Live|
Tempo.coVersi JafmoNewsNetral10 Mei 2026 pukul 14.49

ASEAN Soroti Ketahanan Pangan dan Energi di KTT Cebu

Menurut Sugiono, gejolak di Asia Barat membawa dampak langsung terhadap berbagai negara kawasan Asia Tengara.

ASEAN Soroti Ketahanan Pangan dan Energi di KTT Cebu

Presiden Prabowo Subianto menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada 7-8 Mei 2026. Dalam forum itu, isu ketahanan pangan dan energi menjadi salah satu pembahasan utama di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat situasi geopolitik global.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, para pemimpin ASEAN membahas respons kolektif terhadap dampak konflik dan gejolak di Timur Tengah yang dirasakan langsung oleh negara-negara Asia Tenggara. Menurut dia, efek tersebut paling nyata terlihat pada sektor ekonomi, terutama ketersediaan pangan dan energi. Pernyataan itu disampaikan Sugiono di Cebu pada Sabtu, 9 Mei 2026, berdasarkan keterangan pers Sekretariat Presiden.

Sugiono menilai negara-negara anggota ASEAN memiliki pemahaman yang sama bahwa kawasan perlu lebih tangguh menghadapi ketidakpastian dunia. Karena itu, penguatan kerja sama regional di bidang pangan dan energi menjadi fokus yang mengemuka dalam sesi pleno dan retret yang juga dihadiri Prabowo. Ia menyebut muncul kesadaran bersama untuk membangun ASEAN yang lebih resilien, khususnya dalam dua sektor dasar tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa arah pembahasan itu sejalan dengan prioritas pemerintahan Prabowo Subianto. Menurut Sugiono, pemerintah Indonesia akan mempercepat berbagai program strategis untuk mendukung ketahanan energi dan pangan, yang dipandang sebagai kebutuhan mendasar negara. Dengan begitu, agenda yang dibawa Indonesia di forum ASEAN selaras dengan upaya memperkuat fondasi domestik sekaligus memperdalam kerja sama kawasan.

Dalam sesi pleno di Mactan Expo pada Jumat, 8 Mei 2026, Prabowo menyampaikan bahwa ASEAN harus menjadi jangkar stabilitas di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah. Ia menekankan pentingnya solidaritas, kerja sama antarnegara, serta komitmen untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan melalui dialog dan kolaborasi.

Sudut pandang lain

Fokus ASEAN pada pangan dan energi menunjukkan bahwa isu keamanan nonmiliter semakin menjadi perhatian utama kawasan. Ketergantungan pada rantai pasok global membuat gangguan di Timur Tengah atau wilayah strategis lain dapat cepat berdampak pada harga dan ketersediaan kebutuhan pokok di Asia Tenggara.

Bagi Indonesia, pembahasan ini juga relevan dengan agenda domestik pemerintahan Prabowo yang menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai prioritas. Jika kerja sama regional bisa diperkuat, ASEAN berpeluang membangun mekanisme yang lebih tahan terhadap krisis, sekaligus mengurangi kerentanan ekonomi negara-negara anggotanya.

Lihat versi asli dari sumber

PRESIDEN Prabowo Subianto menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi ( KTT ) ke-48 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Cebu, Filipina, pada 7-8 Mei 2026. Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan, isu utama yang mengemuka dalam konferensi itu, termasuk dalam sesi pleno dan retret yang juga dihadiri Prabowo, adalah respons kolektif ASEAN terhadap dampak situasi geopolitik global.

Pilihan Editor: Apa Tugas Manajer Koperasi Merah Putih Menurut Agrinas

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Sugiono, gejolak di Asia Barat membawa dampak langsung terhadap berbagai negara kawasan Asia Tengara. “Intinya adalah pertama, respons bersama ASEAN dalam menyikapi situasi yang terjadi di Timur Tengah yang semua merasakan, memberikan efek langsung terhadap kehidupan negara-negara di kawasan. Khususnya di sektor-sektor ekonomi, terlebih lagi di ketersediaan pangan dan energi,” kata Sugiono di Cebu, Filipina, pada Sabtu, 9 Mei 2026, dikutip dari video keterangan pers Sekretariat Presiden.

Sugiono berujar, para pemimpin negara Asia Tenggara memiliki pemahaman yang sama bahwa kawasan harus semakin tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global. Maka dari itu, penguatan kerja sama regional di sektor pangan dan energi menjadi salah satu fokus utama pembahasan pada konferensi kali ini.

“Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh bahwa dengan situasi yang terjadi saat ini perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan ASEAN ini sebagai suatu wilayah yang resilient , khususnya di bidang energi dan pangan,” tutur dia.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra ini mengklaim, agenda tersebut sejalan dengan prioritas pemerintahan Prabowo Subianto terkait dengan ketahanan energi dan pangan. Pemerintah Indonesia menyatakan bakal mempercepat berbagai program strategis untuk mendukung tujuan itu.

“Saya kira ini juga sesuatu yang sudah menjadi sejak awal program dari pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo, di mana ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan hal yang paling mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah negara, yang harus dipenuhi oleh negara kita,” kata Sugiono.

Presiden Prabowo Subianto menghadiri KTT ke-48 ASEAN di Filipina selama dua hari, pada Kamis hingga Jumat, 7-8 Mei 2026. Dalam sesi pleno yang digelar di Mactan Expo, Prabowo menyatakan ASEAN harus menjadi jangkar stabilitas kawasan di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global. Menurut Kepala Negara, caranya dengan penguatan solidaritas dan kerja sama antarnegara.

"Kita harus memberi contoh, kita harus benar-benar berkomitmen untuk memiliki ASEAN yang solid dan ASEAN yang menjaga perdamaian, menjaga stabilitas, yang menghargai dialog dan kolaborasi," ucap Prabowo pada Jumat, 8 Mei 2026, dikutip dari keterangan Sekretariat Presiden.

Berita terkait