Live|
Antara NewsVersi JafmoNewsNetral10 Mei 2026 pukul 14.13

BKSDA Temukan 17 Gajah Liar di Bentang Alam Seblat

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu - Lampung melakukan monitoring atau pemantauan menggunakan teknologi drone thermal dan menemukan 17 gajah ...

BKSDA Temukan 17 Gajah Liar di Bentang Alam Seblat

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung menemukan 17 gajah liar di Bentang Alam Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, melalui pemantauan menggunakan drone thermal. Temuan itu terdiri atas empat anak gajah serta 13 gajah remaja dan dewasa, yang terpantau tanpa mengganggu perilaku alami satwa.

Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho, mengatakan penggunaan drone thermal menjadi terobosan baru dalam pemantauan gajah liar di kawasan tersebut. Teknologi ini membantu tim lapangan mengetahui keberadaan kelompok gajah sekaligus struktur populasinya secara langsung, dengan gangguan yang sangat minim terhadap satwa.

Menurut Agung, keberadaan anak gajah dalam kelompok itu menunjukkan proses reproduksi dan regenerasi populasi masih berlangsung di habitat alami Bentang Alam Seblat. Hal ini juga mempertegas pentingnya kawasan tersebut sebagai salah satu habitat Gajah Sumatera yang masih harus dijaga di tengah berbagai ancaman yang terus dihadapi satwa dilindungi itu.

Pemantauan tersebut dilakukan setelah adanya kematian dua gajah liar beberapa waktu lalu, serta sejumlah kasus kematian gajah yang juga pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya di Bentang Alam Seblat dan wilayah sekitarnya. BKSDA menilai, pengawasan berbasis teknologi menjadi bagian dari penguatan upaya konservasi yang dijalankan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Bengkulu.

Agung menambahkan, monitoring dan pengamanan habitat akan terus dilakukan secara berkelanjutan agar seluruh kelompok gajah di Bentang Alam Seblat tetap terpantau dan terlindungi. Dengan drone thermal, pemantauan di area yang sulit dijangkau menjadi lebih efektif, sekaligus mengurangi gangguan terhadap satwa liar. Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan langkah perlindungan dan pengelolaan habitat yang lebih tepat sasaran.

Sudut pandang lain

Pemanfaatan drone thermal dalam konservasi menunjukkan pergeseran pendekatan dari patroli manual ke pengawasan berbasis teknologi. Bagi pengelola kawasan, cara ini bukan hanya meningkatkan akurasi pemantauan, tetapi juga memungkinkan respons lebih cepat terhadap ancaman di habitat satwa liar.

Di sisi lain, temuan adanya anakan gajah memberi sinyal bahwa ekosistem Seblat masih mendukung regenerasi populasi. Namun, kemunculan kasus kematian gajah sebelumnya menegaskan bahwa perlindungan habitat tetap menjadi tantangan utama, sehingga pengawasan berkelanjutan dan koordinasi lintas pihak menjadi penting.

Lihat versi asli dari sumber

Kota Bengkulu (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu - Lampung melakukan monitoring atau pemantauan menggunakan teknologi drone thermal dan menemukan 17 gajah liar di Bentang Alam Seblat (BAS), Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dengan rincian empat anak gajah dan 13 gajah remaja dan dewasa.

"Penggunaan drone thermal dalam monitoring gajah liar di Bentang Alam Seblat merupakan terobosan baru yang sangat membantu tim di lapangan. Dari hasil pemantauan ini, kita dapat mengetahui secara langsung keberadaan kelompok gajah beserta struktur populasinya tanpa memberikan gangguan yang signifikan terhadap satwa," kata Kepala BKSDA Bengkulu Agung Nugroho saat dikonfirmasi di Kota Bengkulu, Minggu.

Dengan keberadaan anakan dalam kelompok gajah liar tersebut, kata dia, menunjukkan proses reproduksi dan regenerasi populasi masih berlangsung di habitat alami Bentang Alam Seblat Kabupaten Bengkulu Utara.

Ia menyebut pemantauan tersebut menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui BKSDA Bengkulu dalam memperkuat perlindungan dan pelestarian Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus).

Bentang Alam Seblat merupakan salah satu habitat bagi Gajah Sumatera yang saat ini terus menghadapi berbagai ancaman.

Pemantauan menggunakan teknologi drone thermal tersebut juga dilakukan setelah ada kematian dua gajah liar beberapa waktu lalu, serta sejumlah kasus kematian gajah yang juga pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya di kawasan BAS dan sekitarnya.

Agung menerangkan penggunaan drone thermal menjadi salah satu bentuk inovasi dan penguatan upaya konservasi yang dilakukan Kemenhut dalam mendukung perlindungan Gajah Sumatera di habitat alaminya.

Oleh karena itu, lanjutnya, kegiatan monitoring dan pengamanan habitat akan terus dilakukan secara berkelanjutan guna memastikan seluruh kelompok gajah di BAS tetap terpantau dan terlindungi.

Di sisi lain, dengan menggunakan teknologi drone thermal mempermudah tim dalam melakukan proses pemantauan secara lebih efektif pada area yang sulit dijangkau, serta meminimalkan gangguan terhadap perilaku alami satwa liar dan data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan langkah perlindungan dan pengelolaan habitat yang lebih tepat sasaran.

"Kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga habitat Gajah Sumatera dan mendukung upaya konservasi yang sedang dilakukan. Keberadaan Gajah Sumatera merupakan bagian penting dari ekosistem hutan yang harus kita jaga bersama," kat Agung Nugroho.

Pewarta: Anggi Mayasari Editor: Risbiani Fardaniah Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Dirangkum dari Antara News · oleh https://www.facebook.com/antaranewsdotcom

Berita terkait