Banjir Terjang Empat Kecamatan di Tebing Tinggi, Ribuan Warga Terdampak
Banjir merendam empat kecamatan di Kota Tebing Tinggi, Sumut, akibat hujan deras. 966 rumah terendam, BPBD lakukan evakuasi dan penanganan darurat.

Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada Selasa (12/5) memicu banjir di empat kecamatan. Luapan Sungai Padang dan Sungai Bahilang memperparah kondisi hingga air merendam ratusan rumah warga di sejumlah titik.
Kabid Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan banjir melanda Kecamatan Rambutan, Padang Hulu, Bajenis, dan Tebing Tinggi Kota. Menurut dia, tingginya curah hujan di wilayah hulu, yakni Kabupaten Simalungun dan Serdangbedagai, membuat debit air di dua sungai tersebut meningkat tajam.
Sri Wahyuni menjelaskan, pada pukul 01.30 WIB ketinggian air telah mencapai 2 meter dan membuat Sungai Padang meluap. Pintu Bendung Bajayu kemudian dibuka pada pukul 02.00 WIB, namun air terus naik hingga mulai menggenangi wilayah Kota Tebing Tinggi sekitar pukul 07.00 WIB. Kondisi ini membuat banjir meluas ke permukiman warga dan beberapa fasilitas umum.
Data sementara menunjukkan sebanyak 966 rumah terendam. Sebanyak 1.051 kepala keluarga atau sekitar 3.539 jiwa ikut terdampak. Selain rumah warga, banjir juga merendam sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dasar, puskesmas, dan musala. Ketinggian air di lokasi terdampak dilaporkan berada pada kisaran 30 hingga 80 sentimeter.
Untuk penanganan darurat, BPBD Kota Tebing Tinggi bersama instansi terkait telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan, memantau debit sungai, serta menyiapkan tenda pengungsian di beberapa titik. Petugas juga mengevakuasi warga ke lokasi yang lebih aman. Hingga kini, BPBD Sumatera Utara terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mempercepat penanganan di lapangan, sementara warga diminta tetap waspada karena potensi hujan masih ada.
Sudut pandang lain
Banjir di Tebing Tinggi menunjukkan kerentanan wilayah perkotaan yang berada di dekat aliran sungai dan bergantung pada kondisi daerah hulu. Saat curah hujan meningkat di wilayah atas, dampaknya dapat cepat menjalar ke permukiman padat di hilir.
Dari sisi penanggulangan bencana, kejadian ini menegaskan pentingnya koordinasi antardaerah, pemantauan debit sungai secara berkala, dan kesiapan infrastruktur pengendali banjir. Respons cepat BPBD dan pemerintah daerah menjadi krusial untuk menekan risiko lebih besar bagi warga terdampak.
Lihat versi asli dari sumber
Banjir merendam empat kecamatan di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, usai hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah tersebut, Selasa (12/5). Luapan air dari Sungai Padang dan Sungai Bahilang memperparah kondisi hingga ratusan rumah warga terendam.
Kabid Penanganan Darurat Peralatan Dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan banjir melanda empat kecamatan, yakni Kecamatan Rambutan, Padang Hulu, Bajenis, dan Tebing Tinggi Kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sri Wahyuni, banjir dipicu tingginya intensitas hujan di wilayah hulu, tepatnya di Kabupaten Simalungun dan Serdangbedagai, yang menyebabkan debit air di Sungai Bahilang dan Sungai Padang meningkat drastis.
"Ketinggian air pada pukul 01.30 WIB mencapai 2 meter, sehingga menyebabkan Sungai Padang meluap dan memicu banjir di Kota Tebing Tinggi. Pintu Bendung Bajayu kemudian mulai dibuka pada pukul 02.00 WIB. Air terus naik dan mulai menggenangi wilayah Kota Tebing Tinggi sekitar pukul 07.00 WIB," ujarnya.
Data sementara sebanyak 966 rumah terendam banjir. Selain itu, sebanyak 1.051 kepala keluarga atau sekitar 3.539 jiwa turut terdampak.
Tak hanya permukiman warga, sejumlah fasilitas umum juga ikut terendam, di antaranya sekolah dasar, puskesmas, dan musala. Ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan bervariasi antara 30 hingga 80 sentimeter.
"Dalam penanganan bencana ini, BPBD Kota Tebing Tinggi bersama sejumlah instansi terkait telah melakukan berbagai langkah darurat, mulai dari koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan, pemantauan debit air sungai, hingga pemasangan tenda pengungsian di beberapa lokasi terdampak," jelasnya.
Petugas juga mengevakuasi warga yang terdampak banjir ke tempat yang lebih aman. Sementara itu, BPBD Sumatera Utara terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mempercepat penanganan di lapangan.
"Hingga saat ini, kondisi banjir di sejumlah wilayah masih dalam penanganan pihak terkait. Warga diminta tetap waspada mengingat potensi hujan masih dapat terjadi di wilayah tersebut," ujarnya.
Berita terkait

Pemkot Semarang Salurkan Bansos untuk Warga Terdampak Banjir
Pemerintah Kota Semarang menegaskan bahwa penanganan banjir dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penanganan kondisi di lapangan hingga perhatian terhadap kebutuhan sosial masyarakat.

Banjir dan Longsor Terjang Kolaka serta Kolaka Timur
Banjir dan longsor mengepung dua kabupaten, yakni Kolaka dan Kolaka Timur di Sulawesi Tenggara.

Banjir bandang rusak 26 rumah di Aceh Tenggara
Banjir bandang menerjang dua desa di Aceh Tenggara, merusak 26 rumah. 155 jiwa terdampak, namun tidak ada korban jiwa. Tim BPBD dikerahkan untuk pembersihan.

KKB Papua Serang Warga di Tembagapura, Dua Tertembak
Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah mengatakan, korban tewas adalah anak perempuan berusia sekitar 12??"15 tahun.

Banjir di Buton Sultra Rendam 120 Rumah dan Putus Jembatan
Banjir di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara merendam 120 rumah di empat desa.

FOTO: Langkah dan Pesan Damai 57 Biksu Lintas Negara Menyisir Jawa
57 biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia berjalan lebih dari 600 kilometer dari Bali menuju Borobudur.