Live|
Tempo.coVersi JafmoNewsNegatif10 Mei 2026 pukul 20.01

Edy Wuryanto Minta Pemerintah Waspadai Hantavirus

Pemerintah dapat meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium, termasuk pemeriksaan PCR dan seralogi di rumah sakit rujukan.

Edy Wuryanto Minta Pemerintah Waspadai Hantavirus

Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran virus hanta atau hantavirus. Ia menilai pencegahan perlu dilakukan lebih awal agar penyakit tersebut tidak luput dari pemantauan, meski saat ini belum dianggap sebagai ancaman yang dekat bagi Indonesia.

Menurut Edy, pemerintah sebaiknya menerapkan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Pendekatan itu dinilai penting karena penularan hantavirus berkaitan dengan kondisi kebersihan lingkungan, keberadaan tikus, serta interaksi manusia dengan area yang berisiko. Ia menegaskan bahwa pencegahan tidak cukup hanya bertumpu pada layanan rumah sakit, melainkan harus menyentuh lingkungan hidup sehari-hari.

Edy menyebut sejumlah langkah yang perlu diperkuat, mulai dari memperluas surveilans terhadap kasus demam akut yang belum terdiagnosis, meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium seperti pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan, hingga memperkuat pengendalian rodensia dan sanitasi berbasis masyarakat. Pengelolaan kebersihan permukiman dan pengendalian populasi tikus, kata dia, harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan publik.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar memahami cara sederhana mencegah penularan. Di antaranya dengan memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga menjadi sarang tikus, menjaga kebersihan ventilasi ruangan, serta menghindari kontak langsung dengan tikus. Menurutnya, langkah-langkah tersebut perlu dipahami luas agar masyarakat tidak menunggu sampai muncul kasus.

Peringatan itu disampaikan Edy di tengah pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO terhadap kasus hantavirus strain Andes di kapal pesiar MV Hondius, yang dilaporkan menewaskan tiga orang dan membuat sejumlah orang menjadi suspect. Meski dua warga Singapura yang sempat dicurigai terpapar kemudian dinyatakan negatif setelah pemeriksaan dan karantina, Edy menilai kewaspadaan tetap penting. Ia menyebut Indonesia memiliki faktor risiko yang besar, mulai dari kepadatan penduduk, urbanisasi, persoalan sanitasi, hingga tingginya populasi tikus di kawasan pemukiman. Ia juga mengingatkan bahwa hantavirus kerap tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis.

Sudut pandang lain

Dari sudut pandang kesehatan publik, seruan ini menunjukkan pentingnya pencegahan berbasis lingkungan, bukan hanya respons klinis setelah kasus muncul. Jika surveilans dan diagnosis laboratorium diperkuat, kemungkinan salah diagnosis pada penyakit dengan gejala mirip akan bisa ditekan.

Secara kebijakan, pendekatan One Health juga menuntut koordinasi lintas sektor antara kesehatan, lingkungan, dan pengelolaan permukiman. Hal ini relevan bagi wilayah padat penduduk, karena pengendalian vektor dan sanitasi sering menjadi faktor penentu dalam mencegah wabah zoonosis.

Lihat versi asli dari sumber

ANGGOTA Komisi IX DPR Edy Wuryanto meminta pemerintah dan masyarakat untuk melakukan kewaspadaan dini terhadap potensi merebaknya virus hanta atau hantavirus .

Pilihan Editor: Ketika Koperasi Merah Putih Menjadi Pesaing Warung Kelontong

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kewaspadaan tersebut, kata dia, dapat dilakukan pemerintah dengan menerapkan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

"Kita tidak boleh menaganggap hantavirus sebagai ancaman jauh yang tidak relevan bagi Indonesia," kata Edy dalam keterangan tertulis, Ahad, 10 Mei 2026.

Dia menuturkan, ada sejumlah langkah krusial yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam mewaspadai hantavirus. Pertama, memperluas surveilans penyakit demam akut yang belum terdiagnosis agar hantavirus tak luput dari pemantauan.

Kedua, dia melanjutkan, pemerintah dapat meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium, termasuk pemeriksaan PCR dan seralogi di rumah sakit rujukan. Kemudian ketiga, upaya dapat dilakukan dengan memperkuat pengendalian rodensia dan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat.

Dalam hal sanitasi, Edy menuturkan, pengelolaan kebersihan pemukiman dan pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian penting dalam kebijakan kesehatan publik.

"Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari," ujar politikus PDIP ini.

Edy melanjutkan, edukasi publik juga mesti diperluas agar masyarakat memahami cara-cara sederhana dalam mencegah penularan. Misalnya, menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terindikasi merupakan sarang tikus.

"Masyarakat wajib memperhatikan kebersihan ventilasi ruangan dan mencegah kontak langsung dengan tikus," katanya.

Adapun, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO tengah melakukan pemantauan kasus hantavirus strain Andes yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius. Pada kasus itu, sebanyak tiga orang dinyatakan meninggal dunia dan berapa lainnya menjadi suspect .

Saat itu, dua orang warga Singapura yang berada dalam kapal dinyatakan menjadi suspect . Namun, hasil pemeriksaan dan karantina menyatakan keduanya negatif terpapar.

Kendati begitu, Edy Wuryanto, mengatakan kewaspadaan tidak boleh diabaikan. Sebab, Indonesia memiliki faktor risiko yang cukup besar dengan mempertimbangkan kepadatan penduduk, urbanisasi, persoalan sanitasi lingungan, maupun tingginya populasi tikus di kawasan pemukiman.

"Ini menunjukan hantavirus bukan sekadar ancaman teoritis, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis," ucap dia.

Berita terkait