Live|
VIVAVersi JafmoNewsNegatif10 Mei 2026 pukul 21.50

Maskapai Korea Selatan Pangkas Penerbangan karena Biaya Bahan Bakar Naik

Maskapai berbiaya rendah Korea Selatan memangkas 900 penerbangan pulang pergi serta menerapkan cuti tanpa gaji dan langkah darurat lain akibat kenaikan harga bahan bakar.

Maskapai Korea Selatan Pangkas Penerbangan karena Biaya Bahan Bakar Naik

Sejumlah maskapai berbiaya rendah di Korea Selatan memangkas sekitar 900 penerbangan pulang pergi dan menerapkan cuti tanpa gaji akibat lonjakan harga bahan bakar jet. Kebijakan darurat itu dipicu meningkatnya biaya operasional setelah konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga bahan bakar, menurut pejabat industri pada Minggu.

Pemangkasan jadwal ini terjadi saat beberapa maskapai belum merampungkan rencana penerbangan untuk Juni, sehingga jumlah pengurangan diperkirakan masih bisa bertambah. Kenaikan harga bahan bakar juga membuat permintaan perjalanan untuk rute jarak menengah dan jauh melemah karena beban biaya tambahan semakin besar.

Jeju Air Co., maskapai berbiaya rendah terbesar di Korea Selatan, menjadi salah satu yang paling terdampak. Perusahaan itu mengurangi 187 penerbangan internasional pulang pergi atau sekitar empat persen dari total operasinya, terutama pada rute dari Incheon ke Bangkok, Singapura, serta sejumlah kota di Vietnam, termasuk Da Nang dan Phu Quoc, selama Mei dan Juni. Sejak akhir April, Jeju Air juga menangguhkan rute ke Vientiane selama dua bulan.

Jin Air Co. turut memangkas 176 penerbangan pulang pergi ke beberapa tujuan, termasuk Guam dan Phu Quoc, hingga akhir bulan ini. Adapun Asiana Airlines Inc. mengurangi 27 penerbangan pulang pergi di enam rute, termasuk Phnom Penh dan Istanbul, hingga Juli. Sementara itu, Korean Air Co. belum mengubah operasinya, tetapi menyatakan terus memantau situasi melalui sistem manajemen darurat.

Pejabat industri juga menyebut beberapa rute Asia Tenggara kini memerlukan pemberhentian pengisian bahan bakar tambahan. Kondisi itu membuat biaya operasional semakin tinggi karena harga avtur melonjak tajam. Harga bahan bakar jet telah naik 2,5 kali lipat sejak pecahnya perang, dengan harga rata-rata bahan bakar jet Singapura sebagai acuan berada di 214,71 dolar AS per barel pada 16 Maret hingga 15 April, atau naik 150 persen dibanding dua bulan sebelumnya.

Sudut pandang lain

Kasus ini menunjukkan bagaimana gejolak geopolitik di Timur Tengah dapat langsung memengaruhi industri penerbangan di Asia, terutama maskapai berbiaya rendah yang margin keuntungannya relatif tipis. Saat harga avtur naik tajam, perusahaan biasanya harus memilih antara memangkas rute, menyesuaikan jadwal, atau menanggung biaya yang berisiko menekan kinerja keuangan.

Dari sisi penumpang, pengurangan frekuensi penerbangan berpotensi berdampak pada ketersediaan kursi dan fleksibilitas perjalanan, khususnya untuk rute internasional jarak menengah. Jika tekanan biaya berlanjut, langkah serupa bisa meluas ke maskapai lain dan mendorong penyesuaian harga tiket maupun strategi operasi yang lebih konservatif.

Lihat versi asli dari sumber

Seoul, VIVA – Maskapai berbiaya rendah Korea Selatan memangkas 900 penerbangan pulang pergi serta menerapkan cuti tanpa gaji dan langkah darurat lain akibat kenaikan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah, kata para pejabat industri, Minggu.

Pemangkasan penerbangan terjadi karena harga bahan bakar jet melonjak setelah konflik AS-Iran. Beberapa maskapai penerbangan belum menyelesaikan jadwal mereka di Juni, sehingga jumlah pengurangan penerbangan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut, menurut para pejabat.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jeju Air Co., maskapai penerbangan berbiaya rendah terbesar di Korea Selatan, memutuskan untuk memangkas 187 penerbangan internasional pulang pergi.

Pemangkasan itu setara dengan empat persen dari total operasinya pada rute dari Incheon, sebelah barat Seoul, ke Bangkok, Singapura, dan kota-kota Vietnam, Da Nang dan Phu Quoc, selama Mei dan Juni. Sejak akhir April, maskapai itu juga telah menangguhkan rute Vientiane selama dua bulan.

Sementara itu, Jin Air Co. memangkas 176 penerbangan pulang pergi ke berbagai tujuan, termasuk Guam dan Phu Quoc, hingga akhir bulan ini. Pengurangan lebih lanjut diperkirakan akan terjadi setelah jadwal Juni mereka diselesaikan.

Di antara maskapai penerbangan layanan penuh, Asiana Airlines Inc. telah memangkas 27 penerbangan pulang pergi di enam rute, termasuk Phnom Penh dan Istanbul, hingga Juli menyusul pecahnya konflik di Timur Tengah.

Kemudian, Korean Air Co., maskapai penerbangan terbesar Korea Selatan, belum menyesuaikan operasi penerbangannya, tetapi menyatakan sedang memantau situasi dengan cermat di bawah sistem manajemen darurat.

"Permintaan perjalanan untuk rute jarak menengah dan jauh telah melemah karena meningkatnya beban biaya tambahan bahan bakar," kata seorang pejabat maskapai.

Pejabat industri lainnya mengatakan beberapa rute Asia Tenggara sekarang membutuhkan pemberhentian pengisian bahan bakar tambahan, dan harga bahan bakar yang lebih tinggi telah meningkatkan biaya pengisian bahan bakar tambahan tersebut secara tajam.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Harga bahan bakar jet telah melonjak 2,5 kali lipat sejak pecahnya perang.

Harga rata-rata bahan bakar jet Singapura, yang digunakan sebagai patokan untuk biaya tambahan bahan bakar, berada di 214,71 dolar AS (Rp3,7 juta) per barel dari 16 Maret hingga 15 April, naik 150 persen dari dua bulan sebelumnya.

Dirangkum dari VIVA · oleh Bayu Nugraha

Berita terkait