Omzet Pedagang Alat Kesehatan di Pasar Pramuka Turun
Alkes yang mengalami kenaikan signifikan adalah yang terbuat dari bahan plastik, seperti apron atau celemek sekali pakai.
/data/photo/2026/05/14/6a05e89355f9f.jpg)
Sejumlah pedagang alat kesehatan di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, mengeluhkan penurunan omzet di tengah kenaikan harga barang dagangan. Kenaikan harga membuat pembeli lebih berhati-hati, bahkan sebagian batal bertransaksi karena harga jual ikut naik mengikuti modal yang membengkak.
Wati, pedagang berusia 45 tahun, mengatakan omzet tokonya turun sekitar dua persen. Menurut dia, kondisi itu terjadi karena harga alkes yang dijualnya meningkat setelah modal belanja dari distributor ikut naik. Ia menyebut kenaikan tersebut dipicu konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada barang impor dan produk berbahan plastik.
Pedagang lain, Yuli, 25 tahun, merasakan penurunan yang lebih besar. Ia menyebut omzetnya turun sekitar 10 persen karena banyak pembeli mengurungkan niat untuk membeli. Salah satu barang yang paling terasa kenaikannya adalah sarung tangan nitrile, yang sebelumnya sekitar Rp 40.000 per boks kini menjadi Rp 65.000 per boks. Kursi roda juga ikut naik, dari modal sekitar Rp 850.000 menjadi Rp 900.000, dan dijual sekitar Rp 1 jutaan.
Pedagang lain bernama Bara, yang tidak disebutkan nama aslinya, mengatakan penurunan omzetnya bahkan mencapai 50 persen. Ia menuturkan, barang berbahan plastik seperti apron atau celemek sekali pakai mengalami lonjakan harga paling signifikan. Jika sebelumnya modal barang itu berada di kisaran Rp 85.000 sampai Rp 90.000, kini sudah sekitar Rp 115.000. Bara menjualnya seharga Rp 125.000 untuk isi 50 lembar.
Kondisi ini menunjukkan tekanan pada pedagang alat kesehatan di tingkat pasar, terutama ketika rantai pasok dan biaya impor turut terdampak. Bagi pedagang, kenaikan modal tidak selalu bisa langsung diteruskan ke harga jual tanpa berisiko menurunkan minat beli masyarakat.
Sudut pandang lain
Kenaikan harga alat kesehatan di pasar ritel menunjukkan rentannya usaha kecil terhadap gangguan pasokan global, terutama untuk barang impor dan berbahan baku tertentu. Ketika harga modal naik, pedagang di tingkat pasar menjadi pihak pertama yang merasakan penurunan volume penjualan.
Dari sisi konsumen, kondisi ini berpotensi memengaruhi akses terhadap alat kesehatan yang lebih terjangkau, khususnya untuk barang kebutuhan harian seperti sarung tangan, apron, dan kursi roda. Jika tekanan harga berlanjut, pedagang bisa menghadapi dilema antara mempertahankan margin dan menjaga daya beli pembeli.
Lihat versi asli dari sumber
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pedagang di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, mengaku omzetnya merosot di tengah lonjakan harga alat kesehatan (alkes).
"Ada sedikit penurunan. Ya, paling sekitar dua persen," kata salah satu pedagang bernama Wati (45) ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis (14/5/2026).
Omzetnya menurun karena harga dagangannya mengalami peningkatan, sehingga pembeli berpikir ulang untuk berbelanja.
Kenaikan harga tersebut disebabkan karena modal belanja para pedagang dari distributor juga meningkat imbas konflik di Timur Tengah.
Mengingat sebagian besar alkes didapatkan pedagang secara impor dan banyak yang terbuat dari plastik.
Pedagang lain, Yuli (25), juga mengaku omzetnya mengalami penurunan di tengah harga belanja yang meningkat.
"Iya, banyak pembeli yang enggak jadi. Omzet menurun sekitar 10 persen," kata dia di lokasi.
Salah satu alkes yang kenaikannya paling signifikan adalah sarung tangan jenis nitrile yang dulu harga belanjanya hanya sekitar Rp 40.000, kini menjadi Rp 65.000 per boksnya.
Kemudian, kursi roda juga mengalami kenaikan signifikan, yang biasa modalnya hanya sekitar Rp 850.000 menjadi Rp 900.000.
Pedagang menjual kursi roda tersebut dengan harga Rp 1 jutaan.
Sedangkan pedagang lain Bara (bukan nama sebenarnya, 50), mengaku penurunan omzetnya mencapai setengah dari biasanya.
"Iya, sangat terasa. Penurunannya bisa mencapai 50 persen," kata dia di lokasi.
Bara bilang, alkes yang mengalami kenaikan signifikan yang terbuat dari bahan plastik, seperti apron atau celemek sekali pakai.
"Dulu harganya sekitar Rp 85.000 sampai Rp 90.000, sekarang modalnya sudah Rp 115.000 rupiah. Saya menjualnya Rp 125.000 untuk isi 50 lembar," kata Bara.
Berita terkait

Harga BBM Nonsubsidi Naik di Sejumlah SPBU pada Mei 2026
Harga Bahan Bakar Minyak BBM telah resmi naik pada Mei 2026. Kenaikan harga BBM ini berlaku di seluruh SPBU seperti Pertamina, Shell, Vivo dan BP
Pedagang Tempe di Pacitan Diserang Cairan Diduga Air Keras
Polres Pacitan menyelidiki kasus penyiraman cairan yang diduga air keras terhadap seorang pedagang tempe bernama Eko Susanto di Pacitan pada Rabu 13 Mei 2026.

BI Nilai Pelemahan Rupiah Bersifat Sementara
BI meyakini pelemahan rupiah saat ini bersifat sementara karena fondasi makroekonomi nasional dinilai masih solid dibandingkan banyak negara
Arab Saudi Dikabarkan Lakukan Serangan Balasan ke Iran
Arab Saudi dilaporkan melancarkan sejumlah serangan yang tidak dipublikasikan terhadap Iran sebagai respons atas serangan yang sebelumnya dilakukan ke wilayah kerajaan
Puan Soroti Tekanan Rupiah di Tengah Konflik Timur Tengah
Puan menjelaskan bahwa RI kini berada dalam tekanan, yaitu melemahnya nilai tukar rupiah imbas konflik geopolitik. Salah satu penyebab utamanya penutupan Selat Hormuz.
Maskapai Korea Selatan Pangkas Penerbangan karena Biaya Bahan Bakar Naik
Maskapai berbiaya rendah Korea Selatan memangkas 900 penerbangan pulang pergi serta menerapkan cuti tanpa gaji dan langkah darurat lain akibat kenaikan harga bahan bakar.