Live|
OkezoneVersi JafmoNewsNegatif12 Mei 2026 pukul 12.06

SMAN 1 Pontianak Soroti Kontroversi Penilaian LCC 4 Pilar

Berikut Profil SMAN 1 Pontianak yang Buka Suara Soal Kontroversi Cerdas Cermat 4 Pilar MPR Kalbar

SMAN 1 Pontianak Soroti Kontroversi Penilaian LCC 4 Pilar

SMAN 1 Pontianak menjadi sorotan setelah anggotanya menanggapi kontroversi penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat. Peristiwa itu mencuat usai tayangan siaran langsung ajang tersebut pada 9 Mei 2026 memunculkan perdebatan mengenai konsistensi keputusan dewan juri saat babak tanya jawab.

Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI merupakan kompetisi tahunan yang diikuti pelajar SMA sederajat dari berbagai daerah. Kegiatan ini digelar untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, sebuah momen penilaian pada sesi pertanyaan tentang mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan justru menimbulkan polemik di ruang publik.

Dalam insiden tersebut, Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menekan bel dan menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD serta diresmikan oleh Presiden. Jawaban itu dinyatakan salah oleh juri Dyastasita Widya Budi sehingga tim tersebut dikenai pengurangan lima poin. Setelah itu, giliran Regu B dari SMAN 1 Sambas menjawab pertanyaan yang sama dan dinilai benar hingga mendapat nilai penuh.

Perbedaan penilaian itu diprotes peserta SMAN 1 Pontianak karena mereka menilai jawaban kedua tim pada dasarnya serupa. Menanggapi keberatan tersebut, Dyastasita menjelaskan bahwa penyebutan “Dewan Perwakilan Daerah” pada jawaban Regu C tidak terdengar jelas oleh dewan juri. Penjelasan itu diperkuat juri lain, Indri Wahyuni, yang menyatakan bahwa peserta telah diingatkan untuk melafalkan jawaban dengan artikulasi yang jelas agar penilaian dapat dilakukan secara tepat.

Meski demikian, potongan video kejadian tersebut cepat menyebar di media sosial dan memicu kritik dari warganet. Banyak pihak mempertanyakan konsistensi penilaian juri karena menganggap dua jawaban yang diberikan terdengar hampir sama. Polemik ini kembali menegaskan pentingnya objektivitas, kejelasan artikulasi, dan transparansi dalam kompetisi tingkat nasional yang mengusung pendidikan kebangsaan.

Sudut pandang lain

Kasus ini menunjukkan bahwa dalam lomba akademik, aspek teknis seperti kejernihan suara dan ketepatan pelafalan dapat berdampak besar terhadap hasil penilaian. Di sisi lain, ketika kompetisi disiarkan langsung dan dikonsumsi publik luas, keputusan juri tidak hanya dinilai peserta tetapi juga menjadi perhatian masyarakat yang menuntut konsistensi.

Kontroversi semacam ini berpotensi memengaruhi kepercayaan peserta terhadap penyelenggaraan lomba jika tidak disertai pedoman penilaian yang sangat jelas. Karena itu, ajang pendidikan kebangsaan seperti LCC 4 Pilar perlu menjaga standar objektivitas agar tujuan edukatifnya tidak tertutup oleh perdebatan soal administrasi penilaian.

Lihat versi asli dari sumber

PROFIL SMAN 1 Pontianak menarik diulas. Sebab, sekolah ini baru saja jadi sorotan dan buka suara soal kontroversi cerdas cermat 4 pilar MPR Kalbar.

Ya, ajang Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melalui Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI yang seharusnya menjadi sarana edukasi kebangsaan justru menjadi sorotan publik. Hal ini terjadi setelah muncul kontroversi penilaian juri dalam babak tanya jawab.

Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI sebenarnya merupakan kompetisi tahunan. Ajang ini diikuti pelajar SMA sederajat dari berbagai daerah di Indonesia itu bertujuan meningkatkan pemahaman peserta terhadap nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun dalam tayangan siaran langsung kanal YouTube MPRGOID pada 9 Mei 2026, sebuah momen penilaian dianggap tidak konsisten. Hal ini pun memicu reaksi luas dari masyarakat.

Insiden bermula ketika pembawa acara memberikan pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menekan bel dan menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD serta diresmikan oleh Presiden.

Namun, jawaban tersebut dinyatakan salah oleh juri Dyastasita Widya Budi. Alhasil, Regu C dari SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan nilai minus lima.

Kesempatan kemudian berpindah kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas. Menariknya, tim ini memberikan jawaban yang dinilai publik hampir identik dengan jawaban sebelumnya. Kali ini pun, dewan juri justru memberikan nilai penuh karena dianggap benar.

Perbedaan penilaian tersebut langsung diprotes oleh peserta dari SMAN 1 Pontianak. Mereka menilai jawaban yang disampaikan memiliki isi yang sama dengan Regu B.

Menanggapi protes itu, Dyastasita menjelaskan bahwa penyebutan “Dewan Perwakilan Daerah” pada jawaban Regu C tidak terdengar jelas oleh dewan juri. Pernyataan itu kemudian diperkuat oleh juri lain, Indri Wahyuni, yang menekankan pentingnya artikulasi dalam perlombaan.

Menurut Indri, peserta sejak awal telah diingatkan agar menyampaikan jawaban dengan pelafalan yang jelas sehingga dapat didengar dan dinilai secara tepat oleh dewan juri. Meski demikian, potongan video kejadian tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kritik dari warganet. Banyak yang mempertanyakan konsistensi penilaian juri karena menilai kedua jawaban terdengar sama.

Sebagian publik juga menilai alasan artikulasi kurang cukup untuk membedakan keputusan penilaian. Apalagi, ini merupakan kompetisi tingkat nasional yang menuntut objektivitas tinggi.

© 2007 - 2026 Okezone.com, All Rights Reserved

Dirangkum dari Okezone · oleh https://www.facebook.com/OkezoneCom

Berita terkait