Sorotan Baru pada Keamanan Galon Polikarbonat BPA
Penggunaan galon guna ulang berbahan polikarbonat kembali menjadi sorotan setelah muncul kritik mengenai keamanan kemasan air minum yang masih mengandung BPA.
Penggunaan galon guna ulang berbahan polikarbonat kembali dipersoalkan seiring kekhawatiran masyarakat terhadap kandungan Bisphenol A (BPA) pada kemasan air minum. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap aspek kesehatan, sebagian konsumen mulai menilai kemasan berbahan BPA semakin sulit diterima, terutama ketika alternatif yang diklaim lebih aman telah tersedia di pasaran.
Selama puluhan tahun, galon polikarbonat menjadi pilihan utama dalam industri air minum dalam kemasan di Indonesia karena dinilai kuat, transparan, dan dapat dipakai berulang kali dalam sistem isi ulang. Namun, bahan ini diketahui mengandung BPA, senyawa kimia yang dapat luruh ke dalam air minum dalam kondisi tertentu. Risiko peluruhan disebut meningkat jika galon terpapar panas, sinar matahari, mengalami pencucian berulang, atau digunakan dalam jangka waktu terlalu lama.
Sejumlah studi internasional mengaitkan paparan BPA berlebih dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan hormon, obesitas, diabetes, dan masalah reproduksi. Meski tingkat bahaya BPA masih menjadi perdebatan di sejumlah negara, arah kebijakan dan preferensi konsumen global disebut mulai bergeser ke kemasan bebas BPA. Perubahan ini ikut memengaruhi cara masyarakat menilai keamanan produk sehari-hari, termasuk air minum dalam kemasan.
Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), David Tobing, menilai konsumen kini jauh lebih kritis terhadap bahan kemasan yang digunakan produsen. Ia menyebut masyarakat mempertanyakan alasan galon berbahan BPA masih beredar ketika terdapat pilihan kemasan lain yang diklaim lebih aman. David menegaskan, jika harga yang dibayar tetap sama, konsumen semestinya memperoleh standar keamanan yang setara pula. Pernyataannya dikutip pada Rabu, 13 Mei 2026.
KKI juga menyoroti kondisi fisik galon guna ulang yang kerap diterima masyarakat dalam keadaan kusam, tergores, atau bahkan retak halus akibat pemakaian berulang. Menurut David, kondisi galon yang menua tidak bisa dipandang sepele karena berkaitan langsung dengan kualitas dan keamanan kemasan pangan. Ia menilai pengawasan terhadap usia pakai galon yang beredar perlu diperketat. Sejumlah pakar polimer sebelumnya juga mengingatkan bahwa galon polikarbonat memiliki batas penggunaan ideal, dan faktor panas berlebih, distribusi yang kurang tepat, serta pencucian berulang dapat mempercepat degradasi material plastik.
Sudut pandang lain
Kontroversi galon polikarbonat menunjukkan semakin kuatnya tuntutan transparansi dalam industri air minum kemasan. Di satu sisi, produsen membutuhkan kemasan yang tahan lama dan efisien untuk sistem isi ulang; di sisi lain, konsumen kini makin menuntut jaminan keamanan bahan yang digunakan.
Isu ini juga berpotensi mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap umur pakai kemasan, standar distribusi, dan informasi produk. Jika tren kemasan bebas BPA terus menguat, industri mungkin perlu menyesuaikan teknologi dan komunikasi risiko agar tetap menjaga kepercayaan publik.
Lihat versi asli dari sumber
Jakarta, VIVA – Penggunaan galon guna ulang berbahan polikarbonat kembali menjadi sorotan setelah muncul kritik mengenai keamanan kemasan air minum yang masih mengandung Bisphenol A atau BPA. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat soal kesehatan, keberadaan galon berbahan BPA dinilai mulai sulit diterima sebagian konsumen.
Selama puluhan tahun, galon polikarbonat menjadi standar utama dalam industri air minum dalam kemasan di Indonesia. Material ini dipilih karena kuat, transparan, dan dapat digunakan berulang kali dalam sistem isi ulang.
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun di balik keunggulannya, polikarbonat diketahui mengandung BPA, senyawa kimia yang kerap dikaitkan dengan gangguan kesehatan apabila luruh ke dalam air minum. Risiko peluruhan disebut dapat meningkat akibat paparan panas, sinar matahari, proses pencucian berulang, hingga usia galon yang terlalu lama digunakan.
Sejumlah studi internasional menghubungkan paparan BPA berlebih dengan gangguan hormon, obesitas, diabetes, hingga masalah reproduksi. Meski tingkat bahayanya masih menjadi perdebatan di beberapa negara, tren global saat ini mulai bergerak menuju penggunaan kemasan bebas BPA.
Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), David Tobing, menilai masyarakat kini mulai lebih kritis terhadap bahan kemasan yang digunakan dalam produk sehari-hari. Menurut dia, konsumen mempertanyakan alasan masih beredarnya galon berbahan BPA di tengah hadirnya alternatif kemasan yang diklaim lebih aman.
“Kalau harganya sama, konsumen merasa seharusnya mendapatkan standar keamanan yang sama juga,” ujarnya, dikutip Rabu 13 Mei 2026.
KKI juga menyoroti kondisi fisik galon guna ulang yang dinilai masih menjadi persoalan di lapangan. Berdasarkan laporan konsumen yang dihimpun organisasi tersebut, banyak masyarakat mengaku menerima galon yang sudah kusam, tergores, hingga retak halus akibat penggunaan berulang dalam waktu lama.
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut David, kondisi galon yang menua tidak bisa dianggap sepele karena berhubungan dengan kualitas dan keamanan kemasan pangan. Ia menilai perlu ada pengawasan lebih ketat terkait usia pakai galon guna ulang yang beredar di masyarakat.
Sementara itu, sejumlah pakar polimer sebelumnya juga pernah mengingatkan bahwa galon polikarbonat memiliki batas penggunaan ideal. Faktor seperti panas berlebih, distribusi yang tidak tepat, dan proses pencucian berulang disebut dapat mempercepat degradasi material plastik.
Berita terkait
Polri Targetkan 1.500 SPPG Beroperasi pada 2026
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pihaknya menargetkan Polri membangun 1.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.

Polri Targetkan 1.500 SPPG untuk Program Makan Bergizi 2026
Kapolri mengatakan, pada tahun 2026, Polri menargetkan untuk melanjutkan pembangunan hingga mencapai 1.500 SPPG di seluruh Indones
FAO Soroti Risiko Plastik Daur Ulang pada Kemasan Makanan
FAO PBB memperingatkan risiko plastik daur ulang pada kemasan makanan dan mendorong standar global untuk mencegah kontaminasi kimia pada pangan. Baca di sini

Komisi IX DPR Sebut Penutupan Dapur MBG Capai 4.000 Unit
Pemerintah menghentikan sementara 1.738 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) karena tidak memenuhi standar. Waka Komisi IX DPR sebut jumlahnya lebih dari 4.000.

KSP Minta Dapur MBG Tak Hanya Kejar Target Penyaluran
Dudung mengatakan pembiayaan MBG berasal dari uang rakyat. Oleh karena itu, pelaksanaan proyek harus dipertanggungjawabkan secara benar.

Dudung Sidak Dua Dapur MBG di Jakarta Barat
Dudung menegaskan sertifikasi dan proses verifikasi dapur MBG tidak boleh berhenti pada aspek administrasi.