UGM dan UII Respons Rumah Peninggalan Sardjito yang Ditawarkan Dijual
Prof Sardjito adalah seorang dokter yang jadi pahlawan nasional,dan pernahpimpin UGM serta UII. Kerabat berharap rumah itu jadi rumdin Rektor UGM atau UII.

Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII) merespons kabar mengenai rumah peninggalan pahlawan nasional Prof. dr. M. Sardjito di Terban, Kota Yogyakarta, yang disebut ditawarkan untuk dijual kepada kedua kampus tersebut. Keduanya menyatakan akan menindaklanjuti informasi itu terlebih dahulu sebelum mengambil sikap lebih jauh.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, mengatakan pihaknya belum menerima informasi resmi terkait tawaran tersebut. Ia menyebut akan membahasnya lebih dulu dan mengecek kebenaran kabar itu sebelum memberi keputusan. Sementara itu, Rektor UII Fathul Wahid menyampaikan bahwa informasi tersebut akan diteruskan ke yayasan yang menaungi kampus karena keputusan pembelian properti berada di luar kewenangan rektor.
Rumah warisan Sardjito itu berada di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Menurut kerabat Sardjito, Budhi Susanto, yang kini menempati rumah tersebut, keluarga dan ahli waris telah sepakat melepas aset itu dengan pertimbangan perawatan dan pelestarian bangunan agar bisa ditangani lebih layak. Ia menyebut rumah beserta tanahnya sudah ditawarkan ke 10 pihak, termasuk UGM dan UII.
Budhi mengatakan harapan terbesarnya adalah rumah itu dibeli oleh UGM atau UII agar tetap memiliki nilai sejarah dan tidak berubah fungsi sembarangan. Ia membayangkan bangunan tersebut dapat dijadikan museum Sardjito, rumah dinas rektor, atau fasilitas sosial yang tetap mencerminkan jejak pengabdian sang tokoh. Sardjito sendiri dikenal sebagai pahlawan nasional sekaligus rektor pertama UGM dan rektor ketiga UII.
Terkait harga, Budhi tidak menyebut angka pasti dan hanya menyatakan nilainya berada pada kisaran miliaran rupiah. Ia menilai lokasi rumah yang strategis di pusat kota membuat aset tersebut tetap berpotensi diminati banyak pihak. Namun, ia menegaskan ingin menghindari kemungkinan rumah itu beralih fungsi menjadi kafe, seperti sejumlah bangunan lain di sekitar kawasan tersebut.
Sudut pandang lain
Kasus ini menunjukkan bagaimana warisan tokoh pendidikan dan nasional kerap berhadapan dengan persoalan praktis berupa biaya perawatan, nilai properti, dan keberlanjutan penggunaan bangunan bersejarah. Jika dibeli lembaga pendidikan, rumah tersebut berpeluang menjadi ruang memori publik yang lebih terjaga daripada sekadar aset privat.
Di sisi lain, keputusan akhir bergantung pada mekanisme internal kampus dan yayasan, serta kesiapan pendanaan untuk merawat bangunan tua di pusat kota. Karena itu, pembahasan rumah Sardjito tidak hanya menyangkut transaksi properti, tetapi juga komitmen institusi dalam menjaga warisan sejarah akademik Yogyakarta.
Lihat versi asli dari sumber
Pihak kampus Universitas Gadjah Mada ( UGM ) dan Universitas Islam Indonesia ( UII ) merespons kabar rumah peninggalan pahlawan nasional, Prof. dr. M. Sardjito di Terban, Kota Yogyakarta yang diklaim ditawarkan untuk dijual kepada mereka.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana saat dikonfirmasi mengaku bakal mengecek informasi soal ini terlebih dahulu.
"Saya akan diskusikan nggih . Belum ada info ke saya," kata Made Andi kepada wartawan, Kamis (14/5).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, Rektor UII Fathul Wahid mengatakan bakal mengonfirmasi ihwal ini ke yayasan yang menaungi kampus.
" Matur nuwun untuk informasinya. Saya teruskan ke Yayasan njih . Pembelian properti di luar kewenangan rektor," kata Fathul kepada wartawan.
Rumah warisan Sardjito ini berada di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Sebelumnya, pihak ahli waris dan kerabat disebut telah sepakat untuk melepas ini dengan alasan untuk perawatan dan pelestarian bangunan yang lebih memadai.
Kerabat Sardjito, Budhi Susanto (70) yang kini menghuni rumah itu menuturkan dirinya telah menawarkan bangunan serta lahan warisan ke 10 pihak. Dua di antaranya adalah UGM dan UII.
Dari semua pihak itu, Budhi mengatakan pihaknya paling berharap UGM atau UII bersedia membeli rumah tersebut.
Ia membayangkan rumah itu kelak menjadi museum Sardjito, atau bahkan kembali difungsikan sebagai rumah dinas rektor.
Sardjito sendiri selain dikenal sebagai pahlawan nasional RI, juga adalah rektor pertama UGM dan rektor ketiga UII.
"Paling mulia rumah ini dipakai hunian pribadi atau dibeli UGM atau UII dipakai rumah sejarah. Kalau UGM jelas bisa dipakai rumah dinasnya antar Rektor, kalau UII nanti terserah apa wong dulu Pak Sardjito jadi Rektor UII ya kan," harapnya.
Budhi enggan menyebut harga pasti rumah tersebut.
"Ya M (miliar) lah," ucap Budhi.
Dengan lokasi strategis di pusat kota, ia yakin rumah itu tetap memiliki banyak peminat. Namun ada satu hal yang ingin benar-benar ia hindari: rumah itu berubah menjadi kafe seperti bangunan-bangunan di sekitarnya.
"Ya tentunya (setelah pindah tangan) direnovasi dengan baik ya. Atau dipakai Museum Profesor dr. Sardjito ya. Atau dipakai rumah bakti sosial semacam Puskesmas. Jadi tiga-tiganya tuh rohnya Pak Sardjito semua," katanya.
Berita terkait

Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, menghormati perjuangan buruh. Museum ini akan dikelola keluarga Marsinah.

Prabowo Soroti Dugaan Kolusi Aparat dalam Kasus Marsinah
Pembunuhan Marsinah adalah pelanggaran berat HAM yang belum diusut tuntas hingga saat ini.

Prabowo Laporkan Harta Rp2,06 Triliun di LHKPN Terbaru
Presiden RI, Prabowo Subianto, melaporkan total kekayaan sebesar Rp2.066.764.868.191 atau lebih dari Rp2,06 triliun dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara LHKPN terbaru.

Hidayat Nur Wahid Buka Lomba Cerdas Cermat MPR di Kalbar
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid membuka Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR 2026 di Kalimantan Barat.

FOTO: Langkah dan Pesan Damai 57 Biksu Lintas Negara Menyisir Jawa
57 biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia berjalan lebih dari 600 kilometer dari Bali menuju Borobudur.

FOTO: Melihat Museum Marsinah di Nganjuk
Jejak Marsinah kini diabadikan di museum yang menampilkan perjalanan hidup serta kiprahnya sebagai aktivis buruh. Marsinah bergelar Pahlawan Nasional.