Cara Memperlambat Degradasi Baterai Mobil Listrik
Degradasi baterai mobil listrik ternyata bisa diperlambat dengan pola charging dan penggunaan yang tepat.
/data/photo/2023/09/02/64f32d377e132.jpg)
Degradasi baterai menjadi salah satu kekhawatiran utama pengguna mobil listrik karena kapasitasnya akan menurun seiring waktu. Meski demikian, penurunan ini merupakan proses alami pada baterai lithium-ion dan lajunya masih dapat diperlambat melalui pola pemakaian serta pengisian daya yang tepat.
Pendiri EVSafe, Mahaendra Gofar, menjelaskan bahwa degradasi baterai pada mobil listrik adalah hal yang normal. Ia menyebut rata-rata penurunan kapasitas baterai kendaraan listrik berada di kisaran 1-2 persen per tahun. Menurut dia, kualitas baterai tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh cara kendaraan digunakan sehari-hari.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah suhu. Paparan panas berlebih dalam jangka panjang dapat mempercepat penurunan kualitas sel baterai. Karena itu, pengguna disarankan menjaga kondisi baterai agar tidak terlalu sering berada dalam situasi ekstrem, baik terlalu penuh maupun terlalu kosong. Pola pengisian yang stabil dinilai membantu memperpanjang usia pakai baterai.
Gofar juga mengingatkan agar fast charging tidak digunakan terlalu sering jika tidak benar-benar diperlukan. Pengisian daya cepat dalam intensitas tinggi dapat membuat suhu baterai naik lebih cepat, sehingga berpotensi mempercepat degradasi. Di sisi lain, ia menilai pengguna tidak perlu terlalu cemas karena teknologi baterai mobil listrik modern sudah dilengkapi battery management system (BMS) yang memantau suhu, arus, dan kondisi tiap sel secara real time.
Dengan dukungan sistem tersebut, baterai mobil listrik tetap dapat digunakan secara nyaman dalam jangka panjang, meski kapasitasnya perlahan menurun akibat pemakaian normal. Karena itu, perawatan sederhana melalui kebiasaan charging yang tepat menjadi kunci untuk menjaga performa baterai lebih lama.
Sudut pandang lain
Dari sisi konsumen, informasi soal degradasi baterai penting karena berhubungan langsung dengan nilai pakai dan nilai jual kembali mobil listrik. Kekhawatiran terhadap umur baterai sering menjadi pertimbangan utama sebelum membeli EV, sehingga edukasi soal pola pengisian yang benar dapat membantu mengurangi keraguan calon pengguna.
Di tingkat industri, keberadaan BMS menunjukkan bahwa produsen telah berupaya menekan risiko penurunan performa baterai melalui teknologi. Namun, faktor perilaku pengguna tetap menentukan hasil akhirnya, sehingga pemahaman publik tentang suhu, kebiasaan charging, dan penggunaan fast charging menjadi bagian penting dari transisi ke kendaraan listrik.
Lihat versi asli dari sumber
JAKARTA, KOMPAS.com - Degradasi baterai menjadi salah satu hal yang paling sering dikhawatirkan pengguna mobil listrik. Seiring usia pemakaian, kapasitas baterai electric vehicle (EV) memang akan mengalami penurunan secara alami akibat proses kimia pada sel lithium-ion.
Namun, laju degradasi tersebut ternyata masih bisa diperlambat dengan pola penggunaan dan pengisian daya yang tepat.
Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe, mengatakan degradasi baterai pada mobil listrik merupakan hal normal. Menurut dia, rata-rata penurunan kapasitas baterai EV hanya sekitar 1-2 persen per tahun.
“Penurunan performa baterai itu wajar terjadi. Tapi kalau penggunaan dan pola charging dijaga, degradasinya bisa lebih lambat,” ujar Gofar kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, suhu menjadi salah satu faktor yang cukup memengaruhi kesehatan baterai mobil listrik . Paparan panas berlebih dalam waktu lama dapat membuat kualitas sel baterai lebih cepat menurun.
Selain itu, kebiasaan pengisian daya juga ikut menentukan umur baterai. Gofar menyarankan pengguna tidak terlalu sering membiarkan baterai berada di kondisi terlalu penuh atau terlalu kosong.
“Kalau baterai dijaga di level ideal dan tidak sering dipaksa kerja ekstrem, umur pakainya bisa lebih panjang,” kata dia.
Ia juga menyarankan pengguna tidak terlalu sering memakai fast charging apabila tidak terlalu dibutuhkan. Sebab, pengisian daya cepat dalam intensitas tinggi dapat membuat suhu baterai meningkat lebih cepat.
Meski demikian, pengguna mobil listrik tidak perlu terlalu khawatir. Sebab, battery pack modern saat ini sudah dilengkapi battery management system (BMS) yang bertugas memantau kondisi baterai secara real time.
“Sekarang sistem baterai mobil listrik sudah pintar. Ada BMS yang membantu menjaga suhu, arus, dan kondisi tiap sel supaya tetap optimal,” ujarnya.
Karena itu, mobil listrik umumnya masih tetap nyaman digunakan dalam jangka panjang meski kapasitas baterai perlahan menurun seiring usia pemakaian.
Berita terkait
Innova Terlaris April 2026, Gran Max Mengekor Ketat
Penjualan mobil nasional pada April 2026 kembali menunjukkan persaingan yang semakin ketat. Mobil terlaris masih berjenis MPV dan kendaraan niaga ringan.

Pemerintah Siapkan Insentif Mobil Listrik pada 2026
Diketahui, pemerintah menyiapkan insentif untuk kendaraan listrik, baik mobil maupun sepeda motor.
TVS Siapkan Skuter Maxi Listrik M1-S untuk Indonesia
Pabrikan asal India itu mulai memperlihatkan tanda-tanda bakal menghadirkan skuter maxi listrik M1-S untuk konsumen Tanah Air. Motor listrik tersebut sudah muncul.
Lima Mobil Listrik dengan Rasio Harga dan Jarak Tempuh Menarik
Persaingan mobil listrik di Indonesia kini semakin menarik karena produsen tidak hanya berlomba menghadirkan teknologi baru, tetapi juga efisiensi daya jelajah. Salah sat
Subsidi EV Jepang Dorong Penjualan Mobil Listrik Toyota
Pasar mobil listrik di Jepang mulai berubah drastis. Jika sebelumnya merek China seperti BYD cukup agresif menekan pabrikan lokal, kini kondisi berbalik. Toyota justru ta
/data/photo/2026/05/16/6a07bbc770af1.jpg)
Polri Targetkan 28 Gudang Pangan Selesai Juni 2026
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebut Polri akan memiliki 28 gudang ketahanan pangan untuk mendukung stabilitas pasokan pangan nasional.