Komisi VIII DPR Minta Penguatan Layanan Jemaah Haji
Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah meningkatkan fasilitas kesehatan, pengawasan, dan perlindungan jemaah menjelang puncak ibadah haji di Arab Saudi.

Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah memperkuat fasilitas medis, pendampingan, dan pengawasan terhadap jemaah haji Indonesia menjelang puncak ibadah haji di Arab Saudi. Seruan itu disampaikan di tengah meningkatnya jumlah jemaah yang wafat di Tanah Suci serta bertambahnya jemaah yang memerlukan perawatan intensif.
Selly menilai proses pemberangkatan jemaah haji tahun ini sejauh ini berjalan cukup baik. Ia menyebut sebagian besar jemaah gelombang pertama telah tiba di Madinah, sementara rombongan lain mulai memasuki Makkah seiring keberangkatan gelombang kedua. Meski demikian, ia menekankan masih ada sejumlah catatan yang perlu segera dievaluasi pemerintah.
Salah satu perhatian utamanya adalah penurunan risiko kesehatan jemaah menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Menurutnya, cuaca ekstrem di Arab Saudi dan tingginya aktivitas fisik dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta. Karena itu, ia meminta pengawasan lapangan diperketat agar angka kematian tidak meningkat.
Selain aspek kesehatan, Selly juga menyoroti kesiapan akomodasi dan pelayanan petugas haji. Ia menerima laporan masih ada hotel yang lokasinya cukup jauh dari pusat kegiatan ibadah, sehingga membutuhkan perhatian khusus agar kenyamanan jemaah tetap terjaga. Ia juga menegaskan pentingnya layanan konsumsi yang baik dan bervariasi di Makkah maupun Madinah supaya kebutuhan gizi jemaah tetap terpenuhi selama beribadah.
Di sisi lain, ia meminta pengawasan terhadap Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah diperketat. Selly mengingatkan agar jemaah tidak dipaksa menjalani umrah sunnah berulang kali di tengah suhu panas ekstrem dan kondisi fisik yang rentan menurun. Ia menyarankan ibadah sunnah tambahan dilakukan setelah puncak haji selesai, ketika kondisi jemaah lebih stabil. Ia juga menyoroti layanan rumah sakit dan sistem asuransi kesehatan yang dinilai masih memiliki kendala, termasuk pembatasan masa tanggungan yang membuat sebagian jemaah harus dipindahkan meski belum pulih sepenuhnya.
Selain itu, Selly meminta seluruh penggunaan transportasi untuk city tour maupun wisata religi berada di bawah kontrol penyelenggara resmi. Menurutnya, pengawasan yang ketat diperlukan agar keselamatan jemaah lebih terjamin. Ia berharap seluruh catatan tersebut segera ditindaklanjuti pemerintah agar penyelenggaraan haji tidak hanya lancar secara keberangkatan, tetapi juga aman, nyaman, dan terlindungi selama jemaah berada di Tanah Suci.
Sudut pandang lain
Pernyataan ini menyoroti bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji tidak cukup diukur dari urusan keberangkatan dan kedatangan, melainkan dari kemampuan sistem melindungi jemaah selama fase paling rentan. Isu kesehatan, akomodasi, transportasi, dan koordinasi layanan menjadi penting karena berdampak langsung pada keselamatan jemaah, khususnya kelompok lanjut usia.
Dari sisi tata kelola, masukan tersebut menunjukkan perlunya sinkronisasi yang lebih kuat antara penyelenggara haji Indonesia, petugas lapangan, dan otoritas Arab Saudi. Evaluasi yang cepat terhadap layanan medis, asuransi, serta pengawasan kegiatan tambahan dapat membantu menekan risiko dan menjaga kualitas ibadah di tengah tekanan cuaca serta kepadatan jemaah.
Lihat versi asli dari sumber
INFO TEMPO - Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, meminta pemerintah memperkuat fasilitas medis, layanan pendampingan, serta pengawasan terhadap jemaah Indonesia menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi. Permintaan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya jumlah jemaah haji yang wafat di Tanah Suci serta bertambahnya jemaah yang membutuhkan perawatan intensif.
Selly mengapresiasi proses pemberangkatan jemaah haji tahun ini yang dinilai berjalan cukup baik. Mayoritas jemaah gelombang pertama telah tiba di Madinah, sementara sebagian lainnya mulai memasuki Makkah bersamaan dengan keberangkatan gelombang kedua. Meski demikian, ia menegaskan masih terdapat sejumlah catatan penting yang perlu segera dievaluasi pemerintah.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Saya pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Haji dan Umrah yang sudah menyelenggarakan pelaksanaan haji. Tetapi berdasarkan evaluasi kami, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian serius,” ujar Selly sebelum menghadiri Rapat Paripurna ke-18 di Senayan, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurut legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut, fokus utama saat ini adalah menekan angka kematian jemaah agar tidak meningkat menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Ia mengingatkan bahwa cuaca ekstrem di Arab Saudi serta tingginya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Selain persoalan kesehatan, Selly juga menyoroti kesiapan fasilitas akomodasi dan pelayanan petugas haji di lapangan. Ia menerima laporan masih terdapat hotel yang lokasinya cukup jauh dari pusat kegiatan ibadah sehingga memerlukan perhatian khusus dari petugas agar kenyamanan jemaah tetap terjaga.
Ia turut mengingatkan pentingnya menjaga kualitas layanan konsumsi bagi jemaah, baik di Makkah maupun Madinah. Menurutnya, penyediaan katering yang baik dan bervariasi penting untuk memenuhi kebutuhan gizi jemaah selama menjalankan ibadah.
Lebih lanjut, Selly meminta pengawasan terhadap Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) diperketat. Ia mengingatkan agar jemaah tidak dipaksakan menjalankan umrah sunnah berulang kali di tengah suhu panas ekstrem dan kondisi fisik yang rentan menurun.
“Kami masih mendengar ada jemaah yang diarahkan berkali-kali melakukan umrah sunnah. Padahal cuaca sangat panas dan petugas terbatas. Ini harus menjadi perhatian,” katanya.
Selly menyarankan agar ibadah sunnah tambahan dilakukan setelah fase puncak haji selesai sehingga kondisi jemaah lebih stabil dan risiko kesehatan dapat ditekan.
Di sisi lain, ia juga menyoroti pelayanan rumah sakit dan sistem asuransi kesehatan bagi jemaah Indonesia di Arab Saudi. Menurut informasi yang diterimanya, masih terdapat kendala terkait pembatasan masa tanggungan asuransi sehingga sebagian jemaah yang belum pulih harus dipindahkan ke rumah sakit lain.
“Kalau jemaah belum sembuh, harusnya tetap dirawat sampai selesai. Jangan dipindah-pindah hanya karena batas waktu asuransi,” tegasnya.
Menurut Selly, kesinambungan layanan kesehatan menjadi faktor penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi jemaah selama beribadah. Karena itu, ia meminta pemerintah Indonesia memperkuat koordinasi dengan otoritas Arab Saudi agar perlindungan kesehatan bagi jemaah dapat berjalan optimal.
Tak hanya itu, Selly juga menyoroti aspek transportasi jemaah, khususnya penggunaan kendaraan di luar layanan resmi. Ia meminta seluruh moda transportasi yang digunakan dalam kegiatan city tour maupun wisata religi berada dalam pengawasan penyelenggara resmi demi menjamin keselamatan jemaah.
“Kedepan harus dievaluasi, setiap transportasi yang dipergunakan jemaah harus dalam kontrol pemerintah agar keselamatan lebih terjamin,” ujarnya.
Selly berharap seluruh catatan tersebut segera ditindaklanjuti pemerintah mengingat puncak pelaksanaan ibadah haji akan segera berlangsung. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya diukur dari kelancaran keberangkatan, tetapi juga dari kualitas perlindungan, keselamatan, dan kenyamanan jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci.(*)
Berita terkait

Satgas Armuzna Dibentuk Jelang Puncak Ibadah Haji
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji PPIH Arab Saudi membentuk Satuan Tugas Satgas Operasi Armuzna, untuk memastikan kesiapan layanan menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina Armuzna . Sementara itu, kesiapan tenda di Arafah telah mencapai 90 persen.
PPIH Ingatkan Jemaah Haji Bijak Bermedia Sosial di Arab Saudi
Arab Saudi memiliki aturan ketat terkait aktivitas dokumentasi maupun penyebaran konten di media sosial. Jemaah diminta memahami batasan yang berlaku agar tidak menimbulk

Sistem buka tutup Terminal Ajyad atasi kepadatan jemaah haji
PPIH Arab Saudi terapkan sistem buka tutup di Terminal Ajyad untuk keamanan jamaah haji demi mengurai kepadatan.
/data/photo/2022/03/23/623aa480b625e.jpg)
BMKG Prakirakan Jakarta Cerah Sejak Pagi, Hujan Ringan Malam Hari
BMKG memprakirakan cuaca Jakarta hari ini Kamis (14/5/2026) didominasi cerah hingga berawan, namun dua wilayah berpotensi hujan ringan malam nanti.
/data/photo/2023/08/10/64d516176653d.png)
Mekkah Disebut Tanah Haram karena Status Sucinya
Mengapa Makkah disebut Tanah Haram?

Enam jemaah haji asal Jawa Timur wafat di Tanah Suci
Hingga Rabu (13/5), Petugas penyelenggara ibadah Haji Surabaya mencatat sebanyak enam jemaah haji asal Jawa Timur meninggal dunia