MPR Pertimbangkan Batal Gelar Ulang LCC Empat Pilar di Kalbar
Keputusan akhir soal rencana pertandingan ulang lomba cerdas cermat empat pilar di Kalbar baru akan diputuskan dalam rapat pimpinan MPR pekan depan.

Rencana pertandingan ulang final lomba cerdas cermat empat pilar MPR di Kalimantan Barat terancam tidak jadi dilaksanakan setelah SMA Negeri 1 Pontianak menyatakan tidak bersedia ikut serta. Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan keputusan akhir tetap akan dibahas dalam rapat pimpinan lembaga itu pada pekan depan.
Hidayat menilai penolakan SMA Negeri 1 Pontianak menjadi pertimbangan baru bagi MPR. Menurut dia, langkah pengulangan final sebenarnya diambil setelah lembaganya menerima masukan dan kritik dari masyarakat terkait polemik hasil lomba. Namun, dengan adanya sikap sekolah tersebut, ia menyebut kemungkinan pertandingan ulang itu kecil untuk digelar. Meski begitu, ia menegaskan keputusan resmi tetap harus diputuskan secara kelembagaan.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu juga menyampaikan bahwa MPR menghormati pilihan SMA Negeri 1 Pontianak. Ia menyebut, sebelum pernyataan itu diumumkan ke publik, perwakilan sekolah lebih dahulu menyampaikannya kepada Sekretaris Jenderal MPR Siti Fauziah. Hidayat menambahkan, MPR ingin mengevaluasi persoalan ini dengan mempertimbangkan prinsip keadilan dan kemaslahatan, serta memperhatikan aspirasi masyarakat dan sikap pihak sekolah.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Pontianak Indang Maryati melalui unggahan di akun Instagram sekolah menyatakan pihaknya menghormati dan mendukung hasil LCC yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat di tingkat nasional. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul dan mengajak semua pihak menyelesaikan persoalan ini dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menjunjung persatuan.
Indang menegaskan bahwa sejak awal sekolahnya tidak bermaksud menganulir hasil lomba. Menurut dia, langkah yang ditempuh SMAN 1 Pontianak hanya untuk meminta kejelasan melalui klarifikasi atas poin-poin yang dipersoalkan. Ia menolak anggapan bahwa sekolah berniat menyerang kredibilitas penyelenggara, dewan juri, atau individu tertentu, dan berharap situasi ini tidak mengganggu iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman.
Sebelumnya, Ketua MPR Ahmad Muzani menyatakan lembaganya akan menggelar ulang final LCC empat pilar di Kalbar dengan juri independen. Polemik muncul setelah dewan juri dianggap tidak memberi penilaian yang adil dalam final pada 9 Mei, saat tiga regu finalis, yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau, berebut menjawab pertanyaan tentang pertimbangan DPR dalam memilih anggota BPK. Perbedaan penilaian atas jawaban yang dinilai serupa memicu protes, sementara salah satu juri, Indri Wahyuni, menekankan bahwa kejelasan artikulasi jawaban menjadi dasar penilaian.
Sudut pandang lain
Kasus ini menunjukkan bagaimana kompetisi akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan peserta, tetapi juga oleh transparansi penilaian dan konsistensi dewan juri. Ketika keputusan lomba dipersoalkan, penyelenggara perlu memastikan mekanisme sanggah dan verifikasi berlangsung jelas agar sengketa tidak berkembang menjadi polemik publik.
Dari sisi pendidikan, sikap saling menghormati antara MPR dan pihak sekolah dapat menjadi contoh penyelesaian masalah yang mengedepankan dialog. Namun, kasus ini juga memperlihatkan pentingnya standar evaluasi yang tegas, terutama pada lomba berbasis pengetahuan faktual, agar keadilan kompetisi tetap terjaga dan kepercayaan peserta tidak menurun.
Lihat versi asli dari sumber
WAKIL Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid mengatakan, rencana pertandingan ulang lomba cerdas cermat empat pilar di Kalimantan Barat terancam gagal dihelat setelah SMA Negeri 1 Pontianak menolak berpartisipasi. Namun, keputusan akhir soal rencana itu baru akan diputuskan dalam rapat pimpinan MPR pekan depan.
"Sangat masuk akal kalau SMA Negeri 1 Pontianak tidak mau, sekalipun SMA Negeri Sambas tidak menolak gitu ya, tentu ya hampir pasti tidak diselenggarakan. Tapi kan ini keputusan lembaga yang harus diputuskan di lembaga," kata Hidayat saat dihubungi pada Jumat, 15 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu menjelaskan, MPR memutuskan pengulangan final LCC empat pilar di Kalimantan Barat karena mendengarkan masukan dan kritik dari masyarakat. Kemudian, dengan adanya penolakan dari SMA Negeri 1 Pontianak maka itu menjadi pertimbangan baru bagi MPR.
Hidayat menyatakan MPR menghormati keputusan SMA Negeri 1 Pontianak. Bahkan, kata dia, sebelum keputusan itu disampaikan secara terbuka, perwakilan sekolah telah menyampaikan terlebih dulu ke Sekretaris Jenderal MPR Siti Fauziah. Menurut dia, MPR menekankan proses evaluasi yang menegakkan prinsip keadilan dan kemaslahatan.
"Insyaallah kita akan memutuskan yang terbaik sesuai dengan aspirasi dari masyarakat yang ada, termasuk tentu sikap dari SMA Negeri 1 Pontianak," tutur dia.
Melalui unggahan di akun media sosial Instagram @smansaptk.informasi Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak Indang Maryati mengatakan, menghormati dan mendukung hasil LCC yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat dalam LCC tingkat nasional.
Indang melanjutkan, SMAN 1 Pontianak juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi, serta mengajak seluruh pihak untuk menyelesaikan persoalan ini dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai persatuan.
Ia mengatakan, SMAN 1 Pontianak sejak awal tidak pernah memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan.
Apa yang dilakukan SMAN 1 Pontianak, Indang menuturkan, merupakan langkah yang diambil sebagai bagian dari ikhtiar untuk memperoleh konfirmasi dan klarifikasi demi terwujudnya pelaksanaan dan mekanisme kompetisi yang transparan, objektif, dan akuntabel.
Indang menegaskan, sekolahnya juga tidak pernah memiliki tujuan untuk menyerang maupun menjatuhkan kredibilitas lembaga, penyelenggara, maupun individu tertentu dalam kompetisi LCC ini.
Karenanya, ia memohon kepada seluruh pihak, agar ke depan dapat tercipta iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi semua.
"SMAN 1 Pontianak menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian, dukungan, serta kepedulian berbagai pihak dalam menyikapi kondisi ini," ujar Indang.
Sebelumnya, Ketua MPR Ahmad Muzani mengatakan, lembaganya akan menggelar ulang final LCC empat pilar di Kalimantan Barat. "Dewan juri yang akan mengadili dalam LCC tersebut adalah juri independen," kata Muzani di Gedung Nusantara III, Jakarta pada Rabu.
Adapun, LCC MPR di Kalimantan Barat menuai polemik kala dewan juri tidak memberikan penilaian yang adil kepada dua kelompok regu peserta di laga final pada 9, Mei kemarin.
Kejadian ini bermula ketika tiga peserta final, yaitu SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau berebut menjawab pertanyaan 'DPR dalam memilih anggota BPK wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?'.
Regu C SMAN 1 Pontianak menjawab pertama kali dengan mengatakan, anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Dewan juri menilai jawaban itu kurang tepat sehingga memberikan nilai minus 5. Pertanyaan yang sama kemudian dilempar kembali ke forum, dan Regu B yakni SMAN 1 Sambas mengambil kesempatan dengan menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Dewan juri memutuskan jawaban itu benar dan menganugerahi SMAN 1 Sambas 10 poin. Hal ini kemudian diprotes oleh peserta dari SMAN 1 Pontianak yang lebih dulu memberikan jawaban yang sama.
Namun dewan juri beralasan SMAN 1 Pontianak tidak menyebutkan kata “pertimbangan DPD”. Alasan tersebut dibantah oleh peserta regu C.
Salah satu anggota dewan juri, Indri Wahyuni, menyoroti pentingnya akurasi dari artikulasi peserta saat menyampaikan jawaban. Indri Wahyuni menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR.
"Artikulasi itu penting. Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai," ujar Indri.
Pilihan Editor: Anggaran Besar Sosialisasi Empat Pilar MPR. Buat Apa?
Berita terkait

MPR ulang final LCC Empat Pilar Kalbar dan ganti juri
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI memutuskan untuk menggelar ulang babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan ...

SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Ulang Final LCC 4 Pilar
SMAN 1 Pontianak menolak ikut ulang Lomba Cerdas Cermat MPR RI setelah polemik penjurian. Sekolah dukung SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalbar.

SMAN 1 Pontianak Menolak Ulang Final Cerdas Cermat MPR
SMAN 1 Pontianak memilih tak akan mengikuti laga ulang final lomba cerdas cermat empat pilar MPR. Mendukung hasil lomba sebelumnya.

MPR Ulang Final LCC Empat Pilar di Kalbar
MPR memutuskan untuk mengulang final Lomba Cerdas Cermat di Kalbar setelah kritik terhadap penilaian juri. Juri independen akan dilibatkan dalam lomba ulang.

MPR Gelar Ulang Final LCC di Kalimantan Barat
Salah satu poin terpenting adalah keputusan MPR untuk menyelenggarakan ulang final LCC yang telah menentukan pemenang pada 9 Mei 2026.

MPR Pelajari Gugatan atas LCC Empat Pilar di Kalimantan Barat
Pimpinan dan Sekretaris Jenderal MPR mengaku belum mengetahui ihwal gugatan penyelenggaraan LCC empat pilar di Kalimantan Barat.