Live|
Kompas.comVersi JafmoNewsNetral13 Mei 2026 pukul 21.07

Warga Diminta Jangan Asal Tangkap King Kobra

Reptiler mengingatkan warga tak sembarangan menangkap king kobra karena agresif dan memiliki jangkauan serangan hingga tiga meter.

Warga Diminta Jangan Asal Tangkap King Kobra

Warga diminta tidak sembarangan menangani ular, terutama jenis berbisa seperti king kobra. Reptiler Teguh, 33 tahun, menegaskan bahwa ular tersebut sangat berbahaya karena berukuran besar, agresif, dan dapat mengejar target ketika merasa terganggu.

Menurut Teguh, kesalahan umum yang kerap dilakukan warga adalah mencoba menangkap ular tanpa memahami jenis dan karakter hewan tersebut. Ia mengingatkan bahwa memegang atau menangkap ular secara keliru dapat berujung fatal, terlebih jika ular itu berbisa. Karena itu, langkah pertama saat menemukan ular adalah tetap tenang dan tidak panik agar situasi tidak semakin memburuk.

Teguh menyebut ular liar pada dasarnya tidak akan menyerang jika tidak merasa terancam. Jika ular berada di luar rumah, ia menyarankan masyarakat untuk tidak mendekat, apalagi mengerumuninya. Tindakan itu justru bisa membuat ular menjadi lebih agresif atau panik. Sebaliknya, warga diminta membiarkan ular tersebut selama tidak mengganggu keselamatan.

Jika ular masuk ke dalam rumah, kantor, atau ruangan tertutup lain, warga disarankan segera menghubungi petugas yang berpengalaman menangani reptil. Bantuan juga bisa diminta dari pemadam kebakaran, BPBD, atau reptiler dan pawang ular agar proses evakuasi berlangsung aman. Teguh menekankan bahwa penanganan king kobra harus dilakukan oleh orang yang terbiasa di bidangnya.

Ia menjelaskan, king kobra memiliki karakter agresif dengan jangkauan serangan yang cukup jauh, bahkan disebut bisa mencapai dua sampai tiga meter atau sekitar tiga kali loncatan. Karena itu, evakuasi ular jenis ini memerlukan waktu dan kehati-hatian, sebab petugas harus menenangkan ular terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.

Sudut pandang lain

Imbauan ini menyoroti masih rendahnya pemahaman masyarakat dalam menghadapi satwa liar di lingkungan permukiman. Di wilayah yang berdekatan dengan area terbuka atau semak, pertemuan dengan ular berisiko terjadi, sehingga edukasi dasar soal keselamatan menjadi penting.

Dari sisi penanganan darurat, keberadaan petugas terlatih seperti pemadam kebakaran, BPBD, dan reptiler berperan besar untuk mencegah korban. Pendekatan yang tepat bukan hanya melindungi warga, tetapi juga mengurangi risiko cedera pada satwa saat evakuasi dilakukan.

Lihat versi asli dari sumber

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Reptiler Teguh (33) meminta warga tidak sembarangan menangkap ular, terutama jenis berbisa seperti king kobra.

Ia menyampaikan, king kobra merupakan jenis ular yang sangat membahayakan keselamatan warga.

"Ularnya gede dan itu emang agresif banget, mengejar dia itu kan," ujar Teguh saat dihubungi Kompas.com via WhatsApp, Rabu (13/5/2026).

Menurut Teguh, banyak warga melakukan kesalahan dengan mencoba menangkap ular tanpa memahami jenis maupun karakter hewan tersebut.

Padahal, kesalahan saat memegang atau menangkap ular bisa berakibat fatal, terlebih jika ular tersebut berbisa.

Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan warga saat menemukan ular adalah tetap tenang dan tidak memancing kepanikan.

Menurut dia, ular liar umumnya tidak akan menyerang apabila tidak merasa terganggu.

"Lebih baik biarkan saja, kalau memang di luar rumah, ya abaikan saja gitu," kata dia.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mengerumuni ular karena kondisi tersebut dapat membuat hewan menjadi agresif atau panik.

Namun, apabila ular masuk ke dalam rumah, kantor, atau ruangan tertutup lainnya, warga disarankan segera menghubungi petugas yang berpengalaman menangani reptil.

“Kalau memang posisi ular di dalam rumah atau kantor, mungkin bisa panggil pemadam atau BPBD,” kata dia.

Tidak hanya itu, warga juga dapat meminta bantuan reptiler atau pawang ular agar proses evakuasi dilakukan secara aman.

“Lebih cepat lagi bisa panggil orang yang terbiasa di bidangnya," jelas dia.

Adapun penanganan ular berbisa seperti king kobra tidak boleh dilakukan sembarangan karena hewan tersebut memiliki karakter agresif dan jangkauan serangan yang cukup jauh.

"Ternyata jarak serangannya itu sampai tiga kali loncatan gitu. Tiga kali loncatan itu bisa dua sampai tiga meter," jelas Teguh.

Oleh sebab itu, saat proses evakuasi dilakukan, ia membutuhkan waktunya cukup lama karena harus menenangkan terlebih dahulu kondisi ularnya.

"Harus tenang dulu ularnya, mencari momen biar tenang," ucap dia.

Dirangkum dari Kompas.com · oleh Kompas Cyber Media

Berita terkait