Live|
VIVAVersi JafmoNewsPositif14 Mei 2026 pukul 22.30

Ekspor Pupuk Urea ke Australia Dorong Harga Subsidi Turun

Mentan Andi Amran Sulaiman menyampaikan pencapaian besar di sektor pupuk dalam negeri dengan ekspor pupuk urea ke Australia, dan harga pupuk nasional turun 20 persen

Ekspor Pupuk Urea ke Australia Dorong Harga Subsidi Turun

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut industri pupuk nasional mencatat capaian penting setelah Indonesia melepas ekspor perdana pupuk urea ke Australia. Pelepasan dilakukan di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, pada Kamis, 14 Mei 2026, bersamaan dengan kabar turunnya harga pupuk bersubsidi di dalam negeri sebesar 20 persen.

Amran mengatakan penurunan harga pupuk subsidi itu merupakan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang tidak menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Selain harga yang lebih rendah, pemerintah juga menambah volume pupuk bersubsidi sebanyak 700 ribu ton agar akses petani terhadap pupuk semakin luas. Menurut Amran, langkah tersebut menjadi kabar baik bagi petani Indonesia, terutama di tengah situasi geopolitik global yang masih memanas.

Dalam kesempatan yang sama, Amran menegaskan ekspor pupuk urea ke Australia menandai tonggak baru bagi transformasi industri pupuk nasional. Pengiriman awal yang dilepas hari itu mencapai 47.250 ton dengan nilai sekitar Rp600 miliar. Secara keseluruhan, kerja sama Indonesia dan Australia melalui skema government-to-government diproyeksikan mencapai 250.000 ton pada tahap awal dan dapat ditingkatkan menjadi 500.000 ton dengan nilai total sekitar Rp7 triliun.

Pemerintah juga mulai menyiapkan perluasan pasar ekspor pupuk ke sejumlah negara lain yang dinilai strategis, antara lain India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh. Di sisi lain, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara kedua negara dalam sektor pupuk. Perkembangan ini menunjukkan penguatan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pemasok bagi petani dalam negeri, tetapi juga sebagai pemain di pasar internasional.

Sudut pandang lain

Kombinasi antara penurunan harga pupuk subsidi dan ekspor bernilai besar menunjukkan pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan daya saing industri pupuk nasional. Dari sisi petani, penurunan harga 20 persen dan tambahan volume subsidi berpotensi meringankan biaya produksi, terutama pada komoditas pangan yang sangat bergantung pada pupuk.

Di tingkat industri, ekspor ke Australia melalui skema G2G membuka peluang perluasan pasar dan meningkatkan reputasi pupuk Indonesia di pasar global. Namun, keberlanjutan manfaatnya akan bergantung pada konsistensi pasokan, efisiensi produksi, dan kemampuan menjaga harga tetap terjangkau bagi petani di dalam negeri.

Lihat versi asli dari sumber

VIVA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan pencapaian besar di sektor pupuk dalam negeri melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto, dengan melakukan ekspor pupuk urea ke Australia dengan nilai mencapai sekitar Rp7 triliun. Disisi lain, harga pupuk dalam negeri berhasil turun 20 persen.

Amran mengatakan pemerintah mencatat kemajuan besar di sektor pupuk dalam negeri melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen tanpa tambahan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Di saat geopolitik dunia memanas, Indonesia Alhamdulillah harga pupuknya turun 20 persen. Pupuk subsidi untuk petani Indonesia," kata Amran di sela pelepasan ekspor perdana produk urea PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur ke Australia di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, sebagaimana keterangan di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2026.

Dia menyampaikan kebijakan tersebut juga disertai penambahan volume pupuk bersubsidi sebanyak 700 ribu ton untuk memperluas akses petani. "Volume pupuk bertambah. Inilah kebahagiaan 160 juta petani Indonesia dan 115 juta petani padi (diantaranya),” ujar Amran.

Menurutnya Indonesia mencatat tonggak baru transformasi industri pupuk nasional melalui ekspor pupuk urea ke Australia dengan nilai mencapai sekitar Rp7 triliun. Di saat yang sama, pemerintah juga berhasil menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen serta menambah volume pupuk untuk petani nasional, menandai penguatan sektor pupuk dari hulu hingga hilir.

Pelepasan tersebut menjadi tonggak baru penguatan kerja sama sektor pupuk melalui skema government-to-government (G2G) antara Indonesia dan Australia.

Lebih lanjut Amran menyebutkan ekspor perdana yang dilepas hari ini mencapai 47.250 ton pupuk urea senilai sekitar Rp600 miliar. Ekspor tersebut merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton dan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai sekitar Rp7 triliun.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah Australia, pemerintah mulai mengarahkan penguatan pasar ekspor pupuk nasional ke sejumlah negara strategis lain seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh.

Di tempat yang sama, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin antara Indonesia dan Australia.

Dirangkum dari VIVA · oleh Dedy Priatmojo

Berita terkait