Live|
Antara NewsVersi JafmoNewsPositif10 Mei 2026 pukul 14.19

Paviliun Indonesia di Venesia Angkat Tujuh Perupa Lewat Seni Cetak

Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte 2026 hadirkan pameran bertajuk “Printing the Unprinted” yang menampilkan karya terbaik dari tujuh ...

Paviliun Indonesia di Venesia Angkat Tujuh Perupa Lewat Seni Cetak

Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte 2026 akan menampilkan pameran bertajuk “Printing the Unprinted” yang menghadirkan karya tujuh perupa Indonesia lintas generasi. Pameran ini mengusung medium seni cetak grafis dan berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia, sebagai bagian dari kerja sama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Danantara Indonesia Trust Fund.

Dengan kurasi Aminudin TH Siregar, pameran ini merangkai kisah pelayaran fiktif abad ke-15 yang berlangsung selama 14 tahun, dari 1472 hingga 1486. Narasi tersebut dibangun melalui kolaborasi tujuh seniman, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin. Seluruh karya menghadirkan pembacaan ulang atas sejarah, pengetahuan, dan imajinasi kolektif Nusantara melalui bahasa visual cetak grafis.

Kisah utama pameran berpusat pada manuskrip fiksi yang ditulis oleh tokoh imajiner bernama Datu Na Tolu Hamonangan, arsiparis dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra. Dalam cerita itu, ia mendokumentasikan perjalanan armada dari Danau Toba, pesisir Sumatra Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, hingga Venesia dan Eropa Tengah. Manuskrip berjudul Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage itu disebut menyimpan 21 etsa yang dibagi ke dalam delapan babak, membentuk narasi dari berbagai sudut pandang.

Bagian lain menyoroti sosok-sosok seperti Sang Admiral, Sang Navigator, Sang Naturalis, hingga kaum intelektual, masing-masing dengan tema yang berbeda, mulai dari navigasi, peta dan astronomi, flora dan fauna, masyarakat, teknologi dan simbolisme, hingga perenungan spiritual. R.E. Hartanto, Syahrizal Pahlevi, Rusyan Yasin, Mariam Sofrina, Nurdian Ichsan, dan Theresia Agustina Sitompul masing-masing menggarap rangkaian etsa yang merepresentasikan babak-babak itu. Selain karya yang terinspirasi dari manuskrip fiksi, para perupa juga menciptakan karya individual selama masa residensi.

Keikutsertaan Indonesia di Venice Biennale 2026 menegaskan seni dan kebudayaan sebagai ruang dialog antarbangsa. Melalui paviliun ini, Indonesia tidak hanya memperlihatkan kekuatan seni cetak grafis, tetapi juga menempatkan pengalaman historis dan imajinasi Nusantara dalam percakapan seni internasional.

Sudut pandang lain

Dari sudut pandang diplomasi budaya, paviliun ini berfungsi sebagai instrumen soft power untuk memperkuat citra Indonesia di panggung seni global. Kehadiran karya lintas generasi juga menunjukkan upaya menghubungkan tradisi, riset sejarah, dan praktik kontemporer dalam format yang mudah dibaca audiens internasional.

Di sisi lain, penggunaan narasi fiktif tentang pelayaran abad ke-15 memberi ruang bagi publik untuk menafsirkan ulang hubungan maritim Nusantara dengan dunia. Pendekatan ini berpotensi memperluas pembicaraan tentang sejarah sebagai sumber inspirasi artistik, bukan semata bahan dokumenter, sekaligus menegaskan relevansi seni grafis dalam wacana kebudayaan mutakhir.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta (ANTARA) - Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte 2026 hadirkan pameran bertajuk “Printing the Unprinted” yang menampilkan karya terbaik dari tujuh perupa tanah air lintas generasi dalam medium seni cetak grafis.

Dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu, pameran ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Danantara Indonesia Trust Fund, dengan kurator Aminudin TH Siregar, berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia.

Para seniman menghadirkan narasi pelayaran abad ke-15 untuk menghidupkan kembali kisah pelayaran selama 14 tahun (1472-1486) yang diciptakan secara bersama atas kolaborasi tujuh seniman, di antaranya Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Pertama, terdapat karya yang bercerita tentang perjalanan armada yang dikisahkan melalui sudut pandang Datu Na Tolu Hamonangan, seorang arsiparis imajiner dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra, bertolak dari Danau Toba, menyusuri pesisir Sumatra Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, hingga akhirnya mencapai Venesia dan Eropa Tengah.

Ia mendokumentasikan perjalanan ini dalam manuskrip Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage.

Selama berabad-abad, manuskrip ini menyimpan misteri, yaitu himpunan cetakan etsa, gambar, sketsa dan teks yang menunggu untuk ditemukan dan dimaknai. Manuskrip ini memuat 21 etsa yang dibagi ke dalam 8 babak membentuk narasi yang kaya dari berbagai sudut pandang.

Kisah kedua dengan tema Sea Power and Navigation berkisah tentang Sang Admiral yang memimpin armada. Admiral Mangaraja Laut Mangiring pada 1472, mempelajari rute bintang dan peta-peta Arab dari Malaka sebelum bertolak mengikuti angin monsun barat daya bersama navigator Batak, juru mudi Melayu, penerjemah Tamil, dan astronom Persia.

Kapalnya menghadapi badai dahsyat di Selat Hormuz, dan empat belas tahun kemudian, sang admiral pulang dengan rambut yang telah memutih dan membawa pulang pengetahuan bahwa laut menghubungkan dunia-dunia yang jauh menjadi satu.

Perjalanan ini divisualisasikan oleh R.E. Hartanto melalui tiga lembar etsa berjudul Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472); Storm Off Hormuz; dan The Aging Admiral’s Face.

Bagian ketiga menggambarkan kisah Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy yang dibuat oleh Syahrizal Pahlevi yang membuat visualisasi dalam tiga lembar etsa berjudul Rewriting the Circle of the World; Library of Florence; dan The Inversion of the World Map.

Babak keempat menceritakan tentang Sang Naturalis dengan tema Flora and Fauna, yang divisualisasikan oleh Rusyan Yasin dalam tiga etsa berjudul Camphor Specimens and Andalas Wood; Encounters in the Alps; dan Garden of Two Climates.

Babak selanjutnya, yang kelima, mengangkat tema Faces and Culture yang bercerita tentang Masyarakat. Pelayaran ini juga adalah pertemuan manusia dengan manusia.

Di Pelabuhan Malaka, bahasa Arab, Tamil, Melayu, dan Tionghoa bercampur dalam situasi perdagangan global. Di pasar musim dingin Venesia, digambarkan orang-orang Eropa menyentuh kain ulos, pelaut Batak mencicipi keju dan roti gandum, dan anak-anak Eropa, dilukiskan oleh Mariam Sofrina melalui tiga lembar etsa berjudul Port of Malacca; Winter Market in Venice; dan West Gorga.

Sementara itu, pada bagian keenam, mengangkat tema Technology and Symbolism yang dieksplorasi oleh Nurdian Ichsan bercerita tentang para Seniman dan Perajin. Melalui tiga etsa berjudul Forging Iron at Lake Toba; Glass and Mechanical Clocks; dan The Hybrid Emblem of Harajaon, dikisahkan pertukaran budaya yang semakin mendalam, para perajin membentuk teknologi dan simbol-simbol baru.

Babak terakhir mengisahkan tentang Kaum Intelektual yang digambarkan Theresia Agustina Sitompul dalam tiga etsa berjudul Pre-Departure Ritual, Cathedral and the Echo of Gondang dan Return to Silence menggambarkan lapisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual.

Dalam rangkaian program ini sepanjang residensi, para perupa, selain menghasilkan karya etsa yang terinspirasi dari manuskrip fiksi ini, juga menciptakan karya individual.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 tidak hanya menghadirkan praktik seni cetak grafis sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai ruang pembacaan ulang sejarah, pengetahuan, dan imajinasi kolektif Nusantara.

Keikutsertaan Indonesia di Venesia menegaskan peran kebudayaan sebagai jembatan dialog, pertukaran gagasan, dan penguatan posisi Indonesia dalam percaturan seni internasional.

Pewarta: Sinta Ambarwati Editor: Mahmudah Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Dirangkum dari Antara News · oleh https://www.facebook.com/antaranewsdotcom

Berita terkait

Wisata Budaya Mongolia Hadir di Tanjung Lesung
VIVAJafmoNews14 Mei 2026, 22.45

Wisata Budaya Mongolia Hadir di Tanjung Lesung

Tak banyak yang tahu bahwa suasana khas Mongolia ternyata bisa dirasakan tanpa harus terbang ribuan kilometer ke Asia Timur. Di kawasan Tanjung Lesung, Banten.

Kementerian Ekonomi Kreatif dorong eksposur industri kreatif lewat kunjungan Sung Kang
Antara NewsJafmoNews13 Mei 2026, 11.06

Kementerian Ekonomi Kreatif dorong eksposur industri kreatif lewat kunjungan Sung Kang

Kementerian Ekonomi Kreatif memfasilitasi aktor Sung Kang, yang dikenal dengan perannya dalam film "Fast & Furious", menjalani kegiatan Night ...

KJRI San Francisco perkenalkan tempe ke komunitas vegan
Antara NewsJafmoNews11 Mei 2026, 14.20

KJRI San Francisco perkenalkan tempe ke komunitas vegan

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Fransisco memperkenalkan tempe kepada sekitar 140 orang dari anggota organisasi yang mempromosikan gaya hidup ...

Leo/Daniel Melaju ke Final Thailand Open 2026
Antara NewsJafmoNews16 Mei 2026, 16.51

Leo/Daniel Melaju ke Final Thailand Open 2026

Ganda putra Indonesia Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin memastikan langkah ke final BWF World Tour Super 500 Thailand Open 2026 setelah menaklukkan wakil ...

Prabowo minta Bulog prioritaskan stok pangan nasional
Antara NewsJafmoNews16 Mei 2026, 15.20

Prabowo minta Bulog prioritaskan stok pangan nasional

Presiden Prabowo Subianto mengingatkan kepada Perum Bulog untuk mengamankan stok pangan di dalam negeri sebelum diekspor ke negara-negara lain mengingat belum ...

IBL Umumkan Lima Kandidat MVP Liga 2026
Antara NewsJafmoNews16 Mei 2026, 15.08

IBL Umumkan Lima Kandidat MVP Liga 2026

Indonesian Basketball League (IBL) mengumumkan lima kandidat peraih penghargaan IBL League MVP 2026, yang nanti akan dinilai berdasarkan statistik, kontribusi ...