SMAN 1 Pontianak Menolak Ulang Final Cerdas Cermat MPR
SMAN 1 Pontianak memilih tak akan mengikuti laga ulang final lomba cerdas cermat empat pilar MPR. Mendukung hasil lomba sebelumnya.

SMAN 1 Pontianak menyatakan menolak kembali berlaga dalam final lomba cerdas cermat empat pilar MPR tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang diputuskan untuk diulang. Sekolah juga menegaskan sikapnya mendukung hasil lomba yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
Pernyataan itu disampaikan melalui akun Instagram resmi SMAN 1 Pontianak dan ditandatangani Kepala Sekolah Indang Maryati. Dalam keterangan tersebut, sekolah menyebut tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba yang diulang sebagaimana diinformasikan MPR. SMAN 1 Pontianak juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul di tengah polemik hasil final.
Indang Maryati menjelaskan, sejak awal pihak sekolah tidak memiliki niat untuk menganulir hasil lomba. Menurut dia, langkah yang ditempuh semata-mata untuk meminta kejelasan melalui klarifikasi atas poin-poin yang dipersoalkan agar mekanisme kompetisi berlangsung transparan, objektif, dan akuntabel. Ia menegaskan sekolah tidak bermaksud menyerang atau menjatuhkan kredibilitas lembaga penyelenggara maupun individu yang terlibat dalam perlombaan itu.
Dalam pernyataannya, SMAN 1 Pontianak juga mengajak semua pihak menyelesaikan persoalan ini dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai persatuan. Sekolah berharap situasi serupa tidak mengganggu iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi para peserta didik.
Sebelumnya, Ketua MPR Ahmad Muzani menyampaikan bahwa final LCC empat pilar di Kalimantan Barat akan digelar ulang dengan juri independen. Keputusan itu diambil setelah lomba final pada 9 Mei memicu polemik karena penilaian juri dianggap tidak adil oleh dua regu peserta. Sengketa muncul saat pertanyaan tentang lembaga yang memberi pertimbangan dalam pemilihan anggota BPK dijawab oleh SMAN 1 Pontianak, lalu dinilai kurang tepat dan diberi minus 5, sementara jawaban serupa dari SMAN 1 Sambas justru dinyatakan benar dan diberi 10 poin.
Sudut pandang lain
Kasus ini menunjukkan betapa krusialnya kejelasan aturan penilaian dalam kompetisi akademik, terutama yang melibatkan materi ketatanegaraan. Ketika perbedaan penilaian muncul pada jawaban yang mirip, kredibilitas penyelenggara dan kepercayaan peserta dapat terganggu.
Di sisi lain, keputusan MPR menggelar ulang dengan juri independen bisa dibaca sebagai upaya memulihkan legitimasi lomba dan meredam polemik. Bagi sekolah peserta, penyelesaian yang transparan penting agar kompetisi pendidikan tetap dipandang adil dan tidak menimbulkan sentimen negatif berkepanjangan.
Lihat versi asli dari sumber
SEKOLAH Menengah Atas Negeri atau SMAN 1 Pontianak menolak untuk kembali berlaga dalam final lomba cerdas cermat (LLC) empat pilar MPR tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang dinyatakan diulang karena menuai polemik.
Melalui unggahan di akun media sosial Instagram @smansaptk.informasi Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak Indang Maryati mengatakan, menghormati dan mendukung hasil LCC yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat dalam LCC tingkat nasional.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan LCC yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan MPR," tulis pernyataan sikap SMAN I Pontianak yang ditanda tangani Indang Maryati, dikutip Tempo , Kamis, 14 Mei 2026.
Indang melanjutkan, SMAN 1 Pontianak juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi, serta mengajak seluruh pihak untuk menyelesaikan persoalan ini dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai persatuan.
Ia mengatakan, SMAN 1 Pontianak sejak awal tidak pernah memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan.
Apa yang dilakukan SMAN 1 Pontianak, Indang menuturkan, merupakan langkah yang diambil sebagai bagian dari ikhtiar untuk memperoleh konfirmasi dan klarifikasi demi terwujudnya pelaksanaan dan mekanisme kompetisi yang transparan, objektif, dan akuntabel.
Indang menegaskan, sekolahnya juga tidak pernah memiliki tujuan untuk menyerang maupun menjatuhkan kredibilitas lembaga, penyelenggara, maupun individu tertentu dalam kompetisi LCC ini.
Karenanya, ia memohon kepada seluruh pihak, agar ke depan dapat tercipta iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi semua.
"SMAN 1 Pontianak menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian, dukungan, serta kepedulian berbagai pihak dalam menyikapi kondisi ini," ujar Indang.
Sebelumnya, Ketua MPR Ahmad Muzani mengatakan, lembaganya akan menggelar ulang final LCC empat pilar di Kalimantan Barat. "Dewan juri yang akan mengadili dalam LCC tersebut adalah juri independen," kata Muzani di Gedung Nusantara III, Jakarta pada Rabu.
Adapun, LCC MPR di Kalimantan Barat menuai polemik kala dewan juri tidak memberikan penilaian yang adil kepada dua kelompok regu peserta di laga final pada 9, Mei kemarin.
Kejadian ini bermula ketika tiga peserta final, yaitu SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau berebut menjawab pertanyaan 'DPR dalam memilih anggota BPK wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?'.
Regu C SMAN 1 Pontianak menjawab pertama kali dengan mengatakan, anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Dewan juri menilai jawaban itu kurang tepat sehingga memberikan nilai minus 5.
Pertanyaan yang sama kemudian dilempar kembali ke forum, dan Regu B yakni SMAN 1 Sambas mengambil kesempatan dengan menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Dewan juri memutuskan jawaban itu benar dan menganugerahi SMAN 1 Sambas 10 poin. Hal ini kemudian diprotes oleh peserta dari SMAN 1 Pontianak yang lebih dulu memberikan jawaban yang sama.
Namun dewan juri beralasan SMAN 1 Pontianak tidak menyebutkan kata “pertimbangan DPD”. Alasan tersebut dibantah oleh peserta regu C.
Salah satu anggota dewan juri, Indri Wahyuni, menyoroti pentingnya akurasi dari artikulasi peserta saat menyampaikan jawaban. Indri Wahyuni menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR.
"Artikulasi itu penting. Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai," ujar Indri.
Pilihan Editor: Motif MPR Menghidupkan Kembali PPHN
Berita terkait
Indri Wahyuni jadi sorotan usai polemik LCC MPR di Kalbar
Profil Indri Wahyuni, juri LCC MPR yang viral usai polemik jawaban peserta SMAN 1 Pontianak. Sosok “Mrs Artikulasi” kini ramai disorot netizen. Berikut profil lengkapnya.

Indri Wahyuni Disorot Usai Polemik Penilaian LCC 4 Pilar
Segini kisaran gaji dan kekayaan Indri Wahyuni, Juri yang permasalahkan artikulasi di LCC 4 Pilar MPR Kalbar. Indri Wahyuni menjadi salah satu juri ramai diperbincangkan usai memberikan tanggapan kepada peserta lomba cerdas cermat saat mengajukan protes.

Hetifah Minta Final Cerdas Cermat MPR di Kalbar Diulang
Diharapkan peristiwa cerdas cermat ini tidak mengurangi minat dan antusiasme untuk terus aktif mengikuti kegiatan pendidikan dan kebangsaan.

MPR Pertimbangkan Batal Gelar Ulang LCC Empat Pilar di Kalbar
Keputusan akhir soal rencana pertandingan ulang lomba cerdas cermat empat pilar di Kalbar baru akan diputuskan dalam rapat pimpinan MPR pekan depan.

Gibran Beri Motivasi dan Tips Public Speaking ke Peserta LCC MPR
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan motivasi hingga tips public speaking kepada peserta Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR dari SMAN 1 Pontianak.

MPR Pelajari Gugatan atas LCC Empat Pilar di Kalimantan Barat
Pimpinan dan Sekretaris Jenderal MPR mengaku belum mengetahui ihwal gugatan penyelenggaraan LCC empat pilar di Kalimantan Barat.