Live|
VIVAVersi JafmoNewsNetral13 Mei 2026 pukul 22.23

Film Dokumenter Soroti Transisi Energi di Wilayah 3T Kalimantan

Film dokumenter Pelita Asa mengangkat perjalanan transisi energi di wilayah 3T Kalimantan lewat PLTS komunal untuk mendorong akses listrik dan ekonomi warga.

Film Dokumenter Soroti Transisi Energi di Wilayah 3T Kalimantan

Film dokumenter Pelita Asa menyoroti perjalanan masyarakat di wilayah 3T Kalimantan Timur dalam menghadapi transisi energi di tengah target Indonesia mencapai emisi nol bersih pada 2060. Karya ini menggambarkan bahwa ambisi nasional untuk memperluas energi bersih masih berhadapan dengan kenyataan di sejumlah daerah penghasil energi yang justru belum sepenuhnya menikmati akses listrik memadai.

Melalui kisah warga di Dusun Donomulyo, Kelurahan Manggar, dan Desa Muara Enggelam, film tersebut memperlihatkan tantangan berlapis yang dihadapi masyarakat. Tiga wilayah ini dipilih karena merepresentasikan persoalan utama dalam peralihan dari batu bara ke energi terbarukan, mulai dari dampak kerusakan lingkungan akibat tambang batu bara, keterbatasan akses listrik dan gas, hingga kekhawatiran atas hilangnya sumber penghidupan warga.

Salah satu perhatian utama film ini adalah Desa Muara Enggelam yang tidak memiliki jalur darat sehingga pembangunan jaringan listrik konvensional sulit dilakukan. Selama ini, warga hanya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang beroperasi terbatas dari sore hingga malam hari. Dalam cuplikan film, staf Kaur Keuangan Desa Muara Enggelam, Aliansyah, menyebut kondisi tersebut membuat warga harus mandiri karena keterbatasan yang mereka hadapi sangat nyata.

Sebagai respons, masyarakat desa membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BumDes). Pembangunan itu dilakukan secara gotong royong karena dianggap paling sesuai dengan kebutuhan setempat. Kehadiran PLTS komunal kemudian memberi manfaat lebih luas, bukan hanya menambah akses listrik, tetapi juga membantu aktivitas ekonomi warga pada siang hari.

Warga kini dapat menggunakan peralatan elektronik di siang hari dan menjalankan usaha kecil dengan lebih optimal. Perwakilan BumDes Desa Muara Enggelam, Jam Ah, mengatakan keberadaan PLTS membuat masyarakat merasa lebih nyaman karena bisa memakai televisi, kipas angin, blender, hingga mesin cuci pada siang hari. Ia juga menilai usaha kecil dan menengah, termasuk warung-warung milik ibu-ibu, ikut tumbuh karena listrik tersedia, sementara BumDes mampu menyerap tenaga kerja dari warga sekitar.

Sudut pandang lain

Kisah dalam film ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya soal mengganti sumber listrik, tetapi juga soal pemerataan akses pembangunan. Di wilayah terpencil, energi terbarukan dapat menjadi solusi yang lebih realistis dibanding perluasan jaringan konvensional, terutama ketika kondisi geografis menjadi penghambat utama.

Dari sisi sosial-ekonomi, kehadiran PLTS komunal memberi gambaran bahwa proyek energi bersih bisa langsung berdampak pada produktivitas rumah tangga dan usaha kecil. Namun, keberlanjutan model seperti ini tetap bergantung pada pengelolaan lokal, dukungan pembiayaan, serta kemampuan menjaga operasional agar manfaatnya tidak berhenti pada tahap awal pembangunan.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta, VIVA – Indonesia menargetkan emisi nol bersih (net zero emission/NZE) tercapai pada tahun 2060 sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon dan memperluas penggunaan energi bersih. Di tengah ambisi besar transisi energi nasional, sejumlah wilayah penghasil energi masih menghadapi keterbatasan akses listrik.

Realita ini diangkat dalam film dokumenter Pelita Asa yang menyoroti perjalanan masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dalam menghadapi transisi energi dari batu bara menuju energi terbarukan. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa mulai membangun kemandirian energi melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS ) komunal.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penonton diajak menyusuri kehidupan masyarakat di Dusun Donomulyo, Kelurahan Manggar, dan Desa Muara Enggelam di Kalimantan Timur. Ketiga desa 3T ini dipilih karena merepresentasikan tantangan besar dalam transisi energi, mulai dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang batu bara, keterbatasan akses listrik dan gas, hingga ancaman hilangnya lapangan pekerjaan masyarakat.

Desa Muara Enggelam menjadi salah satu contoh wilayah yang mengalami keterbatasan akses energi. Desa tersebut tidak memiliki jalur darat sehingga pembangunan jaringan listrik konvensional sulit dilakukan. Selama ini warga hanya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang beroperasi terbatas dari sore hingga malam hari.

“Di seluruh kecamatan Muara Wis ini hanya Desa Muara Enggelam saja yang tidak punya akses jalur darat. Karena keterbatasan ini, kami dipaksa harus mandiri," ucap Staff Kaur Keuangan Desa Muara Enggelam, Aliansyah, dalam cuplikan film Pelita Asa.

Kondisi itu mendorong masyarakat desa mencari solusi mandiri dengan membangun PLTS komunal yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BumDes). Aliansyah mengatakan, masyarakat desa bahu-membahu membangun PLTS karena hanya ini yang bisa kami dapatkan dan sesuai dengan kebutuhan Desa Muara Enggelam.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kehadiran PLTS komunal tidak hanya membantu memperluas akses listrik, tetapi juga mulai mendorong aktivitas ekonomi masyarakat desa. Kini, warga dapat menggunakan peralatan elektronik pada siang hari dan menjalankan usaha kecil dengan lebih optimal.

“Kalau menurut saya pribadi, menyenangkan dan bahagia. Bisa menggunakan televisi, kipas angin, blender dan mesin cuci di siang hari. Untuk ibu-ibu, setelah ada PLTS, usaha kecil dan menengah (UKM) warung-warung juga meningkat karena sudah bisa menggunakan listrik, dan dari sisi BumDes banyak merangkul karyawan dari masyarakat sendiri,” jelas perwakilan BumDes Desa Muara Enggelam, Jam Ah.

Dirangkum dari VIVA · oleh Ayesha Puri

Berita terkait