Telkom Catat Laba Rp 17,8 Triliun dan Perkuat Transformasi Digital
Catatan positif itu mencerminkan keberlanjutan penciptaan nilai bagi pemegang saham.
/data/photo/2026/05/12/6a02c53d0d240.jpg)
Telkom Indonesia menutup Tahun Buku 2025 dengan kinerja yang tetap solid di tengah agenda transformasi perusahaan. Perseroan membukukan laba bersih Rp 17,8 triliun dengan margin 12,1 persen, sementara laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp 22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. Capaian itu ditopang pendapatan konsolidasi Rp 146,7 triliun serta EBITDA konsolidasi Rp 72,2 triliun dengan margin 49,2 persen.
Dalam ukuran yang dinormalisasi, EBITDA Telkom tercatat Rp 73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Perseroan juga mencatat imbal hasil total pemegang saham atau total shareholder return (TSR) sebesar 35,7 persen sepanjang 2025, terdiri dari keuntungan modal 28,4 persen dan imbal hasil dividen 7,3 persen. Menurut perseroan, capaian ini menunjukkan respons pasar yang positif terhadap strategi transformasi yang dijalankan.
Telkom juga menegaskan komitmen untuk menjaga pengembalian nilai kepada pemegang saham. Untuk Tahun Buku 2024, rasio pembagian dividen ditetapkan sebesar 89 persen, sementara program pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp 3 triliun masih berlangsung hingga Mei 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor di tengah tantangan makroekonomi dan tekanan industri telekomunikasi.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut strategi TLKM 30 sebagai arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mempercepat visi perusahaan menjadi penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global. Melalui strategi tersebut, Telkom menjalankan empat pilar utama, yakni peningkatan operational and service excellence, penataan portofolio non-core business, penguatan nilai bisnis infrastruktur digital seperti konektivitas fiber, serta perubahan dari operating holding menjadi strategic holding.
Pada pilar penataan portofolio, Telkom melanjutkan divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026. Di sisi infrastruktur, pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia telah ditandai dengan penandatanganan conditional spin-off agreement pada Desember 2025. Seluruh langkah ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, utilisasi aset, serta return on assets, sekaligus memperkuat kontribusi pada konektivitas nasional.
Selain transformasi bisnis, Telkom juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset dari Danantara Indonesia. Penyesuaian itu berdampak pada kontraksi laba bersih secara tahunan sebesar 9,5 persen karena peningkatan beban percepatan depresiasi. Perseroan turut melakukan restatement atas laporan keuangan 2023 dan 2024 untuk memperkuat akurasi pelaporan, transparansi, serta disiplin tata kelola aset.
Sudut pandang lain
Dari sisi pasar modal, capaian TSR 35,7 persen menunjukkan bahwa investor masih menaruh kepercayaan pada langkah restrukturisasi Telkom, terutama karena perusahaan menggabungkan pertumbuhan bisnis digital dengan kebijakan dividen dan buyback. Bagi emiten telekomunikasi besar, kombinasi ini penting untuk menjaga daya tarik saham di tengah kompetisi industri dan kebutuhan investasi jaringan yang tinggi.
Di sisi tata kelola, penyelarasan kebijakan akuntansi dan restatement laporan keuangan dapat dibaca sebagai upaya memperkuat transparansi pada fase transformasi. Meski berpotensi menekan laba jangka pendek akibat depresiasi yang lebih cepat, langkah tersebut bisa membantu perusahaan menampilkan kondisi aset dan kinerja yang lebih akurat bagi investor, regulator, dan pemangku kepentingan lain.
Lihat versi asli dari sumber
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom menutup kinerja Tahun Buku 2025 dengan hasil optimal.
Seiring percepatan eksekusi agenda transformasi perusahaan, catatan positif itu mencerminkan keberlanjutan penciptaan nilai bagi pemegang saham.
Telkom mencatat laba bersih ( net income ) sebesar Rp 17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi tercatat sebesar Rp 22,7 triliun dengan margin laba bersih yang dinormalisasi 15,4 persen.
Pencapaian tersebut diperoleh dari pendapatan konsolidasi perseroan yang mencapai Rp 146,7 triliun.
Adapun laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) konsolidasi perseroan pada 2025 tercatat sebesar Rp 72,2 triliun dengan EBITDA margin 49,2 persen. Sementara, EBITDA yang dinormalisasi tercatat sebesar Rp 73,2 triliun dengan margin EBITDA yang dinormalisasi sebesar 49,9 persen.
Sejalan dengan arah transformasi dan penguatan fundamental, perseroan mencatat imbal hasil total pemegang saham (TSR) sebesar 35,7 persen sepanjang 2025 dengan keuntungan modal sebesar 28,4 persen dan imbal hasil dividen 7,3 persen.
Hal tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom.
Strategi itu juga didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui rasio pembagian dividen sebesar 89 persen untuk pembayaran Tahun Buku 2024 serta pelaksanaan program pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp 3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026.
Akselerasi eksekusi strategi transformasi TLKM 30
Di tengah tekanan kondisi makroekonomi dan tantangan yang dihadapi sektor telekomunikasi dalam beberapa tahun terakhir, Telkom secara konsisten beradaptasi dan bertransformasi, baik dari sisi strategi perusahaan, model bisnis, maupun produk dan layanan.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi telah menjadi fokus utama perseroan sejak 2025.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Dian dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Melalui strategi transformasi jangka menengah TLKM 30, lanjutnya, Telkom fokus pada eksekusi empat pilar besar.
Pilar pertama adalah Operational and Service Excellence yang hadir sebagai upaya memperkuat prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Hal ini juga mendorong peningkatan disiplin organisasi yang berkelanjutan, termasuk budaya kerja unggul, proses yang efisien, serta peningkatan kualitas layanan untuk mendukung pengalaman pelanggan yang lebih baik.
Pada pilar transformasi kedua, perseroan melakukan streamlining sebagai strategi penataan portofolio non-core business agar dapat kembali mendorong kontribusi yang lebih optimal dan efisiensi operasional serta meningkatkan keunggulan kompetitif pada core business di sektor telekomunikasi dan digital.
Implementasi strategi tersebut tecermin melalui proses divestasi AdMedika dan anak usahanya, TelkoMedika , yang telah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.
Dian memaparkan, divestasi penuh atas AdMedika dan TelkoMedika juga akan berkontribusi terhadap peningkatan arus dividen ( dividend stream ). Beberapa entitas dengan bisnis serupa atau tidak sesuai dengan core business di ekosistem TelkomGroup juga sedang dirampingkan.
Selanjutnya, pada pilar transformasi ketiga, perseroan berfokus pada upaya peningkatan nilai tambah ( unlock value ). Salah satunya dilakukan melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, yakni konektivitas fiber.
“Inisiatif itu ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan return on assets (ROA), sekaligus memperluas kontribusi Telkom dalam mendukung konektivitas nasional,” tutur Dian.
Pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia ditandai dengan penandatanganan conditional spin-off agreement (CSA) pada Desember 2025 yang merupakan fase carve-out tahap pertama.
Langkah itu juga menjadi bagian dari arah transformasi menuju strategic holding yang lebih fokus pada penguatan penciptaan nilai, pengelolaan portofolio bisnis yang lebih optimal, serta percepatan eksekusi strategi secara berkelanjutan.
Sebagai pilar transformasi keempat, Telkom tengah menjalankan modus-operandi shift , yakni perubahan dari operating holding menjadi strategic holding .
Transformasi tersebut mencakup delayering guna memperkuat fokus bisnis di empat segmen Operating Company (OpCo), yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Sebagai entitas strategic holding , Telkom akan berfokus pada sinergi penciptaan nilai dan penguatan tata kelola antarsegmen. Sementara itu, operasional bisnis dijalankan di entitas OpCo dengan lini usaha yang lebih terfokus.
“Transformasi itu diharapkan semakin memperkuat fundamental perusahaan, mengharmonisasi lini bisnis sehingga tidak terjadi tumpang tindih, sekaligus meningkatkan penciptaan nilai yang berkelanjutan,” kata Dian.
Perubahan kebijakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan
Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi guna meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk memastikan prinsip yang digunakan dalam menentukan satuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.
Hal itu menyebabkan performa laba bersih mengalami kontraksi sebesar 9,5 persen secara tahunan ( yoy ) sebagai dampak peningkatan beban percepatan depresiasi.
Seiring penerapan kebijakan tersebut, perseroan turut melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024.
Inisiatif itu sekaligus memperkuat praktik tata kelola yang transparan, prinsip kehati-hatian, dan disiplin dalam pengelolaan aset.
Inisiatif tersebut pun sejalan dengan implementasi pilar pertama TLKM 30, yakni Operational and Service Excellence.
Pemulihan pasar di segmen B2C
Segmen B2C yang mencakup mobile dan fixed broadband masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perseroan.
Sebagai OpCo yang fokus pada segmen B2C, Telkomsel berhasil membukukan pendapatan tahun buku 2025 sebesar Rp 109,2 triliun secara konsolidasian.
Dian mengatakan, peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas mendorong kenaikan signifikan traffic data sebesar 15 persen yoy .
“ Average revenue per user (ARPU) juga bergerak ke arah pemulihan positif yang menunjukkan kondisi pasar lebih stabil mulai paruh kedua 2025 dan diperkirakan secara bertahap akan terus meningkat sejalan dengan kompetisi industri yang lebih sehat,” papar Dian.
Pada 2026, Telkomsel akan terus fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan memastikan keunggulan kualitas jaringan guna menekan angka perpindahan pelanggan. Langkah ini diiringi dengan penguatan ekosistem digital agar layanan Telkomsel tetap relevan bagi masyarakat.
Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah kini dilakukan secara lebih terarah dengan memperhatikan kemampuan belanja masyarakat serta memastikan efektivitas pemanfaatan modal untuk menjaga pertumbuhan perusahaan yang sehat dalam jangka panjang.
Kinerja resilien pada segmen B2B Infrastructure, International, dan B2B ICT
Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup secara konsisten mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional. Pembangunan ini dilakukan melalui sinergi kekuatan dan kepemilikan infrastruktur yang ekstensif.
Adapun infrastruktur tersebut mencakup backbone serat optik sepanjang lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh nusantara, layanan data center dan cloud , serta konektivitas satelit untuk menjangkau area blank spot dan wilayah geografis yang menantang.
“Langkah itu sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan digital Indonesia yang inklusif,” tambah Dian.
Selaras dengan strategi transformasi dan penguatan posisi sebagai perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, pendapatan perseroan dari segmen B2B Infrastructure mencapai Rp 8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara yoy . Pertumbuhan ini ditopang bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber .
Dian merinci, pendapatan bisnis data center diperoleh dari dua fasilitas hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga fasilitas enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul, serta dua fasilitas co-location data center di Singapura yang seluruhnya dikelola oleh NeutraDC.
Selain itu, TelkomGroup juga mengoperasikan 28 fasilitas edge data center NeuCentrIX dengan skala dan kapasitas lebih kecil guna mendukung kebutuhan layanan data center dan cloud yang lebih dekat dengan pengguna.
Sementara itu, pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower (FTTT), Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp 9,5 triliun dengan margin laba bersih 22,2 persen dan margin EBITDA 82,2 persen.
Kinerja tersebut didukung rasio jumlah penyewa sebesar 1,57 kali atas kepemilikan sebanyak 40.230 menara telekomunikasi. Hal ini menjadikan Mitratel sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.
Selanjutnya, pada bisnis Wholesale and International Service, perseroan berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp 10,7 triliun. Hingga saat ini, TelkomGroup melalui Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.
Kemudian, pada segmen B2B ICT, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 15,3 triliun yang terdiri dari bisnis konektivitas, managed solution , dan digital.
Telkom sendiri optimistis terhadap potensi pertumbuhan dan terus mendorong inovasi serta penguatan kapabilitas.
“Apalagi, dengan adanya kebijakan efisiensi pemerintah yang berdampak pada penurunan permintaan terhadap solusi korporasi. Ini didominasi pelanggan pemerintahan, korporasi besar, swasta, dan usaha kecil menengah,” kata Dian.
Di sisi inovasi dan penguatan kapabilitas, Telkom melakukan sejumlah upaya melalui layanan dan solusi Connectivity+, keamanan siber, serta kecerdasan buatan (AI). Perseroan juga akan mendorong pengembangan melalui kemitraan strategis dengan pemain teknologi global.
Dian menambahkan, pertumbuhan bisnis infrastruktur juga didorong oleh konsistensi TelkomGroup dalam menjaga disiplin investasi dengan realisasi belanja modal pada 2025 sebesar Rp 27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan.
Mayoritas belanja modal, yakni sebesar 93 persen, dialokasikan untuk perluasan infrastruktur segmen B2C, B2B, dan International. Sementara, sisanya dialokasikan untuk mendukung pengembangan platform digital dengan tetap mengoptimalkan synergy value .
Dian meyakini, sepanjang 2025, Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30. Pada 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi.
“Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan. Ke depan, Telkom akan melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” imbuh Dian.
Berita terkait

Menag Dorong Pesantren Jadi Ruang Aman bagi Anak
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pesantren harus terus menjadi ruang paling aman bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan hidup bermartabat, ...

OJK dorong kepastian hukum atas kredit macet di bank
Otoritas Jasa Keuangan OJK menegaskan upaya mendorong pertumbuhan kredit yang sehat dan berkelanjutan perlu disertai dengan kepastian hukum bagi pelaku industri perbankan.

Komisi IX DPR Sebut Penutupan Dapur MBG Capai 4.000 Unit
Pemerintah menghentikan sementara 1.738 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) karena tidak memenuhi standar. Waka Komisi IX DPR sebut jumlahnya lebih dari 4.000.

Bayar PBB-P2 Jakarta Kini Bisa Lewat Kanal Digital
Kemudahan membayar Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan PBB-P2 kini hadir dalam genggaman.

Kemensos Tindak Tegas Dugaan Pelanggaran Pengadaan Sekolah Rakyat
Wamensos Agus Jabo menegaskan sanksi tegas bagi pegawai yang melanggar dalam pengadaan Sekolah Rakyat. Tim khusus audit temukan potensi maladministrasi.

BRI Bukukan Kenaikan ROE dan ROA pada Triwulan I 2026
Ciptakan Nilai Tambah bagi Shareholder, BRI Catatkan Profitabilitas Solid dengan ROE dan ROA yang Meningkat per Triwulan I 2026