Live|
Tempo.coVersi JafmoNewsNetral16 Mei 2026 pukul 16.42

Prabowo Meremehkan Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp 17.600 per dolar AS pada 15 Mei 2026.

Prabowo Meremehkan Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Presiden Prabowo Subianto menyatakan tidak terlalu khawatir atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurut dia, gejolak rupiah tidak langsung memukul kehidupan masyarakat desa karena kebutuhan harian mereka tidak bergantung pada mata uang asing. Pernyataan itu disampaikan Prabowo di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Prabowo menilai sebagian pihak kerap berlebihan dalam membaca situasi ekonomi nasional. Ia menyebut ada yang terus-menerus mengatakan Indonesia akan mengalami kehancuran atau kekacauan hanya karena rupiah melemah. Dalam pandangannya, kondisi Indonesia masih aman, terutama di sektor pangan dan energi, sehingga masyarakat tidak perlu panik menghadapi pergerakan kurs.

Mantan menteri pertahanan itu juga menekankan bahwa masyarakat di pedesaan menjalani aktivitas ekonomi sehari-hari tanpa menggunakan dolar AS. Karena itu, ia menilai fluktuasi rupiah tidak menjadi persoalan langsung bagi warga desa. Ia menggambarkan sikapnya dengan menyebut bahwa rakyat di desa tidak memakai dolar dalam kehidupan mereka.

Sebelumnya, pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026, rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp 17.600 per dolar AS. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak krisis moneter Asia pada 1997-1998. Di tengah pelemahan itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS pada Mei 2026.

Ibrahim menilai dua hari perdagangan pada Kamis dan Jumat, 14-15 Mei, menjadi ujian bagi Indonesia karena bertepatan dengan hari libur ketika tensi geopolitik di Timur Tengah meningkat. Ia menjelaskan, pada masa libur, Bank Indonesia hanya dapat melakukan intervensi di pasar internasional sehingga tekanan eksternal terhadap rupiah menjadi lebih besar. Meski begitu, ia membuka kemungkinan situasi berubah ketika perdagangan kembali dibuka pada Senin, 18 Mei 2026.

Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS disebut dipengaruhi arah kebijakan The Federal Reserve yang diperkirakan belum akan menurunkan suku bunga sepanjang 2026 karena inflasi di Amerika Serikat masih tinggi. Dari sisi domestik, pelemahan rupiah juga memberi tekanan pada APBN karena berpotensi meningkatkan belanja subsidi minyak.

Sudut pandang lain

Pernyataan Prabowo menunjukkan pendekatan yang menekankan ketahanan ekonomi riil, terutama di sektor pangan dan energi, ketimbang fokus pada fluktuasi nilai tukar jangka pendek. Sudut pandang ini lazim dipakai pemerintah untuk meredam kepanikan publik saat pasar keuangan bergejolak.

Namun, pelemahan rupiah tetap memiliki konsekuensi luas, terutama bagi biaya impor, subsidi energi, dan beban fiskal negara. Karena itu, stabilitas kurs tidak hanya soal persepsi pasar, melainkan juga berkaitan dengan daya beli, inflasi, dan ruang gerak APBN dalam jangka menengah.

Lihat versi asli dari sumber

PRESIDEN Prabowo Subianto tidak khawatir dengan melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Prabowo menilai turunnya nilai tukar rupiah tidak langsung berdampak bagi masyarakat pedesaan.

Ketua Umum Partai Gerindra ini menilai saat ini banyak orang yang sering menyatakan ekonomi Indonesia dalam bahaya karena rupiah terus melemah. "Sekarang ada yang selalu, entah mengapa saya enggak mengerti, sebentar-sebentar bilang Indonesia akan collapse , akan chaos , akan apa, ya kan?" kata dia di Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Prabowo meminta agar masyarakat tidak terlalu khawatir dengan pergerakan rupiah terhadap dolar . Mantan menteri pertahanan ini menyebut kondisi Indonesia masih aman dibanding negara-negara lain, khususnya di sektor pangan dan energi.

Ia pun menanggapi santai kondisi tersebut karena masyarakat desa tidak menggunakan mata uang asing dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia tak khawatir dengan peringatan orang-orang soal rupiah yang melemah. "Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?" ucapnya.

Pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026, rupiah sempat melemah hingga ke level Rp 17.600 per dolar AS. Angka ini adalah yang tertinggi sejak krisis moneter Asia pada 1997-1998.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah akan menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Mei 2026. “Kalau seandainya tembus Rp 18.000 di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Jumat, 15 Mei 2026.

Ia menilai, dua hari terakhir, yaitu Kamis 14 Mei dan Jumat 15 Mei, merupakan ujian bagi Indonesia. Sebab, pada saat perdagangan libur karena tanggal merah, tensi geopolitik di Timur Tengah terus memanas.

Sementara itu, kata Ibrahim, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional selama periode libur. Oleh karena itu, dampak tekanan eksternal terhadap rupiah menjadi lebih besar. Namun, ia menilai kondisinya bisa saja berbeda saat perdagangan dibuka pada Senin, 18 Mei 2026.

Dari segi eksternal, Ibrahim menyebut menguatnya dolar AS dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral atau The Federal Reserve (The Fed). The Fed diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga sepanjang 2026 karena kenaikan inflasi AS yang cukup signifikan.

Sementara itu dari segi internal, Ibrahim menyoroti besarnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebab, pelemahan rupiah berdampak pada melonjaknya belanja subsidi minyak.

Pilihan Editor: Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih

Berita terkait