Live|
VIVAVersi JafmoNewsNetral13 Mei 2026 pukul 21.58

Inggris Siapkan Kapal Perang dan Jet Tempur untuk Selat Hormuz

Inggris siap mengerahkan kapal perang, kapal penyapu ranjau tanpa awak, dan jet tempur sebagai bagian dari misi untuk memastikan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz

Inggris Siapkan Kapal Perang dan Jet Tempur untuk Selat Hormuz

Inggris menyatakan siap mengerahkan kapal perang, kapal penyapu ranjau tanpa awak, dan jet tempur untuk mendukung misi keamanan di Selat Hormuz. Langkah ini diambil untuk memastikan kebebasan navigasi dan kelancaran pelayaran di jalur air strategis tersebut, yang selama ini terdampak eskalasi konflik di sekitar Iran.

Kementerian Pertahanan Inggris pada Selasa, 12 Mei 2026, menyebut London dan Paris menjadi tuan rumah pertemuan menteri pertahanan dari sedikitnya 40 negara. Pertemuan itu digelar untuk membahas pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan penguatan pengamanan kawasan. Dalam pernyataannya, Inggris menegaskan akan mengerahkan peralatan pemburu ranjau otonom, sistem anti-drone canggih, jet Typhoon, serta kapal HMS Dragon sebagai bagian dari misi pertahanan masa depan.

Pemerintah Inggris juga mengumumkan alokasi anggaran sebesar 115 juta pound sterling atau sekitar Rp2,7 triliun untuk pengadaan peralatan pesawat nirawak. Dana tersebut mencakup pengerahan kapal nirawak Kraken di bawah sistem modular Beehive. Selain itu, kapal RFA Lyme Bay sedang dimodernisasi agar dapat difungsikan sebagai platform peluncuran drone, sehingga mendukung operasi maritim yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi.

Di sisi lain, kapal perusak HMS Dragon yang telah dilengkapi sistem anti-drone mutakhir dilaporkan berangkat ke Timur Tengah pada pekan lalu. Penempatan itu dimaksudkan untuk memperkuat pertahanan Inggris di kawasan yang menjadi titik penting perdagangan energi dunia. Blokade efektif di Selat Hormuz telah mengganggu pasokan minyak dan gas alam cair global dari Teluk Persia, serta ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan produk industri di banyak negara.

Sudut pandang lain

Kebijakan Inggris ini menunjukkan semakin besarnya peran teknologi nirawak dalam operasi keamanan maritim modern. Penggunaan drone, sistem anti-drone, dan kapal tanpa awak memperlihatkan perubahan pendekatan militer dari ketergantungan pada armada konvensional menuju pengawasan dan respons yang lebih adaptif.

Dari sisi ekonomi global, Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan karena gangguan kecil saja dapat memicu efek berantai pada harga energi dan biaya logistik internasional. Karena itu, langkah multilateral yang melibatkan banyak negara menandakan bahwa keamanan jalur ini bukan hanya isu regional, melainkan kepentingan perdagangan dunia.

Lihat versi asli dari sumber

VIVA – Inggris siap mengerahkan kapal perang , kapal penyapu ranjau tanpa awak, dan jet tempur sebagai bagian dari misi untuk memastikan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz , menurut keterangan Kementerian Pertahanan Inggris.

Kementerian itu pada Selasa, 12 Mei 2026, menyatakan Inggris dan Prancis bersama-sama menjadi tuan rumah pertemuan para menteri pertahanan (menhan) dari sedikitnya 40 negara untuk membahas misi pembukaan kembali jalur air tersebut.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Inggris akan mengerahkan peralatan pemburu ranjau otonom dan sistem anti-drone canggih, bersama dengan jet Typhoon dan HMS Dragon, sebagai bagian dari misi pertahanan masa depan untuk mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz," kata Kemhan Inggris.

Pemerintah Inggris juga mengumumkan alokasi anggaran sebesar 115 juta pound sterling (sekitar Rp2,7 triliun) untuk pengadaan peralatan pesawat nirawak. Secara spesifik, pendanaan itu mencakup pengerahan kapal nirawak Kraken di bawah sistem modular Beehive.

Di satu sisi, Inggris sedang memodernisasi kapal RFA Lyme Bay agar dapat berfungsi sebagai platform peluncuran drone (kapal induk nirawak). Di sisi lain, kapal perusak HMS Dragon, yang telah dilengkapi dengan sistem anti-drone mutakhir, dilaporkan telah bertolak ke Timur Tengah pada pekan lalu guna memperkuat pertahanan di kawasan tersebut.

Eskalasi konflik di sekitar Iran telah menyebabkan blokade efektif terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pasokan minyak dan gas alam cair global dari Teluk Persia. Hal itu juga berpengaruh terhadap ekspor dan tingkat produksi minyak.

Blokade tersebut menyebabkan kenaikan harga bahan bakar dan produk industri di sebagian besar negara di dunia.

Dirangkum dari VIVA · oleh Dedy Priatmojo

Berita terkait