Live|
OkezoneVersi JafmoNewsNegatif11 Mei 2026 pukul 05.01

Sarwo Edhie Pernah Ingin Mundur dari Tentara setelah Pangkatnya Diturunkan

Selain itu, sebelum bertemu Yani, Sarwo pernah mendaftar menjadi heiho pembantu tentara . Tugas Sarwo hanya memotong rumput serta membersihkan WC dan tempat tidur tentara Jepang.

Sarwo Edhie Pernah Ingin Mundur dari Tentara setelah Pangkatnya Diturunkan

Sarwo Edhie Wibowo pernah berada di titik terendah dalam karier militernya setelah pangkatnya diturunkan oleh Ahmad Yani dari kapten menjadi letnan satu. Keputusan itu membuat hubungan keduanya menjadi tidak harmonis dan sempat mengguncang semangat Sarwo untuk tetap bertugas di ketentaraan.

Dalam riwayat yang dikutip dari buku *Sarwo Edhie dan Misteri 1965*, Ahmad Yani sebelumnya mengajak Sarwo bergabung ke Batalion III Badan Keamanan Rakyat. Saat itu, batalion tersebut dipimpin Yani, sedangkan Sarwo bertugas membawa mortir. Ketika Yani kemudian membentuk batalion baru, Sarwo yang kelak dikenal sebagai perwira Kopassus itu diangkat menjadi komandan kompi Batalion V Brigade IX Divisi Diponegoro hingga 1951.

Sebelum mengenal Ahmad Yani, Sarwo juga pernah mendaftar sebagai heiho atau pembantu tentara. Dalam masa itu, pekerjaannya sangat sederhana, yakni memotong rumput serta membersihkan WC dan tempat tidur tentara Jepang. Pengalaman panjang sejak masa awal itu menunjukkan bahwa jalan hidup Sarwo di dunia militer ditempuh melalui berbagai tugas bawah, jauh sebelum namanya dikenal luas.

Setelah pangkatnya diturunkan, Sarwo disebut patah arang hingga menangis. Ia pulang ke Purworejo dan menyampaikan kepada ibunya bahwa dirinya ingin berhenti dari tentara. Namun, ibunya, Surtini, justru merespons dengan tegas dan dingin. Ia menilai, jika seseorang menjadi tentara hanya demi mengejar pangkat, maka lebih baik keluar dari dinas ketentaraan. Sikap sang ibu itu menjadi penegasan bahwa pengabdian militer seharusnya tidak semata-mata didorong ambisi jabatan.

Sudut pandang lain

Kisah ini menggambarkan bahwa dinamika kepangkatan dalam militer tidak hanya berdampak pada karier, tetapi juga pada psikologis prajurit dan relasi antarpersonel. Dalam konteks sejarah, pengalaman Sarwo memperlihatkan kerasnya pembentukan watak militer di masa revolusi dan awal kemerdekaan.

Dari sudut pandang yang lebih luas, cerita ini juga menonjolkan nilai disiplin dan pengabdian yang kerap ditekankan dalam tradisi ketentaraan. Respons ibu Sarwo memberi konteks moral bahwa profesi militer dipandang sebagai pengabdian, bukan sekadar jalan menuju kenaikan jabatan.

Lihat versi asli dari sumber

JAKARTA – Pangkat Sarwo Edhie Wibowo pernah diturunkan oleh Ahmad Yani, dari Kapten menjadi Letnan Satu (Lettu). Hal ini membuat hubungan keduanya tidak harmonis.

Melansir buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, Minggu (10/5/2026), Ahmad Yani mengajak Sarwo bergabung dalam Batalion III Badan Keamanan Rakyat. Batalion itu dikomandani oleh Yani sedangkan Sarwo bertugas membawa mortir.

Kemudian, saat Yani membentuk Batalion baru, Sarwo yang malang melintang di Korps Baret Merah Kopassus ini diangkat menjadi komandan kompi Batalion V Brigade IX Divisi Diponegoro sampai 1951.

Selain itu, sebelum bertemu Yani, Sarwo pernah mendaftar menjadi heiho (pembantu tentara). Tugas Sarwo hanya memotong rumput serta membersihkan WC dan tempat tidur tentara Jepang.

Seusai pangkatnya diturunkan, Sarwo patah arang sampai menangis. Dia pulang ke Purworejo dan memberitahu ibunya. "Saya berhenti dari tentara," kata Sarwo kepada ibunya.

Surtini, ibu Sarwo menanggapi dingin. "Kalau kamu jadi tentara hanya mengejar pangkat, silakan keluar," ucapnya.

© 2007 - 2026 Okezone.com, All Rights Reserved

Dirangkum dari Okezone · oleh https://www.facebook.com/OkezoneCom

Berita terkait