Live|
Antara NewsVersi JafmoNewsNetral12 Mei 2026 pukul 15.45

Pengamat dorong riset energi ASEAN untuk hadapi risiko pasokan

​​​​​​Pengamat Hubungan Internasional Teuku Rezasyah menilai penelitian mendalam mengenai kedudukan energi di masing-masing negara ASEAN penting ...

Pengamat dorong riset energi ASEAN untuk hadapi risiko pasokan

Pengamat hubungan internasional Teuku Rezasyah menilai penelitian mendalam mengenai kondisi energi di negara-negara ASEAN sangat penting di tengah ketidakpastian geopolitik dan ancaman terhadap pasokan energi global. Menurut dia, riset tersebut diperlukan untuk memetakan situasi energi sebelum dan sesudah serangan Amerika Serikat ke Iran, sekaligus memahami perbedaan kebutuhan energi di tiap negara anggota ASEAN.

Rezasyah, yang juga dosen Hubungan Internasional di President University, menyebut setiap negara ASEAN memiliki tingkat ketergantungan energi yang berbeda. Sebagian masih sangat bergantung pada minyak bumi, sementara yang lain mulai mengembangkan diversifikasi energi. Karena itu, ia menilai dorongan mempercepat ratifikasi ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA) menghadapi tantangan dalam implementasinya.

Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki kebutuhan energi minyak yang jauh lebih besar dibandingkan banyak negara ASEAN lain karena jumlah penduduk yang besar dan pembangunan yang tersebar di berbagai wilayah. Dalam pandangannya, kondisi itu berpotensi memunculkan stigma baru, yakni Indonesia sebagai konsumen terbesar yang dapat memanfaatkan mekanisme ASEAN sebagai daya tawar terhadap negara-negara pengekspor minyak.

Untuk jangka panjang, Rezasyah mendorong Indonesia memperluas diversifikasi energi dari sumber yang melimpah, seperti tenaga surya, angin, panas bumi, dan energi dari sampah. Ia juga menilai pemerintah perlu kembali mempertimbangkan pembangunan fasilitas nuklir untuk tujuan damai. Menurut dia, kredibilitas Indonesia di tingkat global dapat membuka peluang dukungan dari sejumlah negara maju, termasuk Amerika Serikat, Rusia, China, Australia, dan Jepang.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn memastikan proses ratifikasi APSA akan diselesaikan sebelum KTT ASEAN ke-49 pada akhir tahun ini. Kesepakatan itu dirancang agar negara-negara anggota saling membantu ketika terjadi kelangkaan bahan bakar, sekaligus memperkuat kerja sama energi di kawasan.

Sudut pandang lain

Dorongan mempercepat APSA menunjukkan ASEAN makin menyadari rapuhnya rantai pasok energi di tengah tensi geopolitik global. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada kesediaan tiap negara menyesuaikan kepentingan nasional dengan kebutuhan kolektif kawasan.

Bagi Indonesia, wacana ini juga menegaskan pentingnya transisi energi yang tidak hanya bertumpu pada minyak. Diversifikasi sumber energi dapat mengurangi kerentanan pasokan sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam kerja sama regional dan global.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta (ANTARA) - ​​​​​​Pengamat Hubungan Internasional Teuku Rezasyah menilai penelitian mendalam mengenai kedudukan energi di masing-masing negara ASEAN penting di tengah ketidakpastian geopolitik dan pasokan energi global.

Dosen Hubungan Internasional di President University itu mengatakan kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, bahwa penelitian diperlukan untuk melihat kondisi energi negara-negara ASEAN, baik sebelum maupun setelah serangan Amerika Serikat ke Iran.

Ia menilai negara-negara ASEAN memiliki kebutuhan dan ketergantungan energi yang berbeda-beda. Sejumlah negara masih sangat bergantung pada minyak bumi, sementara negara lain mulai mendorong diversifikasi energi.

Terkait dorongan negara-negara ASEAN untuk mempercepat ratifikasi ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA), Rezasyah memperkirakan implementasi skema tersebut tidak akan mudah dicapai.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara berpenduduk besar dengan pembangunan di banyak wilayah membutuhkan energi minyak jauh lebih besar dibandingkan negara ASEAN lain yang lebih kecil.

“Tidak mustahil akan terlahir stigma baru, di mana Indonesia sebagai konsumen terbesar menggunakan mekanisme ASEAN sebagai kekuatan tawar baru dalam berhubungan dengan negara-negara eksportir minyak,” katanya.

Rezasyah menilai Indonesia perlu meningkatkan diversifikasi energi yang tersedia melimpah, seperti energi surya, energi angin, energi panas bumi, dan energi yang diolah dari sampah.

Ia juga menilai Indonesia perlu mempertimbangkan kembali pembangunan fasilitas nuklir untuk tujuan damai.

Lebih lanjut, ia mengatakan tingginya kredibilitas global Indonesia berpotensi membuka dukungan dari berbagai negara maju, termasuk Amerika Serikat, Rusia, China, Australia, dan Jepang.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn memastikan proses ratifikasi APSA akan diselesaikan sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-49 ASEAN pada akhir tahun ini.

Kesepakatan tersebut memungkinkan negara-negara ASEAN saling membantu saat terjadi kelangkaan bahan bakar sekaligus memperkuat kerja sama kawasan di sektor energi.

“Para pejabat negara telah menerima instruksi dari para pemimpin mereka bahwa proses ratifikasi APSA harus dipercepat oleh semua negara anggota,” kata Kao Kim Hourn dalam konferensi pers terkait hasil KTT ke-48 ASEAN di Sekretariat ASEAN Jakarta, Senin.

Pewarta: Katriana Editor: Martha Herlinawati Simanjuntak Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Dirangkum dari Antara News · oleh https://www.facebook.com/antaranewsdotcom

Berita terkait