pengasuhan, artikel ini menekankan pentingnya model komunikasi yang aman dan bertanggung jawab di rumah. Ketika orangtua mampu meminta maaf dan memperbaiki kesalahan, anak belajar bahwa konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan verbal atau ledakan emosi.

Lihat versi asli dari sumber

Di tengah tekanan pekerjaan, kurang tidur, hingga tingkah anak yang kadang menguras kesabaran, tak sedikit ayah yang tanpa sadar meluapkan emosi dengan membentak atau bersikap keras.

Padahal, kemarahan yang terus berulang dapat meninggalkan dampak emosional pada anak dan memengaruhi hubungan jangka panjang antara ayah dan buah hati.

Terapis Bonnie Scott menjelaskan bahwa banyak ayah tersulut saat merasa tidak dihargai atau diabaikan.

“Saya pikir pemicu bagi para ayah sama seperti kebanyakan orang, seperti merasa tidak dihormati, diabaikan, atau disepelekan,” ujarnya, seperti dikutip HuffPost, Sabtu (16/5/2026).

7 Tips mengelola emosi agar tidak jadi ayah pemarah

1. Kenali situasi yang membuat emosi naik

Perhatikan pola yang sering memicu amarah, seperti anak tantrum saat kamu lelah sepulang kerja atau rumah yang berantakan ketika pikiran sedang penuh.

Kesadaran ini membantu kamu mengambil langkah pencegahan sebelum emosi meledak.

2. Sadari bahwa anak bukan penyebab utama

Sering kali kemarahan bukan benar-benar dipicu oleh perilaku anak, melainkan akumulasi stres dan kelelahan.

Memahami hal ini membuat ayah lebih mampu memisahkan emosi pribadi dari situasi pengasuhan.

Banyak ledakan amarah terjadi karena seseorang bereaksi terlalu cepat. Padahal, jeda singkat bisa membuat respons jauh lebih terkendali.

3. Tarik napas dan beri jeda

Pekerja sosial Justin Gurland menyebut bahwa ambil jeda menjadi alat penting untuk mengelola emosi.

“Salah satu alat paling berharga yang saya pelajari adalah berhenti sejenak ketika mulai gelisah. Momen itu memberi saya kesempatan untuk merespons, bukan bereaksi,” katanya.

Coba untuk tarik napas dalam lima kali sebelum berbicara. Langkah sederhana ini membantu otak berpikir lebih jernih.

4. Tinggalkan situasi untuk menenangkan diri

Jika emosi sudah terlalu tinggi, menjauh sejenak dari situasi bisa menjadi pilihan terbaik. Scott menyarankan waktu 10 hingga 30 menit untuk menenangkan sistem saraf.

“Ambil jeda 10 sampai 30 menit untuk menenangkan diri dan kembali ketika kamu bisa berbicara secara konstruktif, bukan agresif,” jelasnya.

5. Rawat diri dengan baik

Gurland menegaskan, menjaga kesehatan fisik dan mental berpengaruh besar pada cara seseorang menghadapi momen sulit.

“Ketika saya menjaga diri secara fisik, mental, dan emosional, saya memiliki jauh lebih banyak kesabaran,” ujarnya.

Tidur cukup, makan teratur, dan berolahraga ringan dapat membantu menjaga kestabilan emosi.

6. Bedakan disiplin dengan kemarahan

Mendisiplinkan anak bukan berarti meluapkan emosi. Scott menjelaskan, disiplin dalam kondisi marah cenderung berlebihan.

“Disiplin dalam kemarahan bersifat reaktif. Itu biasanya jauh lebih berlebihan dari yang sebenarnya kita inginkan,” katanya.

Tetapkan aturan saat suasana tenang agar anak memahami batasan dengan jelas.

7. Jangan ragu meminta maaf pada anak

Meminta maaf menunjukkan kedewasaan emosional. Ahli hukum keluarga bersertifikasi, Jenny Bradley menegaskan, anak tidak membutuhkan orangtua sempurna.

“Anak-anak tidak membutuhkan kesempurnaan, tetapi mereka membutuhkan kejujuran,” ujarnya.

Kalimat sederhana seperti, “Ayah minta maaf tadi membentak kamu,” bisa membantu memulihkan kepercayaan anak sekaligus memberi contoh bertanggung jawab atas kesalahan.

Menjadi ayah yang sabar bukan tentang tidak pernah marah, melainkan belajar mengelola emosi dengan lebih sehat.

Dirangkum dari Kompas.com · oleh Kompas Cyber Media

Berita terkait