Kompas.comVersi JafmoNewsNetral16 Mei 2026 pukul 09.14

HIMKI Soroti Kesenjangan Industri Indonesia dan China

Indonesia dan China: Studi banding HIMKI menyoroti mengapa industri China melaju pesat. Inilah seruan untuk memadukan kreativitas Indonesia dengan industrialisasi.

HIMKI Soroti Kesenjangan Industri Indonesia dan China

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menilai China bergerak lebih cepat dalam membangun industri modern, meski Indonesia merdeka lebih dulu. Pandangan itu ia sampaikan setelah mengunjungi kawasan industri furnitur dan mesin woodworking di Qingdao, Provinsi Shandong, serta melihat langsung perkembangan manufaktur di wilayah tersebut.

Dalam kunjungan itu, Sobur mengikuti pameran furnitur dan woodworking machinery sekaligus mendatangi pabrik manufaktur mesin woodworking kelas premium. Di lokasi tersebut, ia menyaksikan proses produksi mesin sanding dan finishing berteknologi tinggi yang dikerjakan dengan tingkat presisi sangat tinggi. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah lini mesin untuk finishing high gloss dan piano finis, yang umumnya digunakan pada produk premium dunia.

Sobur menyebut Indonesia merdeka pada 1945, sementara China baru berdiri sebagai Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Namun, menurut dia, pengalaman melihat langsung kawasan industri di Qingdao menunjukkan bahwa kemerdekaan politik tidak otomatis diikuti kemajuan industri. Ia menilai China lebih dulu memahami bahwa kekuatan bangsa modern dibangun melalui penguasaan industri, teknologi, dan disiplin produksi.

Ia juga menyoroti ekosistem industri di Qingdao yang terhubung, mulai dari kawasan manufaktur yang aktif, rantai pasok yang terintegrasi, pendidikan teknik yang mendukung kebutuhan industri, keberanian berinvestasi dalam teknologi, hingga budaya kerja yang menekankan efisiensi dan kualitas. Dalam pandangannya, mesin-mesin woodworking yang diproduksi di sana bukan sekadar alat produksi, melainkan simbol keseriusan membangun nilai tambah industri.

Di sisi lain, Sobur menegaskan Indonesia punya kekuatan berbeda yang tidak kalah penting, yakni kreativitas, seni, desain, dan inovasi. Ia mencontohkan Bandung sebagai kota yang memiliki banyak talenta kreatif, perajin, desainer, dan kekayaan budaya yang besar. Namun, ia mengingatkan bahwa kreativitas tanpa industrialisasi akan sulit tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dunia, sedangkan industrialisasi tanpa kreativitas cenderung menghasilkan produk massal tanpa karakter.

Karena itu, Sobur mendorong agar masa depan Indonesia tidak memilih salah satu, melainkan memadukan kreativitas dan industrialisasi. Ia membayangkan Bandung dan kota-kota kreatif lain di Indonesia dapat berkembang bukan hanya sebagai pusat lahirnya ide, tetapi juga sebagai pusat produksi kreatif modern berbasis teknologi, desain, dan manufaktur kelas dunia.

Sudut pandang lain

Pernyataan ini dapat dibaca sebagai kritik sekaligus dorongan agar Indonesia mempercepat transformasi industri, terutama di sektor berbasis desain dan manufaktur. Dalam konteks persaingan global, penguasaan teknologi, rantai pasok, dan kualitas produksi menjadi faktor penting agar produk lokal tidak berhenti di pasar domestik.

Di sisi lain, penekanan pada kreativitas menunjukkan bahwa Indonesia tidak harus meniru model industri negara lain secara penuh. Tantangannya adalah membangun kebijakan yang menghubungkan talenta kreatif, pendidikan teknik, investasi teknologi, dan kapasitas manufaktur agar nilai tambah ekonomi bisa dinikmati lebih luas.

Lihat versi asli dari sumber

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia merdeka lebih dulu dibandingkan China, tetapi Negeri Tirai Bambu itu mampu bergerak lebih cepat dalam membangun kekuatan industri modern berbasis teknologi dan disiplin produksi.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur yang menyoroti pesatnya perkembangan industri manufaktur China , setelah mengunjungi kawasan industri furnitur dan woodworking machinery di Qingdao, Provinsi Shandong.

Dalam kunjungannya, Sobur mengikuti pameran furnitur dan woodworking machinery sekaligus mengunjungi langsung pabrik manufaktur mesin woodworking kelas premium.

Di lokasi tersebut, ia menyaksikan bagaimana mesin-mesin sanding dan finishing berteknologi tinggi diproduksi dengan presisi tinggi.

Salah satu yang menarik perhatian adalah lini mesin finishing high gloss dan piano finis yang biasa digunakan pada produk-produk premium dunia.

“Di lokasi pabrik, saya menyaksikan bagaimana mesin-mesin sanding dan finishing berteknologi tinggi diproduksi dengan presisi yang luar biasa. Salah satu yang menarik perhatian adalah lini mesin untuk finishing high gloss dan piano finis , kualitas permukaan yang biasa digunakan pada produk premium dunia,” ujar Sobur lewat keterangan pers, Jumat (15/5/2026).

Menurut dia, Indonesia merdeka pada 1945, sedangkan China baru benar-benar berdiri sebagai Republik Rakyat Tiongkok pada 1949.

Namun setelah melihat langsung perkembangan industri di Qingdao, ia menilai kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis melahirkan kemerdekaan industri.

“Namun hari ini, setelah melihat langsung kawasan industri di Qingdao, saya memahami bahwa kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis melahirkan kemerdekaan industri,” tukasnya.

China sejak lama memahami bahwa kekuatan bangsa modern dibangun melalui penguasaan industri, teknologi, dan disiplin produksi.

Hal tersebut terlihat dari ekosistem industri yang berkembang di Qingdao.

Sobur mencatat ekosistem tersebut terlihat dari kawasan manufaktur yang hidup, supply chain yang terintegrasi, pendidikan teknik yang mendukung kebutuhan industri, keberanian investasi teknologi, hingga budaya kerja yang fokus terhadap efisiensi dan kualitas.

Mesin-mesin woodworking yang diproduksi di Qingdao bukan hanya alat produksi, tetapi simbol keseriusan sebuah bangsa membangun nilai tambah industri.

Di sisi lain, Sobur menilai Indonesia memiliki kekuatan berbeda yang tidak kalah besar, yakni kreativitas, seni, desain, dan inovasi.

Ia mencontohkan Bandung sebagai salah satu kota dengan banyak talenta kreatif, perajin, dan desainer berbakat serta kekayaan budaya yang besar.

“Di Indonesia, khususnya di Bandung, saya melihat sesuatu yang berbeda namun sama berharganya: kreativitas, seni, desain, dan jiwa inovasi. Kita memiliki banyak talenta kreatif, perajin hebat, desainer berbakat, dan kekayaan budaya yang luar biasa,” kata dia.

Meski demikian, Sobur mengingatkan kreativitas tanpa industrialisasi akan sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Sebaliknya, industrialisasi tanpa kreativitas hanya akan menghasilkan produk massal tanpa karakter.

Karena itu masa depan Indonesia seharusnya tidak memilih salah satu di antara kreativitas atau industrialisasi, melainkan mempertemukan keduanya dalam satu kekuatan baru.

Ia membayangkan Bandung dan berbagai kota kreatif di Indonesia ke depan tidak hanya dikenal sebagai tempat lahirnya ide-ide kreatif, tetapi juga menjadi pusat produksi kreatif modern berbasis teknologi, desain, dan manufaktur kelas dunia.

“Bila kreativitas Indonesia dipertemukan dengan keberanian industrialisasi dan konsistensi kebijakan, maka Indonesia tidak hanya bisa menjadi pasar dunia, tetapi juga menjadi salah satu pusat produksi kreatif dunia di masa depan,” lanjutnya.

Dirangkum dari Kompas.com · oleh Kompas Cyber Media

Berita terkait