Tradisi Gentong Haji Masih Terjaga di Cirebon
Warga Cirebon masih menjaga tradisi 'Gentong Haji', menempatkan gentong berisi air di depan rumah untuk 'sedekah minum' dan mendoakan keluarga yang naik haji.

Tradisi gentong haji masih lestari di Cirebon, Jawa Barat, sebagai penanda rumah yang ditinggalkan anggota keluarga untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Di Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, sebuah gentong tanah liat berisi air segar diletakkan di depan rumah Slamet, salah satu calon jemaah haji. Wadah itu ditutup kukusan dari anyaman bambu dan menjadi tanda yang akrab bagi warga sekitar.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan gentong tersebut bukan hal baru, terutama pada musim haji seperti sekarang. Air di dalam gentong tidak hanya berfungsi sebagai penanda, tetapi juga dibuka untuk umum. Warga yang melintas dipersilakan minum sebagai bentuk sedekah minum. Tradisi ini telah dijaga turun-temurun dan masih dipraktikkan hingga kini oleh sejumlah keluarga di Cirebon.
Menurut Anila, anggota keluarga Slamet, gentong haji memiliki makna kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Air segar itu dipercaya dapat menyejukkan hati, menguatkan tenaga, dan melancarkan keberangkatan jemaah yang sedang berada di Tanah Suci. Selama Slamet masih menjalankan ibadah haji, air dalam gentong akan terus diisi agar dapat dimanfaatkan warga yang lewat.
Selain gentong haji, keluarga dan tetangga juga menjalankan tradisi doa bersama setelah magrib atau isya. Mereka berkumpul untuk pengajian, biasanya membaca Yasinan, dan mendoakan jemaah haji yang sedang berada di Mekkah, Arab Saudi. Kebiasaan ini dilakukan sejak keberangkatan jemaah dan menjadi bagian dari cara warga memberikan dukungan moral serta doa bagi anggota keluarga yang sedang berhaji.
Hingga sekarang, gentong haji tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat Cirebon. Tradisi ini tidak hanya memperlihatkan kepedulian kepada jemaah haji, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai gotong royong, sedekah, dan doa bersama dalam kehidupan warga.
Sudut pandang lain
Tradisi gentong haji menunjukkan bagaimana ibadah haji di tingkat keluarga dan kampung tidak hanya dipahami sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga peristiwa sosial yang melibatkan lingkungan sekitar. Simbol air minum dan doa bersama memperkuat ikatan antarwarga sekaligus menjaga rasa kebersamaan selama anggota keluarga berada jauh di Tanah Suci.
Dari sudut pandang budaya, praktik seperti ini juga menjadi penanda bahwa tradisi lokal masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat modern. Di tengah perubahan gaya hidup, kebiasaan turun-temurun semacam ini berfungsi menjaga identitas komunitas serta menegaskan cara warga setempat memaknai ibadah, sedekah, dan perhatian sosial.
Lihat versi asli dari sumber
Tradisi turun menurun masih terjaga di Cirebon , Jawa Barat, saat ada yang berangkat ke Tanah Suci di Mekkah, Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji .
Tradisi itu adalah gentong tanah liat berisi air segar yang diletakkan di depan rumah yang anggota keluarganya naik haji.
Salah satunya di Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Di depan salah satu rumah calon jemaah haji, Slamet, diletakkan sebuah kendi atau gentong yang bagian atasnya ditutup kukusan berbahan anyaman bambu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi warga sekitar, keberadaan gentong tersebut bukan hal asing. Di tengah musim haji seperti sekarang, pemandangan itu menjadi hal yang lumrah ditemui.
Gentong itu menjadi penanda bahwa pemilik rumah sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Tradisi tersebut dikenal warga sebagai 'gentong Haji', sebuah kebiasaan lama yang masih bertahan di sejumlah wilayah Cirebon hingga sekarang.
Di rumah tersebut, sejak Slamet berangkat untuk naik haji, gentong berisi air sengaja diletakkan di depan rumah.
Air di dalam gentong bukan sekadar pajangan. Siapa pun yang melintas dipersilakan untuk meminumnya alias 'sedekah minum'.
Sementara itu, berdasarkan kearifan lokal turun temurun, gentong air itu memiliki makna tersendiri.
"Konon ceritanya untuk menyejukkan hati, menguatkan tenaga, dan melancarkan orang-orang yang lagi berangkat haji," kata Anila salah satu keluarga Slamet, Sabtu 9/5) dikutip dari detikJabar .
Dia menerangkan air segar di dalam gentong akan terus diisi selama anggota keluarga masih berada di Tanah Suci. Kebiasaan itu dilakukan turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Cirebon saat melepas keluarga berhaji.
"Air itu untuk umum. Bisa diminum siapa saja. Jadi sebagai bentuk sedekah," ujar Anila.
Bukan hanya itu, tradisi lain yang masih dilakukan adalah saat selepas magrib atau isya, tetangganya akan datang untuk ikut pengajian bersama mendoakan jemaah haji yang berada di Tanah Suci.
Tradisi itu juga dilakukan sejak keberangkatan jemaah haji. Tetangga, kerabat, hingga keluarga duduk bersama membaca doa untuk anggota keluarga yang sedang berada di Tanah Suci.
"Biasanya ngaji Yasinan di rumah setiap habis Maghrib," tutur Anila.
Hingga kini, tradisi Gentong Haji masih dijaga warga Cirebon. Tradisi itu menjadi cara warga mendoakan keluarga yang sedang menunaikan ibadah haji.
"Ini sudah menjadi semacam tradisi. Sudah turun-temurun," ucap Anila.
Baca berita lengkapnya di sini .
Berita terkait
PPIH Ingatkan Jemaah Haji Bijak Bermedia Sosial di Arab Saudi
Arab Saudi memiliki aturan ketat terkait aktivitas dokumentasi maupun penyebaran konten di media sosial. Jemaah diminta memahami batasan yang berlaku agar tidak menimbulk

Satgas Armuzna Dibentuk Jelang Puncak Ibadah Haji
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji PPIH Arab Saudi membentuk Satuan Tugas Satgas Operasi Armuzna, untuk memastikan kesiapan layanan menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina Armuzna . Sementara itu, kesiapan tenda di Arafah telah mencapai 90 persen.
/data/photo/2023/08/10/64d516176653d.png)
Mekkah Disebut Tanah Haram karena Status Sucinya
Mengapa Makkah disebut Tanah Haram?

Enam jemaah haji asal Jawa Timur wafat di Tanah Suci
Hingga Rabu (13/5), Petugas penyelenggara ibadah Haji Surabaya mencatat sebanyak enam jemaah haji asal Jawa Timur meninggal dunia

24 Jemaah Haji Wafat di Arab Saudi Menjelang Puncak Ibadah
Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji, pemerintah mencatat sebanyak 24 anggota jemaah calon haji wafat di Arab Saudi.

Komisi VIII DPR Minta Penguatan Layanan Jemaah Haji
Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah meningkatkan fasilitas kesehatan, pengawasan, dan perlindungan jemaah menjelang puncak ibadah haji di Arab Saudi.