Live|
Antara NewsVersi JafmoNewsNetral12 Mei 2026 pukul 09.23

Kementan prioritaskan peternak rakyat dalam industri ayam

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan peternak rakyat menjadi prioritas utama dalam pengembangan industri perunggasan nasional guna menjaga ...

Kementan prioritaskan peternak rakyat dalam industri ayam

Kementerian Pertanian menegaskan bahwa peternak rakyat menjadi prioritas utama dalam pengembangan industri perunggasan nasional. Pemerintah ingin memastikan setiap investasi di sektor ayam benar-benar memberi manfaat bagi peternak domestik, memperkuat produksi dalam negeri, membuka lapangan kerja, dan menjaga ketahanan pangan.

Penegasan itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, di Jakarta, Selasa, di tengah dinamika industri perunggasan yang masih diwarnai fluktuasi harga serta perhatian publik terhadap rencana investasi baru. Menurut dia, penguatan ekosistem nasional menjadi kunci agar industri unggas tetap sehat, kompetitif, dan tidak meninggalkan peternak rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung produksi pangan.

Agung menjelaskan, pembangunan subsektor peternakan harus dilakukan secara terukur melalui kemitraan nasional yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, dan BUMN sektor pangan. Arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menurut dia sangat jelas: investasi harus memberi ruang tumbuh bagi pelaku lokal dan tidak membuat peternak tersisih di negaranya sendiri.

Kementan saat ini juga memperkuat model hilirisasi ayam terintegrasi berbasis kemitraan nasional, mulai dari pembibitan, pakan, pengolahan, distribusi, hingga penyerapan produk protein hewani. Dalam skema itu, peternak rakyat ditempatkan sebagai bagian utama rantai produksi, sementara BUMN pangan didorong berperan dalam penyerapan hasil panen, stabilisasi harga, dan kelancaran distribusi.

Pemerintah menilai fokus penguatan ekosistem ini semakin penting karena produksi telur nasional sedang surplus. Dengan kondisi tersebut, tantangan utama sektor perunggasan bukan lagi menambah produksi, melainkan memperkuat pasar, distribusi, serta perlindungan terhadap peternak rakyat agar industri tetap seimbang dan berdaya saing. Kementan menegaskan kebijakan ke depan akan diarahkan pada peningkatan produksi dalam negeri, hilirisasi, kemitraan usaha, dan perlindungan peternak rakyat.

Pandangan serupa datang dari ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance, Tauhid Ahmad, yang menilai penguatan industri unggas nasional penting untuk menjaga ketahanan pangan dan mendukung program makan bergizi gratis. Sementara itu, Guru Besar Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Gadjah Mada, Budi Guntoro, menilai kondisi surplus telur menunjukkan persoalan utama ada pada ketimpangan pasar dan lemahnya posisi tawar peternak, sehingga koperasi dan kemitraan nasional perlu diperkuat, bukan memberi ruang dominasi modal besar.

Sudut pandang lain

Kebijakan yang memprioritaskan peternak rakyat menunjukkan upaya pemerintah menjaga agar investasi tidak hanya memperbesar kapasitas produksi, tetapi juga membangun pemerataan manfaat ekonomi di tingkat daerah. Dalam sektor pangan, pendekatan ini penting karena rantai pasok unggas menyangkut banyak pelaku kecil yang rentan terhadap tekanan harga dan distribusi.

Di sisi lain, surplus produksi telur menandakan bahwa persoalan utama industri bukan sekadar menambah output, melainkan membenahi tata niaga, serapan pasar, dan posisi tawar peternak. Jika kemitraan nasional berjalan efektif, industri perunggasan berpeluang lebih stabil sekaligus mendukung program pangan bergizi tanpa meningkatkan ketergantungan pada impor atau modal luar.

Lihat versi asli dari sumber

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan peternak rakyat menjadi prioritas utama dalam pengembangan industri perunggasan nasional guna menjaga keberlanjutan dan kesejahteraan peternak domestik.

"Pemerintah memastikan investasi perunggasan harus memberikan manfaat nyata bagi peternak dalam negeri, memperkuat produksi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ketahanan pangan," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Penegasan tersebut disampaikan di tengah dinamika industri perunggasan nasional, mulai dari fluktuasi harga hingga meningkatnya perhatian publik terhadap rencana investasi di sektor unggas.

Pemerintah menilai penguatan ekosistem nasional menjadi langkah penting agar industri perunggasan Indonesia tetap sehat, berdaya saing, dan tidak meninggalkan peternak rakyat sebagai tulang punggung produksi pangan nasional.

Ia mengatakan pembangunan subsektor peternakan harus dilakukan secara terukur melalui penguatan kemitraan nasional yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, dan BUMN sektor pangan.

"Ekosistem perunggasan nasional harus dibangun secara berkeadilan. Arahan Menteri Pertanian jelas, penguatan dilakukan melalui ekosistem nasional yang melibatkan BUMN, peternak rakyat, koperasi, dan mitra lokal," tutur Agung.

Menurutnya, pemerintah membuka ruang investasi, namun investasi tersebut harus memperkuat struktur industri nasional dari hulu hingga hilir dan tetap mengutamakan kepentingan peternak dalam negeri.

"Kita ingin industri ini tumbuh sehat. Karena itu pemerintah mendorong model kemitraan yang melibatkan pelaku lokal, peternak rakyat, dan BUMN sebagai bagian dari penguatan rantai pasok nasional," katanya.

Ia menegaskan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sangat jelas, yakni investasi tidak boleh membuat peternak rakyat tersisih di negaranya sendiri.

"Menteri Pertanian sudah berkali-kali mengingatkan bahwa investasi harus melibatkan mitra lokal. Investasi harus memberikan ruang tumbuh bagi peternak nasional, bukan justru memperlebar ketimpangan di dalam negeri," jelas Agung.

Saat ini, Kementerian Pertanian terus memperkuat model hilirisasi ayam terintegrasi (HAT) berbasis kemitraan nasional, mulai dari pembibitan, pakan, pengolahan, distribusi, hingga penyerapan produk pangan protein hewani.

Dalam skema tersebut, peternak rakyat ditempatkan sebagai bagian utama dalam rantai produksi nasional.

Pemerintah juga memperkuat peran BUMN sektor pangan dalam penyerapan hasil produksi peternak, stabilisasi harga, dan penguatan distribusi agar industri perunggasan nasional berjalan lebih sehat dan seimbang.

"Kita ingin investasi yang menciptakan lapangan kerja, memperkuat produksi nasional, dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Itu prinsip utamanya," ujarnya.

Penguatan ekosistem nasional dinilai penting karena kondisi produksi telur nasional saat ini berada dalam kondisi surplus. Karena itu, tantangan utama industri perunggasan bukan lagi pada peningkatan produksi, melainkan memperkuat pasar, distribusi, dan perlindungan terhadap peternak rakyat.

Kementerian Pertanian memastikan penguatan ekosistem perunggasan nasional akan terus diarahkan pada peningkatan produksi dalam negeri, hilirisasi, penguatan kemitraan usaha, dan perlindungan peternak rakyat agar subsektor peternakan nasional semakin kuat, modern, dan berdaya saing.

Sementara itu, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai langkah tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan industri unggas nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan dalam negeri.

Tauhid mengatakan pemerintah dan dunia usaha perlu memprioritaskan penguatan industri peternakan unggas nasional untuk mendukung berbagai program strategis, termasuk pemenuhan rantai pasok program makan bergizi gratis (MBG), baik untuk kebutuhan telur, daging ayam, maupun produk protein hewani lainnya.

"Saya kira industri dalam negeri dan peternak mandiri sebenarnya mampu menjalankan hal tersebut tanpa harus bergantung pada kerja sama dengan pihak luar negeri," ujar Tauhid.

Menurutnya, apabila peluang besar tersebut justru diberikan kepada investor asing pada sektor yang sebenarnya mampu dikerjakan industri nasional, maka potensi nilai tambah ekonomi domestik akan banyak keluar ke luar negeri.

Tauhid juga mengingatkan ketergantungan terhadap pihak luar berpotensi meningkatkan arus impor dan memberi tekanan terhadap perekonomian nasional.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Gadjah Mada Budi Guntoro menilai penguatan peternakan rakyat harus menjadi prioritas utama di tengah kondisi produksi telur nasional yang saat ini mengalami surplus.

"Artinya, Indonesia tidak sedang kekurangan telur, melainkan menghadapi surplus yang bersifat struktural," katanya.

Menurut Budi, persoalan utama subsektor ayam petelur saat ini bukan kekurangan produksi, melainkan ketimpangan pasar dan lemahnya posisi tawar peternak rakyat.

Ia menilai penguatan koperasi peternak, distribusi, dan kemitraan nasional menjadi langkah yang lebih tepat untuk memperkuat peternak rakyat sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

"Dalam kondisi surplus seperti saat ini, langkah yang lebih tepat adalah memperkuat peternakan rakyat, bukan membuka ruang dominasi bagi modal besar, termasuk asing," ujar Budi.

Pewarta: Muhammad Harianto Editor: Kelik Dewanto Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Dirangkum dari Antara News · oleh https://www.facebook.com/antaranewsdotcom

Berita terkait