Purbaya Klaim Punya Strategi Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Purbaya Yudhi Sadewa menepis prediksi sejumlah ekonom yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan merosot di bawah 5 persen pada kuartal III dan IV tahun 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi prediksi sejumlah ekonom yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun di bawah 5 persen pada kuartal III dan IV 2026. Ia menegaskan pemerintah sudah menyiapkan langkah untuk menjaga momentum ekonomi tetap kuat, sehingga laju pertumbuhan tidak melambat seperti yang diperkirakan sebagian pihak.
Purbaya menyebut pandangan yang meragukan efektivitas belanja pemerintah pada sisa tahun ini tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, penggerak utama ekonomi nasional justru berasal dari sektor swasta yang mencakup sekitar 90 persen aktivitas ekonomi. Karena itu, ia menilai strategi pemerintah tidak hanya bergantung pada belanja negara, tetapi juga pada penguatan sektor riil dan dunia usaha.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat ditemui di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ia bahkan menegaskan bahwa pihak yang menyebut pertumbuhan akan melemah belum mengetahui strategi ekonomi yang sedang disiapkan pemerintah. Dalam kesempatan itu, ia menyinggung bahwa pertumbuhan yang tercatat sebelumnya tidak semata-mata ditopang oleh belanja pemerintah.
Untuk menjaga aktivitas ekonomi pada kuartal III dan IV, Purbaya mengatakan pemerintah akan menyalurkan insentif, terutama untuk kendaraan ramah lingkungan seperti mobil listrik dan motor listrik. Selain itu, pemerintah juga akan memperbaiki akses pendanaan bagi industri yang berorientasi ekspor dan banyak menyerap tenaga kerja.
Ia menyebut sejumlah sektor yang menjadi perhatian, antara lain tekstil, furnitur, dan sepatu. Purbaya juga mengatakan akan segera menggelar rapat lanjutan agar perusahaan-perusahaan di sektor tersebut memperoleh pendanaan yang lebih baik dan lebih murah. Dalam skema itu, ia membuka kemungkinan keterlibatan Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia (LPEI) untuk memperkuat dukungan pembiayaan.
Sudut pandang lain
Pernyataan Purbaya menunjukkan pemerintah ingin menjaga kepercayaan pelaku usaha di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan pada paruh kedua 2026. Fokus pada insentif dan pembiayaan mencerminkan upaya menahan tekanan dari sektor eksternal sekaligus mendorong konsumsi dan investasi domestik.
Di sisi lain, efektivitas kebijakan seperti insentif kendaraan listrik dan perbaikan akses kredit akan sangat bergantung pada kecepatan implementasi serta respons dunia usaha. Jika penyaluran dana dan insentif tersalurkan tepat sasaran, kebijakan ini berpotensi menopang industri padat karya dan ekspor; jika lambat, target pertumbuhan bisa tetap tertekan.
Lihat versi asli dari sumber
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis prediksi sejumlah ekonom yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan merosot di bawah 5 persen pada kuartal III dan IV tahun 2026.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi matang untuk menjaga momentum pertumbuhan tetap berada di level tinggi, bahkan melampaui capaian awal tahun.
Menurut Purbaya, pandangan skeptis yang menyebut belanja pemerintah tidak akan lagi memberikan efek signifikan pada sisa tahun ini. Menurutnya, mesin pertumbuhan ekonomi sesungguhnya berada pada sektor swasta yang mendominasi 90 persen aktivitas ekonomi nasional.
"Mereka tidak tahu strategi ekonomi saya seperti apa. Walaupun kemarin cuma belanja pemerintah saja yang tumbuh, tidak akan sampai 5,61 persen. Kenapa? 90 persen kan swasta," tegas Purbaya saat ditemui di Gedung Dhanapala Kemenkeu, Selasa (12/5/2026).
Untuk memastikan ekonomi tetap bergairah pada kuartal III dan IV, Purbaya berencana menggelontorkan berbagai insentif, khususnya pada sektor kendaraan ramah lingkungan.
Selain itu, fokus utama pemerintah adalah mempermudah akses pendanaan bagi industri berorientasi ekspor yang menyerap banyak tenaga kerja.
"Jadi ada tetap dorongan ke sektor riil. Kalau dari kita ya akan kasih insentif di mobil listrik, motor listrik. Nanti akan perbaikin tadi akses kependanaan seperti apa. Dari perusahaan-perusahaan ekspor orientasi seperti tekstil, furniture, sepatu. Saya akan panggil rapat lagi dalam waktu dekat, supaya mereka punya akses kependanaan yang lebih bagus dan lebih murah. Saya bisa masuk lewat Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia (LPEI)," jelasnya.
© 2007 - 2026 Okezone.com, All Rights Reserved
Berita terkait
Merek Mobil Korea Masih Berjuang di Pasar Indonesia
Persaingan industri otomotif nasional sepanjang 2026 semakin ramai dengan hadirnya berbagai merek baru. Namun di tengah dominasi Jepang dan agresivitas mobil China.
Penjualan Honda di Indonesia Tertekan pada Awal 2026
Nama Honda dulu identik dengan salah satu merek mobil paling kuat di Indonesia. Namun kondisi pasar otomotif nasional saat ini mulai berubah dan posisi Honda terlihat.
VKTR Umumkan Transisi Kepemimpinan usai Pengunduran Diri Dirut
VKTR resmi umumkan pengunduran diri Gilarsi Wahju Setijono dari posisi Direktur Utama. Transisi kepemimpinan disebut tak ganggu bisnis kendaraan listrik.
Mobil China Menguat, BYD Tembus Tiga Besar, Rupiah Jadi Sorotan
Kali ini perhatian tertuju pada dominasi merek mobil China di Indonesia, lonjakan posisi BYD di pasar otomotif, hingga dampak pelemahan rupiah terhadap industri kendaraan
Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi untuk Pangkas Izin Investasi
Presiden Prabowo mengakui keluhan investor tentang proses perizinan yang lambat di Indonesia. Ia minta deregulasi untuk mendukung investasi.
TVS Siapkan Skuter Maxi Listrik M1-S untuk Indonesia
Pabrikan asal India itu mulai memperlihatkan tanda-tanda bakal menghadirkan skuter maxi listrik M1-S untuk konsumen Tanah Air. Motor listrik tersebut sudah muncul.