Lansia Disarankan Tetap Aktif untuk Jaga Kualitas Hidup
Ini Cara Lansia Tetap Aktif di Usia Senja

Memasuki usia lanjut, perhatian terhadap kesehatan sebaiknya tidak hanya tertuju pada panjang umur, tetapi juga pada kualitas hidup. Lansia dianjurkan tetap aktif secara fisik, mental, dan sosial agar tubuh lebih bugar, pikiran terjaga, dan risiko penyakit dapat ditekan. Dengan pola hidup yang seimbang, masa tua dapat tetap menjadi fase hidup yang produktif dan bermakna.
Kesadaran terhadap pentingnya penuaan aktif atau active aging kini semakin berkembang di kalangan lansia. Banyak di antara mereka mulai fokus menjaga tubuh tetap mandiri, bergerak aktif, dan produktif seiring bertambahnya usia. Pendekatan ini tidak hanya mendukung kesehatan, tetapi juga membantu mempertahankan kemampuan menjalani aktivitas harian dengan lebih baik.
Konsep active aging menekankan bahwa lansia masih dapat menjalani hidup sehat dan berkualitas melalui berbagai upaya, mulai dari aktivitas fisik, asupan nutrisi yang tepat, menjaga kesehatan mental, hingga pendampingan medis secara berkelanjutan. Karena itu, sejumlah layanan kesehatan lansia kini tidak hanya berorientasi pada penanganan penyakit, tetapi juga pada upaya menjaga mobilitas sehari-hari agar fungsi tubuh tetap optimal.
Gerontologist dan Aging Specialist, dr. Amelia Mulia, MAMG, menjelaskan bahwa kebugaran lansia berusia 55 hingga 75 tahun perlu mendapat perhatian khusus. Pada rentang usia tersebut, kekuatan otot, keseimbangan tubuh, serta kondisi sendi dan tulang cenderung mulai menurun. Menurut dia, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga kebugaran dan kemandirian lansia.
Upaya yang disarankan mencakup latihan kekuatan atau strength training, latihan mobilitas, latihan keseimbangan, cognitive training, serta edukasi nutrisi yang tepat. Melalui program-program tersebut, lansia diharapkan tetap mampu mempertahankan aktivitas harian dengan lebih baik, sekaligus mengurangi dampak penurunan fungsi tubuh yang umum terjadi pada masa lanjut usia.
Sudut pandang lain
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, penuaan aktif menjadi penting karena populasi lansia cenderung membutuhkan pendekatan yang tidak hanya kuratif, tetapi juga preventif dan rehabilitatif. Jika kebugaran, nutrisi, dan kesehatan mental dijaga sejak dini, beban penyakit kronis dan ketergantungan jangka panjang dapat berkurang.
Selain itu, penekanan pada kemandirian lansia juga berkaitan dengan kualitas hidup keluarga dan layanan kesehatan. Lansia yang tetap aktif berpeluang mempertahankan peran sosialnya lebih lama, sementara sistem kesehatan dapat lebih fokus pada pencegahan penurunan fungsi daripada hanya menangani kondisi yang sudah berat.
Lihat versi asli dari sumber
MEMASUKI usia lanjut, banyak orang atau lansia kerap hanya berfokus pada harapan untuk hidup lebih panjang. Padahal, kualitas hidup di masa senja jauh lebih penting dibanding sekadar menambah usia.
Para lansia justru disarankan untuk tetap aktif secara fisik, mental, dan sosial agar tubuh tetap bugar, pikiran terjaga, serta risiko berbagai penyakit dapat diminimalkan. Dengan menjalani gaya hidup yang aktif dan seimbang, usia lanjut dapat tetap menjadi fase kehidupan yang produktif dan bermakna.
Lansia kini tak hanya fokus untuk hidup lebih lama. Kini, lansia juga sudah mulai sadar pentingnya kualitas hidup di masa tua.
Banyak lansia kini mulai fokus menjaga tubuh tetap aktif, mandiri, dan produktif seiring bertambahnya usia. Hal ini juga tentunya mendukung gaya hidup sehat lansia. Konsep ini dikenal sebagai active aging atau penuaan aktif. Lansia tetap bisa menjalani hidup yang sehat, aktif, dan berkualitas.
Berbagai hal yang dapat dilakukan di antaranya dengan aktivitas fisik, nutrisi yang tepat, kesehatan mental, hingga pendampingan medis berkelanjutan. Karena itu kini banyak layanan kesehatan lansia yang tidak hanya fokus pada kesehatan, tetapi juga menjaga mobilitas sehari-hari.
Gerontologist & Aging Specialist, dr. Amelia Mulia, MAMG, dr. Amelia Mulia, MAMG menjelaskan, salah satu yang perlu diperhatikan adalah kebugaran lansia usia 55-75 tahun. Usia tersebut mulai mengalami penurunan kekuatan otot, keseimbangan tubuh, hingga risiko masalah sendi dan tulang.
Adapun berbagai upaya yang dapat dilakukan. Di antanyara, ada kekuatan, latihan mobilitas, latihan keseimbangan, hingga edukasi nutrisi yang tepat.
"Kebugaran lansia usia 55+ hingga 75+ dapat didujung dengan berbagai program seperti strength training, mobility, balance, cognitive training, serta edukasi nutrisi yang tepat," ujar dr. Amelia.
© 2007 - 2026 Okezone.com, All Rights Reserved
Berita terkait
Gen Z Semakin Memilih Profesi Fleksibel dan Digital
Pekerjaan favorit Gen Z kini didominasi bidang kreatif, teknologi, hingga freelance karena dianggap lebih fleksibel dan mendukung work life balance. Baca di sini

Persija Jakarta Menang Comeback 3-1 atas Persik Kediri
Persija Jakarta menang 3-1 atas Persik Kediri di Super League 2025-2026.

Kapolri Paparkan Inovasi Polri untuk Dukung Pertanian
Untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian, Sigit menyebut, Korps Bhayangkara melahirkan inovasi pupuk Presisi berbasis batu bara,

Prabowo Apresiasi Polri atas Dukungan Ketahanan Pangan
Ia menilai, kepemimpinan yang baik akan menghasilkan organisasi yang baik.

Leo/Daniel Melaju ke Final Thailand Open 2026
Leo Rolly Carnando Daniel Marthin berhasil melaju ke final Thailand Open 2026 Super 500.

Palestina Desak Dunia Akui Nakba Sebagai Pembersihan Etnis
Palestina memperingati 78 tahun terjadinya Nakba pada 15 Mei.