Live|
VIVAVersi JafmoNewsNetral13 Mei 2026 pukul 22.31

Petani Bawang Merah Nganjuk Siapkan Air Hadapi El Nino

Petani bawang merah di Nganjuk mengantisipasi ancaman El Nino dengan memperkuat pasokan air melalui sumur sibel demi menjaga produksi tetap stabil. Baca di sini

Petani Bawang Merah Nganjuk Siapkan Air Hadapi El Nino

Petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi ancaman El Nino. Fokus utama mereka adalah memastikan pasokan air tetap tersedia selama musim kemarau agar budidaya bawang merah tidak terganggu dan hasil panen tetap terjaga.

Pembina Gapoktan Karya Abadi, Bambang Suparno, mengatakan kebutuhan air merupakan faktor penting dalam budidaya bawang merah. Tanaman ini memerlukan air dalam jumlah cukup, tetapi tidak boleh berlebihan. Karena itu, kelompok tani di wilayahnya dibantu pembangunan sumur sibel untuk mendukung pengairan lahan, terutama saat cuaca kering. Menurut Bambang, saat ini kebutuhan air harus dipastikan aman karena dampak El Nino diperkirakan menekan ketersediaan air di lahan pertanian.

Ia menjelaskan, hampir 12 titik sumur sibel telah dibangun untuk menunjang produksi bawang merah di daerah tersebut. Selain itu, sebagian petani juga mulai beralih menggunakan listrik untuk mengoperasikan pompa air di sawah. Langkah ini diambil karena biaya bahan bakar dinilai semakin tinggi, sehingga penggunaan listrik dianggap lebih efisien untuk kebutuhan operasional.

Dari sisi varietas, bawang merah Tajuk masih menjadi andalan petani Nganjuk karena dianggap produktif dan mampu beradaptasi pada dua musim. Bambang menyebut varietas ini bisa menghasilkan sekitar 24 ton per hektare pada musim kemarau, dan 12-17 ton per hektare pada musim hujan. Ketahanan produksi tersebut membuat Tajuk banyak digunakan petani di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan, Aceh, hingga Papua.

Selain hasil panen yang tinggi, varietas Tajuk juga dinilai punya daya simpan baik sehingga cocok dijadikan benih. Bambang menambahkan, benih menjadi komponen utama dalam budidaya bawang merah, sehingga banyak petani menyimpan sebagian hasil panen untuk dipakai pada musim tanam berikutnya. Saat ini, harga benih bawang merah juga mengalami kenaikan dan berada di kisaran Rp56.000-Rp57.000 per kilogram, seiring meningkatnya kebutuhan menjelang masa tanam di Nganjuk yang diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Juli.

Sudut pandang lain

Langkah petani Nganjuk memperkuat sumber air menunjukkan bahwa ketahanan produksi hortikultura sangat bergantung pada infrastruktur irigasi skala kecil. Dalam kondisi iklim yang makin tidak menentu, sumur sibel dan efisiensi energi menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasokan bawang merah.

Di sisi lain, kenaikan harga benih menjelang masa tanam berpotensi menambah beban biaya produksi petani. Jika tidak diimbangi dengan ketersediaan air dan pengelolaan input yang baik, tekanan cuaca serta biaya operasional dapat berdampak pada margin usaha tani bawang merah.

Lihat versi asli dari sumber

Surabaya, VIVA – Ancaman El Nino mulai diantisipasi petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Salah satu langkah yang dilakukan ialah memastikan ketersediaan air tetap aman selama musim kemarau agar produksi bawang merah tidak terganggu.

Pembina Gapoktan Karya Abadi, Bambang Suparno, mengatakan kebutuhan air menjadi faktor penting dalam budidaya bawang merah. Menurutnya, tanaman bawang membutuhkan pasokan air yang cukup, tetapi tidak boleh berlebihan.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami dibantu pembangunan sumur sibel untuk kebutuhan air budidaya. Karena bawang merah butuh air tapi tidak mau kelebihan air. Sekarang menghadapi El Nino, jadi kebutuhan air harus dipastikan aman,” ujar Bambang.

Ia menjelaskan, kelompok tani di wilayahnya telah membangun hampir 12 titik sumur sibel untuk mendukung budidaya bawang merah. Selain itu, petani juga mulai beralih menggunakan listrik untuk operasional pompa air di sawah karena biaya bahan bakar semakin tinggi.

Menurut Bambang, varietas bawang merah Tajuk masih menjadi andalan petani Nganjuk karena dinilai memiliki produktivitas tinggi dan mampu beradaptasi di musim kemarau maupun musim hujan.

“Varietas ini keunggulannya cocok di musim kemarau dengan produktivitas 24 ton per hektare, bahkan bisa di atasnya. Di musim hujan 12-17 ton per hektare. Jadi kuat batas produksinya di musim kemarau dan juga kuat di musim hujan,” katanya.

Varietas tersebut saat ini banyak digunakan petani di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sulawesi Selatan, Aceh, hingga Papua. Selain produktivitasnya tinggi, varietas Tajuk juga dinilai memiliki daya simpan yang baik sehingga cocok digunakan sebagai benih.

Bambang mengatakan benih bawang merah menjadi komponen utama dalam budidaya. Karena itu, banyak petani memilih menyimpan sebagian hasil panen untuk dijadikan calon benih musim berikutnya.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini harga benih bawang merah juga mengalami kenaikan seiring meningkatnya kebutuhan menjelang masa tanam di Nganjuk yang diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Juli.

“Per hari ini bibit itu trennya naik. Hari ini harga sudah Rp56.000-Rp57.000 per kilogram. Tidak menutup kemungkinan ketika Nganjuk masa tanamnya nanti sebulan lagi, di awal bulan 6 sampai akhir bulan 6, bisa-bisa naik lagi,” ujarnya.

Dirangkum dari VIVA · oleh Siska Permata Sari

Berita terkait