Live|
Antara NewsVersi JafmoNewsPositif10 Mei 2026 pukul 19.29

Menag Nilai Pindapata Sebagai Pelajaran Hidup

Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri gelaran Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 B.E. Tahun 2026 dan menegaskan tradisi tersebut bukan sekadar tradisi ...

Menag Nilai Pindapata Sebagai Pelajaran Hidup

Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 B.E. Tahun 2026 di Jakarta pada Minggu dan menegaskan bahwa tradisi tersebut bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga pelajaran hidup. Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 B.E. itu, ia menyebut Pindapata sebagai momen yang menghadirkan perenungan tentang arti memberi, menerima, dan hidup sederhana.

Acara tersebut diikuti sekitar 75 bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia serta kurang lebih 10.000 umat Buddha dari berbagai daerah. Mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih bagi Negeri”, kegiatan ini diarahkan untuk mendorong umat agar menerjemahkan praktik spiritual ke dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama dan bangsa.

Nasaruddin menilai Pindapata menjadi pengingat di tengah kehidupan modern yang serba cepat bahwa hidup tidak hanya soal memiliki, tetapi juga berbagi. Ia juga menyebut tradisi ini sebagai perjumpaan batin antara pemberi dan penerima, sekaligus sarana melatih keikhlasan dan melembutkan hati. Menurutnya, dari kesederhanaan para bhikkhu, masyarakat dapat belajar bahwa manusia tidak selalu dibesarkan oleh apa yang dimiliki, melainkan juga oleh kemampuan untuk melepaskan.

Dalam kesempatan itu, Menag juga menyinggung pentingnya menghadirkan nilai cinta kasih dalam kehidupan beragama dan sosial melalui penguatan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi. Ia berharap agama benar-benar menghadirkan keteduhan, kesejukan, dan semangat melayani di tengah kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, Gema Waisak Pindapata Nasional 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa bangsa memerlukan lebih banyak welas asih, kebijaksanaan, dan hati yang lembut.

Sementara itu, Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia Bhikkhu Subhapanno Mahathera menjelaskan bahwa Pindapata merupakan tradisi luhur Buddhis yang telah berlangsung sejak masa Buddha Gautama dan terus diwariskan hingga kini. Ia menuturkan, Pindapata adalah salah satu bentuk dana yang jika dijalankan dengan baik akan menyempurnakan sila, mengembangkan samadhi, dan menumbuhkan kebijaksanaan menuju Nibbana. Ia juga mengajak umat Buddha untuk terus menambah kebajikan, menjauhi kejahatan, serta menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.

Selain Pindapata Nasional, rangkaian Gema Waisak Nasional 2026 juga memuat kegiatan sosial dan kemanusiaan seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan sosial, dan penyebaran eco enzyme sebagai bagian dari implementasi program ekoteologi. Sejumlah tokoh dan unsur umat Buddha turut hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk jajaran Sangha, Dirjen Bimas Buddha, anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, pejabat daerah, organisasi keagamaan Buddha, serta berbagai komunitas umat Buddha.

Sudut pandang lain

Kegiatan Pindapata dalam rangka Waisak tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan dapat diperluas menjadi ruang edukasi sosial. Penekanan pada berbagi, kesederhanaan, dan welas asih menunjukkan upaya menghubungkan nilai ibadah dengan perilaku publik yang lebih harmonis.

Di sisi lain, penyertaan kegiatan sosial seperti donor darah, layanan kesehatan, bantuan sosial, dan eco enzyme memperlihatkan bahwa perayaan keagamaan kini juga diarahkan ke manfaat yang lebih konkret bagi masyarakat. Pendekatan semacam ini berpotensi memperkuat citra agama sebagai sumber etika sosial dan kepedulian lingkungan.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri gelaran Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 B.E. Tahun 2026 dan menegaskan tradisi tersebut bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan pelajaran tentang hidup.

“Hari ini, kita tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi keagamaan. Kita sedang menyaksikan pelajaran tentang kehidupan,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Minggu.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 B.E. ini dihadiri sekitar 75 bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia dan kurang lebih 10.000 umat Buddha dari berbagai daerah.

Mengusung tema “ Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih bagi Negeri”, kegiatan tersebut mengajak umat untuk mewujudkan praktik spiritual melalui tindakan nyata bagi sesama dan bangsa.

Menurutnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, Pindapata menghadirkan keteduhan dan pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang berbagi.

Menag menilai tradisi ini menjadi perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima, sekaligus sarana melatih keikhlasan dan melembutkan hati.

“Dalam kesederhanaan para Bhikkhu, kita belajar bahwa manusia tidak selalu dibesarkan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh apa yang mampu ia lepaskan,” ujarnya.

Menag juga menyinggung pentingnya menghadirkan nilai cinta kasih dalam kehidupan beragama dan sosial melalui penguatan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi. Menurutnya, agama harus mampu menghadirkan keteduhan, kesejukan, serta semangat melayani dalam kehidupan bermasyarakat.

“Semoga Gema Waisak Pindapata Nasional 2026 tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak hati yang lembut, lebih banyak welas asih, dan lebih banyak kebijaksanaan,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia Bhikkhu Subhapanno Mahathera menyampaikan Pindapata merupakan tradisi luhur Buddhis yang telah berlangsung sejak zaman Buddha Gautama dan menjadi praktik kebajikan yang terus diwariskan hingga kini.

“Pindapata adalah salah satu bentuk dana. Bila dana dilaksanakan dengan baik maka kemoralan (sila) akan lebih sempurna. Sila yang lebih sempurna dipraktekan maka keteguhan batin samadhi juga berkembang. Samadhi yang dikembangkan dengan baik maka kebijaksanaan juga akan berkembang. Itulah jalan untuk menuju kebebasan akhir derita yaitu Nibbana,” kata Bikkhu.

Ia juga mengajak umat Buddha untuk terus menambah kebajikan dengan menjauhi segala bentuk kejahatan dan menjaga diri demi terciptanya kehidupan yang harmonis bagi masyarakat dan bangsa.

Selain Pindapata Nasional, rangkaian Gema Waisak Nasional 2026 juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan sosial, serta penyebaran eco enzyme sebagai bagian dari implementasi program ekoteologi.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, yakni Bhikkhu Sangha, Dirjen Bimas Buddha serta jajaran, Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, beberapa pejabat daerah, Ketua Organisasi Keagamaan Buddha, keluarga besar Theravada Indonesia, Magabudhi, Wandani, Patria dan seluruh komponen lembaga umat Buddha.

Pewarta: Asep Firmansyah Editor: Sambas Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Dirangkum dari Antara News · oleh https://www.facebook.com/antaranewsdotcom

Berita terkait