Live|
OkezoneVersi JafmoNewsNegatif11 Mei 2026 pukul 16.00

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.414 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini Senin 11 5 2026 , turun 32 poin atau sekitar 18 persen ke level Rp17.414 per dolar AS.

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.414 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Rupiah turun 32 poin atau sekitar 18 persen dan berakhir di level Rp17.414 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan tersebut dipicu oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tanggapan Iran atas proposal perdamaian Washington “sama sekali tidak dapat diterima”, sehingga harapan meredanya konflik di kawasan Teluk kembali menipis.

Menurut Ibrahim, komentar Trump itu muncul setelah Iran menyampaikan balasan melalui mediator Pakistan terhadap kerangka perdamaian yang diajukan Amerika Serikat. Dalam usulan awal, Washington dikabarkan menginginkan penghentian pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan stok uranium yang sangat diperkaya, serta pembongkaran fasilitas nuklir utama. Sebagai imbalannya, AS menawarkan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.

Di sisi lain, Iran disebut meminta pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan atas haknya untuk tetap menjalankan sebagian aktivitas nuklir. Laporan media juga menyebut Iran menawarkan pengurangan sebagian uranium yang sangat diperkaya dan pemindahan sisanya ke negara ketiga.

Investor kini masih mencermati situasi Selat Hormuz yang sebagian besar tertutup sejak konflik memanas. Ketegangan ini terjadi menjelang kunjungan Trump ke China pada akhir pekan ini, ketika ia dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Sudut pandang lain

Pelemahan rupiah dalam kasus ini menunjukkan betapa sensitifnya mata uang emerging market terhadap perkembangan geopolitik global. Ketika ketegangan di kawasan strategis seperti Teluk meningkat, pelaku pasar cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga tekanan pada mata uang negara berkembang ikut membesar.

Selain itu, fokus investor pada Selat Hormuz memperlihatkan bahwa pasar tidak hanya bereaksi pada pernyataan politik, tetapi juga pada potensi gangguan pasokan energi dan jalur perdagangan. Jika ketegangan berlanjut, dampaknya bisa merambat ke harga komoditas, inflasi, dan stabilitas pasar keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Lihat versi asli dari sumber

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini Senin (11/5/2026), turun 32 poin atau sekitar 18 persen ke level Rp17.414 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa sentimen datang dari global yaitu Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS "sama sekali tidak dapat diterima", sehingga meningkatkan risiko geopolitik.

“Pada hari Minggu, Trump menolak proposal balasan terbaru Teheran terhadap kerangka perdamaian Washington, dengan mengatakan bahwa tanggapan Iran ‘sama sekali tidak dapat diterima’. Komentar tersebut meredam harapan akan meredanya ketegangan dalam waktu dekat di kawasan Teluk,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Proposal asli AS dilaporkan menginginkan penghentian kegiatan pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.

Tanggapan Iran, yang disampaikan melalui mediator Pakistan, dilaporkan menuntut pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan hak Iran untuk melanjutkan beberapa aktivitas nuklir.

Wall Street Journal melaporkan bahwa Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang sangat diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga. Investor tetap fokus pada Selat Hormuz, yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik.

Ketegangan geopolitik ini terjadi menjelang kunjungan Trump ke China yang dijadwalkan akhir pekan ini, di mana ia diperkirakan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

© 2007 - 2026 Okezone.com, All Rights Reserved

Dirangkum dari Okezone · oleh https://www.facebook.com/OkezoneCom

Berita terkait