Live|
Kompas.comVersi JafmoNewsNegatif12 Mei 2026 pukul 12.22

Helm Premium Eropa Rentan Busa Interior Rusak di Iklim Tropis

Helm premium Eropa seperti Nolan, Schuberth, dan AGV kerap mengalami masalah busa interior hancur di Indonesia. Mengapa iklim tropis jadi penyebabnya?

Helm Premium Eropa Rentan Busa Interior Rusak di Iklim Tropis

Sejumlah helm premium berstandar Eropa dinilai memiliki kelemahan pada daya tahan bagian interior saat digunakan di Indonesia. Masalah yang paling sering muncul ialah busa atau inner helm yang hancur, mengelupas, bahkan berubah menjadi bubuk, meski produk-produk tersebut dikenal memiliki desain dan reputasi tinggi di kalangan pengendara motor.

Pemilik bengkel spesialis servis helm 1DS Inside, Aditya Wahyu Nugroho, mengatakan gejala itu hampir ditemukan pada berbagai merek yang mengikuti kiblat Eropa, seperti Nolan, Schuberth, Airoh, hingga AGV seri tinggi seperti Corsa dan Pista. Menurut dia, persoalan tersebut berkaitan dengan riset dan pengembangan yang tidak sepenuhnya disesuaikan dengan kondisi iklim tropis di Indonesia, sehingga material interior kurang tahan terhadap panas dan kelembapan.

Wahyu juga menyebut bahwa merek asal Jepang, Shoei, tidak luput dari persoalan serupa. Meski diproduksi di Jepang, pengembangan teknis merek itu saat ini banyak dilakukan oleh Shoei Europe. Karena mengacu pada standar dan gaya helm Eropa, bagian busa dan inner pada beberapa model disebut lebih cepat mengalami kerusakan ketika dipakai di wilayah tropis.

Ia menambahkan, masalah busa hancur umumnya lebih sering terjadi pada helm kelas balap atau model tertinggi. Sementara itu, pada helm premium dengan harga lebih terjangkau, daya tahannya justru kerap lebih baik. Dalam contoh AGV, seri di bawah Corsa seperti K3 dan K6 disebut lebih awet karena basis produksinya terkait dengan KYT atau Suomy, sehingga material yang digunakan dinilai lebih cocok untuk kondisi pemakaian di Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan helm tidak hanya ditentukan oleh merek dan harga, tetapi juga oleh kesesuaian desain material dengan lingkungan penggunaan. Bagi konsumen di Indonesia, faktor iklim menjadi pertimbangan penting agar helm premium tidak hanya nyaman dan bergengsi, tetapi juga awet dalam pemakaian harian.

Sudut pandang lain

Fenomena ini memperlihatkan bahwa produk global tidak selalu bekerja optimal di semua pasar, terutama ketika perbedaan suhu dan kelembapan cukup ekstrem. Dalam industri perlengkapan berkendara, penyesuaian material terhadap iklim lokal bisa menjadi pembeda penting antara produk yang sekadar premium dan produk yang benar-benar fungsional.

Bagi konsumen, informasi seperti ini relevan untuk keputusan membeli, khususnya pada segmen helm kelas atas yang harganya tinggi. Di sisi produsen, temuan semacam ini dapat menjadi masukan untuk memperkuat riset material dan meningkatkan daya tahan produk di pasar Asia Tenggara.

Lihat versi asli dari sumber

JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki helm premium asal Eropa seperti Nolan, Schuberth, hingga AGV kasta tinggi memang memberikan kebanggaan tersendiri bagi para bikers .

Namun, di balik desainnya yang menawan, ada satu masalah klasik yang kerap menghantui para pemiliknya di Indonesia, yakni bagian interior yang mudah rusak.

Fenomena busa atau inner helm yang hancur, mengelupas, atau menjadi bubuk sering ditemukan pada helm-helm yang berkiblat pada standar pasar Eropa.

Kondisi ini ternyata berkaitan erat dengan riset dan pengembangan yang tidak disesuaikan dengan iklim tropis .

Aditya Wahyu Nugroho, pemilik bengkel spesialis servis helm 1DS Inside, mengungkapkan, hampir semua helm yang mengikuti kiblat atau standar Eropa memiliki kelemahan pada daya tahan material interiornya.

" Helm Eropa itu hampir semuanya inner -nya hancur. Mulai dari Nolan, Schuberth, Airoh, sampai AGV seri tinggi seperti Corsa atau Pista. Bahannya memang berbeda," ujar Wahyu kepada Kompas.com belum lama ini.

Bahkan, merek asal Jepang seperti Shoei pun tidak luput dari masalah ini.

Wahyu menjelaskan bahwa meski diproduksi di Jepang, pengembangan teknis Shoei saat ini banyak dilakukan oleh Shoei Europe.

"Shoei sekarang R&D-nya di Eropa, meskipun nyetaknya di Jepang. Karena kiblatnya ke sana, mereka mengikuti gaya-gaya helm Eropa. Efeknya, busa-busanya atau bagian inner sering ditemukan hancur," kata Wahyu.

Menariknya, masalah busa hancur ini biasanya lebih sering menyerang helm-helm kasta balap atau kasta tertinggi.

Untuk helm premium dengan harga yang lebih terjangkau, daya tahannya justru sering kali lebih baik karena faktor basis produksinya.

"Kalau AGV seri di bawah Corsa, seperti K3 atau K6, itu malah awet. Karena kan produksinya berkaitan dengan KYT atau Suomy, jadi materialnya lebih tahan untuk kondisi di sini," kata Wahyu.

Dirangkum dari Kompas.com · oleh Kompas Cyber Media

Berita terkait