Live|
OkezoneVersi JafmoNewsNegatif13 Mei 2026 pukul 13.16

BI Nilai Pelemahan Rupiah Bersifat Sementara

BI meyakini pelemahan rupiah saat ini bersifat sementara karena fondasi makroekonomi nasional dinilai masih solid dibandingkan banyak negara

BI Nilai Pelemahan Rupiah Bersifat Sementara

Bank Indonesia menanggapi pelemahan rupiah yang terkoreksi ke level Rp17.535 per dolar Amerika Serikat. Bank sentral menilai tekanan terhadap mata uang domestik itu bersifat sementara karena fondasi makroekonomi Indonesia masih dianggap kuat dibandingkan banyak negara lain.

Menurut BI, gejolak di pasar valuta asing dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026. Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 40 persen dan menambah tekanan terhadap mata uang di berbagai negara. Di dalam negeri, permintaan dolar AS juga meningkat karena musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan ibadah haji.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang lain seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, hingga won Korea Selatan dan beberapa mata uang Amerika Selatan juga tertekan akibat dinamika global yang sama. Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Untuk meredam tekanan, BI akan terus melakukan intervensi aktif di berbagai zona waktu pasar uang internasional, mulai dari Jakarta, Eropa, hingga Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan karena bank sentral menilai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang baik, termasuk pertumbuhan ekonomi di awal tahun, inflasi yang stabil, serta pengelolaan utang luar negeri yang dinilai prudent.

Ramdan juga menegaskan bahwa penguatan rupiah akan didorong oleh tujuh langkah strategis BI yang sebelumnya disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo, serta sinergi lintas lembaga dan kementerian terkait. Dengan kombinasi kebijakan tersebut, BI yakin stabilitas sektor keuangan nasional tetap terjaga dan rupiah pada akhirnya kembali menguat.

Sudut pandang lain

Pernyataan BI menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak dibaca sebagai masalah domestik semata, melainkan bagian dari tekanan global yang lebih luas. Dalam situasi seperti ini, arah nilai tukar sangat dipengaruhi sentimen risiko internasional, harga komoditas, dan kebutuhan dolar di dalam negeri.

Ke depan, efektivitas intervensi BI akan bergantung pada konsistensi koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta kemampuan menahan tekanan permintaan valas. Jika stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, pasar biasanya akan lebih cepat merespons dengan memperkuat kepercayaan terhadap rupiah.

Lihat versi asli dari sumber

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang terkoreksi ke level Rp17.535 per dolar Amerika Serikat (AS). BI meyakini pelemahan rupiah saat ini bersifat sementara karena fondasi makroekonomi nasional dinilai masih solid dibandingkan banyak negara lain.

Gejolak pasar valuta asing bermula dari memanasnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026 yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga lebih dari 40 persen. Situasi ini semakin diperberat oleh tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri akibat musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan ibadah haji.

“Faktor dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia juga melemah. Tidak hanya rupiah, ada peso Filipina, baht Thailand, rupee India, hingga mata uang Amerika Selatan seperti Chile dan won Korea Selatan,” ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Merespons tekanan sentimen eksternal tersebut, bank sentral akan terus melakukan intervensi aktif di berbagai zona waktu pasar uang internasional mulai dari Jakarta, Eropa, hingga Amerika Serikat. Upaya ini didasari keyakinan bahwa indikator perekonomian domestik masih memiliki daya tahan yang kuat.

“Kami tetap meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan, rupiah akan stabil dan cenderung menguat karena fundamental ekonomi Indonesia sangat baik. Bagaimana angka pertumbuhan Indonesia di awal tahun, stabilnya inflasi, serta prudent-nya Indonesia dalam mengelola utang luar negeri dibandingkan negara lain,” jelas Ramdan.

Penjagaan melalui tujuh langkah strategis BI yang disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo juga diiringi penguatan sinergi lintas lembaga dan kementerian terkait. Kolaborasi tersebut diyakini dapat menjadi pendorong stabilitas sektor keuangan nasional.

“Kondisi fundamental ekonomi kita baik. Tentunya kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama, rupiah akan stabil dan segera menguat karena tidak ada alasan bagi rupiah untuk tidak menguat dan tidak stabil,” kata Ramdan.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

© 2007 - 2026 Okezone.com, All Rights Reserved

Dirangkum dari Okezone · oleh https://www.facebook.com/OkezoneCom

Berita terkait