Live|
VIVAVersi JafmoNewsNegatif10 Mei 2026 pukul 14.30

Trump Ancam Perluas Operasi Militer jika Negosiasi dengan Iran Gagal

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperingatkan bahwa pihaknya bisa meningkatkan operasi militer di Selat Hormuz, jika kesepakatan dengan Iran gagal tercapai.

Trump Ancam Perluas Operasi Militer jika Negosiasi dengan Iran Gagal

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington bisa memperluas operasi militernya di Selat Hormuz apabila kesepakatan dengan Iran tidak tercapai. Ia menyebut AS akan menempuh langkah berbeda jika seluruh poin perundingan tidak disepakati dan diselesaikan.

Saat ditanya soal kemungkinan mengaktifkan kembali operasi Project Freedom, Trump mengatakan ia tidak memperkirakannya saat ini, namun menegaskan opsi itu masih terbuka. Ia juga menyebut Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan AS-Iran, telah meminta Amerika Serikat agar tidak melanjutkan operasi militer tersebut.

Trump menambahkan, jika situasi memburuk, operasi itu bisa kembali dijalankan dan bahkan diperluas menjadi Project Freedom Plus. Meski demikian, ia tidak menjelaskan bentuk perluasan operasi yang dimaksud. Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS masih menempatkan opsi tekanan militer sebagai bagian dari strategi jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.

Di sisi lain, pembicaraan antara AS dan Iran dilaporkan berpeluang dilanjutkan di Islamabad, Pakistan, paling cepat pekan depan. Sejumlah sumber menyebut kedua pihak bersama mediator tengah menyusun nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin sebagai kerangka perundingan selama sebulan untuk mengakhiri perang. Dokumen itu disebut akan memuat pembahasan soal program nuklir Iran, upaya meredakan ketegangan di Selat Hormuz, serta kemungkinan pemindahan cadangan uranium yang diperkaya milik Iran ke negara lain.

Namun, belum semua isu utama terselesaikan. Salah satu yang masih menjadi ganjalan adalah tingkat pengurangan sanksi terhadap Iran. Jika perundingan menunjukkan kemajuan, kerangka awal selama satu bulan itu dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama. Situasi ini memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, tetapi tetap dibayangi ancaman eskalasi bila negosiasi gagal mencapai titik temu.

Sudut pandang lain

Pernyataan Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik strategis yang sensitif bagi keamanan energi global. Setiap sinyal eskalasi di kawasan itu berpotensi memicu kekhawatiran pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi pengiriman minyak dunia.

Dari sisi diplomasi, keterlibatan Pakistan sebagai mediator menunjukkan upaya mencari jalan tengah di luar kanal negosiasi langsung. Namun, perdebatan soal sanksi dan program nuklir Iran menggambarkan bahwa kesepakatan substantif masih sulit dicapai tanpa kompromi dari kedua pihak.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump , memperingatkan bahwa pihaknya bisa meningkatkan operasi militer di Selat Hormuz , jika kesepakatan dengan Iran gagal tercapai.

"Kita akan menempuh jalur berbeda jika semuanya tidak disepakati dan diselesaikan," kata Trump, dikutip Minggu, 10 Mei 2026.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ditanya apakah AS akan kembali menjalankan operasi Project Freedom, Trump menjawab, "Saya rasa tidak," seraya menambahkan langkah tersebut masih mungkin dilakukan.

Trump mengatakan Pakistan, yang menjadi mediator perundingan AS-Iran meminta Amerika Serikat untuk tidak melanjutkan operasi militernya.

"Kita mungkin akan kembali ke Project Freedom jika semuanya tidak berjalan baik," ujarnya.

Dia menambahkan, operasi itu dapat berubah menjadi Project Freedom Plus, yang berarti operasi tersebut akan diperluas, meski ia tidak menjelaskan langkah tambahan yang dimaksud.

Diketahui, perundingan antara AS dan Iran bisa kembali digelar di ibu kota Pakistan, Islamabad, paling cepat pekan depan. Sejumlah sumber menyebut, kedua pihak bersama mediator berupaya merumuskan nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin, yang akan menetapkan kerangka perundingan selama sebulan untuk mengakhiri perang.

Rancangan dokumen itu akan mencakup pembahasan soal program nuklir Iran, meredakan ketegangan di Selat Hormuz, dan kemungkinan penyerahan cadangan uranium diperkaya milik Iran ke negara lain meski sejumlah isu utama belum terselesaikan.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Laporan itu menyebut, tingkat pengurangan sanksi terhadap Iran masih menjadi perdebatan dan berpotensi menghambat negosiasi .

Jika perundingan mencapai kemajuan, masa satu bulan awal tersebut bisa diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama. (Ant).

Dirangkum dari VIVA · oleh Mohammad Yudha Prasetya

Berita terkait