Live|
OkezoneVersi JafmoNewsNegatif13 Mei 2026 pukul 22.05

Hipertensi Kian Banyak Dialami Generasi Z

Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini semakin banyak ditemukan pada kalangan muda, termasuk Generasi Z.

Hipertensi Kian Banyak Dialami Generasi Z

Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Kondisi ini juga semakin sering ditemukan pada kalangan muda, termasuk Generasi Z, sehingga menjadi perhatian karena banyak penderita tidak menyadari bahwa tekanan darah mereka sudah berada di atas normal.

Menurut World Health Organization (WHO), cara paling pasti untuk mengetahui seseorang mengalami hipertensi adalah dengan memeriksa tekanan darah secara rutin. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18–24 tahun mencapai 10,7 persen, sedangkan pada usia 25–34 tahun sebesar 17,4 persen berdasarkan hasil pengukuran tensimeter.

Peningkatan kasus pada usia muda disebut berkaitan erat dengan pola hidup modern. Kebiasaan begadang, kurang bergerak, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi garam dan lemak, stres akibat pekerjaan atau pendidikan, serta merokok dapat memicu tekanan darah tinggi sejak dini. Gaya hidup sedentari, yakni terlalu lama duduk tanpa aktivitas fisik yang cukup, juga turut menambah risiko.

Selain faktor kebiasaan, rendahnya kesadaran terhadap gejala hipertensi membuat banyak anak muda tidak menyadari bahaya yang mengintai. Tekanan darah tinggi kerap tidak menimbulkan tanda khusus sehingga dijuluki silent killer. Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat berkembang menjadi komplikasi serius, termasuk stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan gangguan penglihatan.

Sudut pandang lain

Meningkatnya hipertensi di usia muda menunjukkan bahwa pencegahan tidak bisa lagi hanya menargetkan kelompok lansia. Edukasi kesehatan di sekolah, kampus, dan tempat kerja menjadi penting agar pemeriksaan tekanan darah serta perubahan gaya hidup dilakukan lebih dini.

Dari sisi kesehatan masyarakat, temuan ini juga menandakan perlunya penguatan deteksi dini dan kampanye pengurangan faktor risiko seperti konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok. Tanpa intervensi yang konsisten, beban penyakit kronis berpotensi meningkat pada kelompok produktif.

Lihat versi asli dari sumber

JAKARTA - Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini semakin banyak ditemukan pada kalangan muda, termasuk Generasi Z. Padahal selama ini hipertensi identik sebagai penyakit yang menyerang orang lanjut usia. Kondisi ini menjadi perhatian karena banyak penderita tidak menyadari tekanan darahnya sudah tinggi.

Menurut World Health Organization (WHO), satu-satunya cara mengetahui seseorang mengalami hipertensi adalah dengan rutin memeriksa tekanan darah. Sementara itu, data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada usia 18–24 tahun mencapai 10,7 persen dan 17,4 persen pada kelompok usia 25–34 tahun berdasarkan hasil pengukuran tensimeter.

Pola hidup modern disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus hipertensi di usia muda. Kebiasaan begadang, kurang aktivitas fisik, konsumsi makanan cepat saji tinggi garam dan lemak, stres akibat pekerjaan atau pendidikan, hingga merokok menjadi pemicu tekanan darah tinggi sejak usia produktif.

Selain itu, gaya hidup sedentari atau terlalu lama duduk tanpa aktivitas fisik juga meningkatkan risiko hipertensi. Banyak anak muda yang tidak menyadari kebiasaan sehari-hari tersebut dapat berdampak serius bagi kesehatan jangka panjang.

Kurangnya pemahaman mengenai gejala hipertensi juga menjadi masalah. Tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan tanda khusus sehingga kerap disebut silent killer. Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga gangguan penglihatan.

© 2007 - 2026 Okezone.com, All Rights Reserved

Dirangkum dari Okezone · oleh https://www.facebook.com/OkezoneCom

Berita terkait