Polisi Selidiki Dugaan TPPO dalam Evakuasi 11 Bayi di Sleman
Polisi menyelidiki dugaan pidana terkait evakuasi 11 bayi dari rumah di Sleman. Indikasi penelantaran dan perdagangan anak sedang didalami.

Polisi masih menyelidiki dugaan unsur pidana dalam kasus evakuasi 11 bayi dari sebuah rumah di Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aparat mendalami kemungkinan adanya penelantaran, perdagangan anak, atau tindak pidana lain yang terkait dengan keberadaan belasan bayi tersebut di lokasi itu.
Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi mengatakan pihaknya telah memintai keterangan dari enam orang tua yang menitipkan anaknya di tempat tersebut. Hingga Selasa (12/5), polisi total telah memeriksa 11 saksi. Selain para orang tua bayi, saksi lain yang dimintai keterangan adalah bidan berinisial ORP, kedua orang tuanya, pembantu ORP, serta dukuh Randu Wonokerso, Hargobinangun.
Sebelumnya, 11 bayi dievakuasi petugas kepolisian bersama instansi terkait pada Jumat (8/5) sore dari rumah di Padukuhan Randu Wonokerso, Hargobinangun, Pakem. Rumah itu merupakan kediaman orang tua bidan ORP, yang disebut membantu proses persalinan belasan bayi tersebut sejak sekitar lima bulan lalu. Awalnya, polisi menerima informasi yang dinilai janggal terkait keberadaan banyak bayi di rumah itu, sementara perawatan dilakukan oleh tiga orang.
Dari hasil penanganan awal, tiga bayi dirawat di rumah sakit, dua bayi diambil oleh orang tua masing-masing, dan enam bayi lainnya dievakuasi ke Dinas Sosial Sleman. Polisi juga menyebut para bayi itu lahir di wilayah Banyuraden, Gamping, dengan bantuan bidan ORP. Kasus ini bermula dari seorang ibu yang melahirkan di tempat praktik bidan tersebut lalu menitipkan bayinya, sebelum kemudian diketahui ada bayi-bayi lain dengan pola serupa.
Polisi menyampaikan bahwa mayoritas dari 11 bayi itu merupakan anak hasil hubungan di luar nikah. Di sisi lain, tempat praktik mandiri bidan ORP di Modinan, Banyuraden, Gamping, Sleman, pada Selasa siang masih terlihat beroperasi. Saat pantauan dilakukan, ada dua petugas berjaga dan seorang pria serta perempuan menunggu di kursi tunggu, sementara ORP disebut berada di lokasi namun belum bisa dimintai keterangan karena masih sibuk.
Sudut pandang lain
Kasus ini menyoroti rapuhnya pengawasan terhadap praktik penitipan bayi dan layanan persalinan di level komunitas. Jika dugaan penelantaran atau TPPO terbukti, perkara ini tidak hanya berkaitan dengan pidana, tetapi juga perlindungan anak dan tanggung jawab sosial terhadap ibu serta bayi yang rentan.
Di sisi lain, fakta bahwa sebagian bayi berasal dari hubungan di luar nikah menunjukkan adanya tekanan sosial yang mungkin mendorong orang tua mencari jalur penitipan informal. Kondisi ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan layanan sosial untuk memperkuat pendampingan, agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Lihat versi asli dari sumber
Polisi masih mendalami dugaan unsur pidana dalam peristiwa 11 bayi yang dievakuasi dari sebuah rumah di Hargobinangun, Pakem, Sleman , DIY pekan lalu.
Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi menuturkan, pihaknya masih menyelami indikasi penelantaran, perdagangan anak, atau tindak pidana lain pada peristiwa ini.
Oleh karenanya, polisi telah memintai keterangan dari enam orang tua yang anaknya dititipkan ke lokasi termaksud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masih anev (analisis dan evaluasi) dan gelar untuk orang tua, sementara masih tetap (belum ada perkembangan)," kata Wiwit, Selasa (12/5).
Sejauh ini, polisi telah memintai keterangan terhadap total 11 saksi. Selain 6 orang tua bayi, sisanya adalah bidan berinisial ORP, kedua orang tua beserta pembantu ORP dan dukuh Randu Wonokerso, Hargobinangun.
Sebelumnya, sebanyak 11 bayi dievakuasi oleh petugas kepolisian dari sebuah rumah di Padukuhan Randu Wonokerso Hargobinangun, Pakem, Sleman. Rumah itu adalah kediaman orang tua bidan ORP yang membantu persalinan belasan bayi tersebut sejak 5 bulan lalu.
Dilansir detikJogja , Senin (11/5), Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Mateus Wiwit Kustiyadi menjelaskan awalnya petugas menerima informasi yang janggal terkait keberadaan belasan bayi di rumah tersebut. Bayi-bayi itu dirawat oleh tiga orang.
Wiwit menjelaskan, 11 bayi tersebut kemudian dievakuasi pada Jumat (8/5) sore bersama dinas terkait. Tiga bayi dirawat di rumah sakit, dua diambil orang tua, sementara enam bayi lainnya dievakuasi Dinas Sosial Sleman.
Wiwit menjelaskan, 11 bayi tersebut dilahirkan di wilayah Banyuraden, Gamping dibantu bidan berinisial ORP. Berawal dari adanya satu ibu yang melahirkan di bidan itu dan kemudian menitipkan bayi yang dilahirkan.
Polisi pun mengungkap 11 bayi yang dievakuasi tersebut mayoritas merupakan anak dari hubungan di luar nikah.
Sementara, berdasarkan pantauan tempat praktik mandiri bidan berinisial ORP yang berlokasi di Modinan, Banyuraden, Gamping, Sleman masih beroperasi pada Selasa (12/5) siang.
Tempat ini disebut sebagai lokasi penitipan 11 bayi yang dievakuasi dari sebuah rumah milik orangtua sang bidan di Hargobinangun, Pakem, Sleman.
Berdasarkan pantauan, ada dua petugas yang berjaga. Sementara di luar, tampak seorang pria dan perempuan menunggu di kursi tunggu.
Salah seorang petugas perempuan menyebut ORP ada di lokasi, kendati yang bersangkutan masih sibuk dan belum bisa dimintai keterangan.
Berita terkait

WNA India Diduga Bunuh Diri di Tahanan Imigrasi Surabaya
WNA India diduga bunuh diri di ruang detensi Imigrasi Surabaya setelah overstay 248 hari.

Menag Dorong Pesantren Jadi Ruang Aman bagi Anak
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pesantren harus terus menjadi ruang paling aman bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan hidup bermartabat, ...
Polres Dompu Usut Dugaan Rudapaksa Anak Lewat Media Sosial
Polres Dompu menaruh atensi terkait kasus dugaan rudapaksa terhadap anak yang berawal dari perkenalan dengan terduga pelaku via media sosial (medsos).

LPSK Asesmen Perlindungan bagi Santriwati Korban di Pati
LPSK melakukan asesmen untuk melindungi santriwati korban pelecehan di Pati. Tersangka, kiai pendiri pesantren, diduga manipulasi dan ancam korban.

FOTO: Langkah dan Pesan Damai 57 Biksu Lintas Negara Menyisir Jawa
57 biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia berjalan lebih dari 600 kilometer dari Bali menuju Borobudur.

FOTO: Melihat Museum Marsinah di Nganjuk
Jejak Marsinah kini diabadikan di museum yang menampilkan perjalanan hidup serta kiprahnya sebagai aktivis buruh. Marsinah bergelar Pahlawan Nasional.