Live|
Antara NewsVersi JafmoNewsNetral12 Mei 2026 pukul 13.11

BIM Bahas Pengembangan Logam Tanah Jarang di Mamuju

Badan Industri Mineral (BIM) membahas pengembangan tambang logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element (REE) yang berlokasi di Mamuju, Sulawesi ...

BIM Bahas Pengembangan Logam Tanah Jarang di Mamuju

Badan Industri Mineral (BIM) membahas pengembangan tambang logam tanah jarang atau rare earth element (REE) yang berada di Mamuju, Sulawesi Barat. Pembahasan tersebut dilakukan dalam rapat di Kantor BP BUMN, Jakarta, pada Selasa, dengan fokus khusus pada arah pengembangan komoditas strategis itu.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Tri Winarno, mengatakan rapat itu memang hanya membahas logam tanah jarang. Ia hadir untuk mewakili Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Tri menegaskan bahwa pembahasan tidak menyinggung agenda lain, termasuk ground breaking hilirisasi, melainkan murni mengenai pengembangan REE di Mamuju.

Rapat tersebut dihadiri Ketua Dewan Pengarah BIM sekaligus Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, anggota Dewan Pengarah BIM sekaligus Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala BIM sekaligus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa. Pertemuan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan selesai sekitar pukul 11.00 WIB.

BIM sendiri dibentuk untuk mendukung percepatan riset dan pengembangan agar nilai tambah mineral strategis dapat meningkat. Dalam penjelasan yang disampaikan sebelumnya, mineral strategis mencakup mineral radioaktif, logam tanah jarang, dan mineral lain yang penting bagi industri pertahanan maupun teknologi tinggi. Pengelolaannya dapat berasal dari mineral utama maupun mineral ikutan dalam kegiatan tambang.

Sejalan dengan itu, Kementerian Transmigrasi juga membuka peluang pemanfaatan Hak Pengelolaan Lahan transmigrasi untuk tambang batu bara hingga logam tanah jarang. Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menyebut potensi di Mamuju telah ikut dipertimbangkan berdasarkan hasil penelitian ribuan peneliti. Menurut dia, langkah tersebut diarahkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru agar masyarakat yang menetap di wilayah transmigrasi memiliki peluang kerja dan merasa betah tinggal di sana.

Sudut pandang lain

Pembahasan logam tanah jarang di Mamuju menunjukkan bahwa pemerintah mulai memberi perhatian lebih besar pada mineral strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan relevansi bagi industri teknologi serta pertahanan. Jika pengembangan ini berlanjut, kawasan tambang berpotensi menjadi sumber pasokan bahan baku yang penting sekaligus mendorong investasi riset dan hilirisasi.

Di sisi lain, keterlibatan Kementerian Transmigrasi mengindikasikan pendekatan pembangunan wilayah yang tidak hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga penciptaan pusat ekonomi baru. Tantangan ke depan adalah memastikan pengelolaan sumber daya dilakukan secara terukur, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat setempat tanpa mengabaikan tata kelola dan keberlanjutan.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta (ANTARA) - Badan Industri Mineral (BIM) membahas pengembangan tambang logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element (REE) yang berlokasi di Mamuju, Sulawesi Barat.

“Pembahasan ini … Mamuju. Inilah, pengembangan seperti apa untuk rare earth element , kira-kira gitu,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno ketika dijumpai di Kantor BP BUMN, Jakarta, Selasa.

Berdasarkan pantauan ANTARA di Kantor BP BUMN, rapat dihadiri oleh Ketua Dewan Pengarah BIM sekaligus Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, anggota Dewan Pengarah BIM sekaligus Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala BIM sekaligus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Chief Technology Officer (CTO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Sigit Puji Santosa.

Tri Winarno menghadiri rapat tersebut untuk mewakili anggota Dewan Pengarah BIM sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Rapat dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 11.00 WIB.

Tri menyampaikan tidak ada pembahasan lain selain logam tanah jarang dalam rapat tersebut.

“Bukan (bahas ground breaking hilirisasi). Bahas logam tanah jarang,” ucap Tri.

BIM bertugas melaksanakan dukungan untuk mempercepat riset dan pengembangan guna meningkatkan nilai tambah dari mineral strategis.

Mineral strategis yang dimaksud adalah jenis mineral yang memiliki peranan vital bagi industri pertahanan dan teknologi tinggi, mencakup mineral radioaktif, logam tanah jarang, dan mineral lainnya. Pengelolaannya berlaku baik untuk mineral yang menjadi produk utama maupun produk ikutan dari sebuah kegiatan penambangan.

Kementerian Transmigrasi membuka potensi memanfaatkan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) transmigrasi untuk tambang batu bara hingga logam tanah jarang (LTJ), dalam rangka menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Dari hasil penelitian 2 ribu peneliti kemarin, ada juga terkait dengan tambang seperti batu bara. Kalau di Mamuju (Sulawesi Barat) itu ada logam tanah jarang. Itu juga kami potensikan,” ujar Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam konferensi pers Pertemuan Kepala SKK Migas dengan Menteri Transmigrasi di Jakarta, Senin (4/5).

Iftitah menjelaskan bahwa saat ini, Kementerian Transmigrasi sedang betul-betul fokus untuk menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru.

Dengan demikian, lanjut dia, masyarakat yang berpindah ke wilayah tersebut bisa merasa betah sebab memiliki pekerjaan.

Pewarta: Putu Indah Savitri Editor: Faisal Yunianto Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Dirangkum dari Antara News · oleh https://www.facebook.com/antaranewsdotcom

Berita terkait