Live|
Kompas.comVersi JafmoNewsPositif13 Mei 2026 pukul 21.00

Indonesia Dorong Penguatan Industri Satelit Asia Pasifik

Indonesia membidik pasar industri satelit di Asia Pasifik, arah ke sana segera dibentuk oleh pemerintah.

Indonesia Dorong Penguatan Industri Satelit Asia Pasifik

Indonesia melihat peluang besar untuk memperkuat posisi di industri satelit kawasan Asia Pasifik seiring meningkatnya kebutuhan layanan konektivitas internet. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, Ismail, menyebut ekosistem satelit di kawasan itu tengah tumbuh pesat dan dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mengambil peran lebih besar di pasar regional.

Pernyataan itu disampaikan Ismail dalam Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ia menegaskan bahwa pembangunan layanan satelit tidak hanya berkaitan dengan penyediaan koneksi, tetapi juga dengan pemerataan akses agar seluruh masyarakat dapat terhubung secepat mungkin. Menurut dia, aspek inklusivitas menjadi bagian penting dari pengembangan satelit di Indonesia.

Dalam forum tersebut, Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, dan mitra internasional untuk membahas peluang Indonesia menguasai pasar satelit Asia Pasifik. Ketua Umum ASSI periode 2026–2029, Risdianto Yuli, menilai satelit memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan layanan digital nasional. Ia menambahkan, jika fondasi industri dalam negeri semakin kuat, peluang untuk berekspansi ke pasar internasional juga terbuka lebih lebar.

Risdianto menekankan bahwa industri satelit terus berkembang mengikuti kebutuhan konektivitas yang makin beragam. Saat ini, satelit bukan hanya pelengkap infrastruktur darat, tetapi juga penopang ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional. Namun, ia menilai pekerjaan rumah terbesar Indonesia adalah menyatukan industri, riset, talenta, dan kebijakan dalam satu strategi yang berkelanjutan agar ekosistem satelit memberi dampak maksimal.

Dari sisi kemampuan nasional, Indonesia disebut sudah pernah membuktikan kapasitasnya melalui satelit LAPAN-A1 atau LAPAN-Tubsat. Berdasarkan keterangan BRIN, satelit generasi pertama itu diproduksi oleh LAPAN bersama Universitas Teknik Berlin dengan desain DLR-TUBSAT. Satelit berbobot 57 kilogram tersebut diluncurkan dari Sriharikota, India, pada 10 Januari 2007 dan masih mengorbit hingga kini, meski sebagian muatannya tidak lagi bekerja optimal. Keberadaan LAPAN-A1 menjadi penanda bahwa Indonesia memiliki modal awal untuk mengembangkan industri satelit secara lebih maju.

Sudut pandang lain

Peluang Indonesia di industri satelit tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada konsistensi kebijakan, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Di kawasan Asia Pasifik yang kompetitif, negara yang mampu menggabungkan riset, manufaktur, dan pasar domestik akan lebih siap menjadi pemain regional.

Dari sisi ekonomi digital, penguatan satelit juga dapat membantu pemerataan akses internet di wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial. Karena itu, pembahasan industri satelit kerap bersinggungan dengan isu ketahanan infrastruktur, inklusi digital, dan kemandirian teknologi nasional.

Lihat versi asli dari sumber

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Ismail, menuturkan Indonesia mampu menguasai pasar industri satelit kawasan Asia Tenggara.

Ekosistem satelit di Asia Pasifik tengah berkembang pesat, layanan akan konektivitas internet masih dibutuhkan.

"Ketika kita membangun layanan satelit, ini bukan hanya soal konektivitas. Kita berbicara tentang inklusivitas, bagaimana seluruh masyarakat dapat terhubung secepat mungkin," ujar Ismail ketika berbicara di Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026, Jakarta, dikutip dari Kontan , Selasa (12/5/2026).

Dalam acara tersebut, Asosiasi Satelit Indonesia ( ASSI ) mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, dan minta internasional, membahas potensi Indonesia menguasai pasar satelit Asia Pasifik.

Ketua Umum ASSI periode 2026–2029, Risdianto Yuli menjelaskan satelit menjamin ketahanan layanan digital nasional.

Bila hal itu terwujud, melebarkan sayap ke internasional sangat mungkin dilakukan.

" Industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, peran satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga turut mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional secara lebih luas," ujar Risdianto.

Justru PR terbesar Indonesia ialah mengintegrasikan industri, riset, talenta, dan kebijakan dalam satu strategi yang berkelanjutan sehingga memberikan dampak positif maksimal bagi ekosistem satelit itu sendiri.

Satelit LAPAN-A1

Mengutip brin.go.id, saat ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah mampu memproduksi sendiri satelit LAPAN-A1/LAPAN-Tubsat.

Bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin, LAPAN-A1 dirancang berdasarkan desain DLR-TUBSAT.

"Satelit LAPAN-A1 yang berbentuk kotak memiliki berat 57 kilogram dan dimensi 45x45x27 sentimeter itu digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di permukaan bumi," jelasn BRIN.

LAPAN-A1 sudah diluncurkan ke orbit bumi pada 10 Januari 2007 silam dari Sriharikota, India.

Awalnya, satelit itu diharapkan beroperasi 2-3 tahun setelah diluncurkan, tapi hingga kini, LAPAN-A1 masih beroperasi.

"Satelit generasi pertama tersebut masih mengorbit dan mampu menerima sinyal dari stasiun bumi, walaupun beberapa muatan sudah tidak bekerja secara optimal," jelasnya.

LAPAN-A1 menjadi bukti Indonesia mampu memproduksi satelit sendiri, menjadi tonggak industri luar angkasa dalam negeri berkembang lebih jauh.

Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Industri Satelit Indonesia Berpeluang Besar Menguasai Pasar Asia Pasifik"

Dirangkum dari Kompas.com · oleh Kompas Cyber Media

Berita terkait